MANCHESTER United memasuki babak baru di bawah arahan pelatih asal Portugal, Ruben Amorim. Manajer muda itu membawa visi segar: membentuk tim yang solid, bebas dari drama, dan berorientasi pada kolektivitas ketimbang kultus individu.
Sejak ditunjuk menggantikan Erik ten Hag, Amorim menegaskan bahwa fondasi kesuksesan harus dimulai dari ruang ganti yang sehat. Ia ingin menjauhkan United dari bayang-bayang konflik internal yang kerap menghantui dalam beberapa musim terakhir.
“Pemain yang kemungkinan besar akan hengkang saat ini tidak lagi terlibat dengan tim utama. Jadi, kepergian mereka tidak akan banyak mengganggu rencana yang sudah kami bangun,” ujar Amorim dalam salah satu wawancaranya.
Langkah pertamanya adalah menata ulang komposisi skuad. Amorim berani mengambil keputusan besar dengan melepas beberapa nama penting yang dinilai membawa lebih banyak masalah daripada solusi. Marcus Rashford dan Antony termasuk di antara mereka yang disebut-sebut masuk daftar keluar.
Keputusan itu menimbulkan kontroversi, namun juga menegaskan filosofi baru: harmoni tim berada di atas segalanya. Amorim ingin memastikan bahwa setiap pemain yang mengenakan seragam merah benar-benar berkomitmen penuh pada kolektivitas.
Untuk menambal lini serang, United mendatangkan tiga penyerang baru: Mateos Gunga, Brian Ambemu, dan Benyamin Cesco. Trio ini diharapkan memberi warna berbeda pada permainan ofensif yang musim lalu terbilang tumpul.
Di balik keberanian itu, Amorim juga mendapatkan dukungan dari para legenda klub. Rio Ferdinand, misalnya, memuji pendekatan taktis dan mentalitas yang coba ditanamkan sang pelatih. Ia percaya, United sedang membangun fondasi menuju era kejayaan baru.
Namun, awal perjalanan Amorim tidak berjalan mulus. Dalam laga pembuka Liga Inggris musim 2025/26, Manchester United harus menelan kekalahan dari Arsenal. Hasil itu menjadi tamparan sekaligus pengingat bahwa perubahan tidak bisa instan.
Kekalahan dari The Gunners menyoroti kelemahan klasik United: lini pertahanan yang rapuh dan lini depan yang belum cukup tajam. Meski demikian, Amorim tetap optimis karena melihat adanya perkembangan dalam aspek permainan.
Statistik menunjukkan peningkatan signifikan dalam penguasaan bola dan keberanian mengambil inisiatif menyerang. United lebih tenang dalam membongkar pertahanan lawan, serta lebih disiplin dalam fase transisi.
“Tim sudah berkembang dalam hal membongkar pertahanan lawan. Dengan karakteristik pemain yang berbeda, kami punya lebih banyak opsi dalam menyerang,” jelas Amorim usai pertandingan.
Satu hal lain yang ia soroti adalah menurunnya jumlah kehilangan bola di fase build-up. Hal ini menandakan bahwa instruksi taktiknya mulai dipahami para pemain.
Filosofi Amorim memang membutuhkan waktu. Fokus pada etos kerja, disiplin, dan kesolidan tim perlahan akan mengubah wajah United. Meski jalan masih panjang, atmosfer positif mulai terasa di dalam skuad.
Bagi fans Setan Merah, mungkin kesabaran kembali diuji. Tapi jika arah perubahan ini konsisten, United berpotensi kembali menjadi kekuatan yang ditakuti, bukan hanya di Inggris, tetapi juga di Eropa.
Era Ruben Amorim baru saja dimulai. Apakah Manchester United siap bangkit dari keterpurukan panjangnya? Jawabannya akan mulai terungkap di laga-laga berikutnya. (*/rom)






