JUARA bertahan Manchester City kembali menelan kekalahan mengejutkan pada pekan ketiga Premier League 2025/2026. Bertandang ke markas Brighton di Amex Stadium, Minggu (31/8), The Citizens dipaksa pulang dengan tangan hampa usai kalah 2-1.
Padahal, City sempat unggul lebih dulu lewat gol Erling Haaland di menit ke-27. Gol itu terasa spesial karena menjadi penampilan ke-100 sang bomber asal Norwegia di Premier League. Haaland kini sudah mengoleksi 88 gol liga sejak bergabung dengan Manchester City, menegaskan statusnya sebagai predator berbahaya di depan gawang lawan.
Dominasi City begitu terlihat sepanjang babak pertama hingga menit ke-60. Kevin De Bruyne dan kawan-kawan menguasai permainan, sementara Brighton kesulitan keluar dari tekanan. Namun, perubahan drastis terjadi setelah pelatih Brighton, Fabian Hurzeler, membuat keputusan berani dengan memasukkan empat pemain sekaligus: James Milner, Brajan Gruda, Georginio Rutter, dan Yasin Ayari.
Pergantian itu menjadi titik balik laga. Brighton tampil lebih segar, agresif, dan percaya diri. Pada menit ke-67, James Milner yang baru masuk lapangan sukses mengeksekusi penalti dengan tenang, menyamakan kedudukan menjadi 1-1.
City semakin tertekan memasuki menit-menit akhir. Brighton memanfaatkan momentum dengan sempurna. Menit ke-89, Brajan Gruda mencatatkan namanya di papan skor setelah menerima umpan matang dari Kaoru Mitoma. Gol telat itu memastikan Brighton meraih kemenangan dramatis 2-1 di depan pendukungnya sendiri.
Pep Guardiola tak bisa menyembunyikan kekecewaannya seusai laga. “Kami kebobolan gol dan setelah itu momentumnya berubah. Kami bermain bagus selama satu jam, lalu setelah setengah jam terakhir, performa kami menurun. Kami lupa mengoper bola, hanya memainkan bola panjang, dan permainan kami kurang bagus,” ujarnya kepada Sky Sports.
Hasil ini membuat Manchester City tercecer di peringkat 13 klasemen sementara dengan hanya 3 poin dari tiga laga. Sementara Brighton naik ke posisi 11 dengan koleksi 4 poin.
Kekalahan ini menorehkan catatan suram bagi The Citizens. Dua kekalahan dari tiga laga awal menjadi start terburuk mereka sejak musim 2004/2005, ketika City yang kala itu masih bermarkas di City of Manchester Stadium (sebelum berganti nama Etihad) finis di peringkat 8.
Bagi Pep Guardiola, ini juga merupakan awal musim terburuk sepanjang karier kepelatihannya. Sejak menukangi tim utama pada musim 2008/2009 bersama Barcelona, Guardiola belum pernah menelan dua kekalahan dari tiga pertandingan pertama liga. Meski demikian, sejarah mencatat bahwa di musim “terburuknya” bersama Barca, ia tetap mampu membawa Blaugrana menjuarai La Liga.
Kini, publik menanti apakah Guardiola kembali bisa membalikkan situasi seperti yang dilakukannya di masa lalu, atau justru City benar-benar menghadapi musim yang lebih sulit dari perkiraan. (*/rom)






