PREMIER League kembali menegaskan statusnya sebagai liga terkaya di dunia. Bursa transfer musim panas 2025 resmi ditutup dengan catatan luar biasa dimana klub-klub Inggris menggelontorkan dana lebih dari 3 miliar poundsterling, angka tertinggi sepanjang sejarah.
Rekor ini melampaui catatan sebelumnya pada 2023 yang hanya mencapai 2,36 miliar pound. Dengan pencapaian terbaru tersebut, Premier League semakin meninggalkan liga top Eropa lainnya seperti Serie A dan La Liga dalam urusan belanja pemain.
Liverpool menjadi aktor utama dalam pecahnya rekor fantastis ini. The Reds mendatangkan Florian Wirtz dari Bayer Leverkusen dengan biaya 116 juta pound, yang sempat menjadikannya pemain termahal dalam sejarah Premier League.
Namun, status itu hanya bertahan sebentar. Masih di jendela transfer yang sama, Liverpool kembali mengguncang pasar dengan merekrut Alexander Isak dari Newcastle United. Striker asal Swedia tersebut ditebus seharga 130 juta pound, sekaligus menyalip rekor Wirtz hanya dalam hitungan pekan.
Kejutan tidak berhenti di Anfield saja. Manchester United turut memperkuat skuad dengan mendatangkan kiper muda asal Belgia berusia 23 tahun, seharga 18,1 juta pound. Transfer ini menjadi salah satu langkah strategis Setan Merah dalam membangun masa depan tim.
Sementara itu, Tottenham Hotspur juga ikut meramaikan drama detik-detik penutupan bursa. Spurs sukses merekrut Randal Kolo Muani dengan status pinjaman seharga 78 juta pound, meski sebelumnya sang striker sempat dikaitkan dengan Juventus.
Tidak hanya itu, Spurs juga mengamankan tanda tangan Xavi Simons dengan banderol 51,8 juta pound, menegaskan keseriusan mereka untuk kembali bersaing di papan atas.
Gelontoran dana besar-besaran ini bukan sekadar rekor finansial baru, tetapi juga cerminan ambisi klub-klub Premier League. Persaingan musim 2025/2026 dipastikan bakal semakin sengit, dengan para pemain top dunia siap menampilkan aksi terbaik mereka di panggung liga paling bergengsi ini.
Premier League pun sekali lagi membuktikan diri sebagai magnet utama sepak bola dunia—bukan hanya karena kualitas pertandingannya, tetapi juga karena kekuatan finansial yang sulit ditandingi. (*/rom)






