METRO SUMBAR

Ponpes Darut Thalib Tolak Paham Radikalisme dan Ujaran Kebencian

0
×

Ponpes Darut Thalib Tolak Paham Radikalisme dan Ujaran Kebencian

Sebarkan artikel ini
SILATURAHMI— Pimpinan Ponpes Darut Thalib, Boby Gustiadi Thalib Bu’ulolo bersama perwakilan Polda Sumbar.

SOLOK, METRO–Polda Sumbar melalui Direktorat Intelijen dan Kemanan (Ditintelkam) ber­silaturahmi dengan para santri dan tenaga pendidik di Pondok Pesan­tren Darut Thalib yang terletak di Kelurahan Laiang, Kecamatan Tanjung Harapan, Kota Solok. Silaturahmi itu merupakan salah satu upaya untuk membangun sinergisitas antara Kepolisian, khususnya Polda Sumbar untuk menciptakan situasi Kamtibmas di wilayah Sumbar agar tetap kondusif.

Pada kesempatan itu, Polda Sumbar juga sekaligus menyampaikan pesan-pesan Kamtibmas dan mengajak para santri dan tenaga pendidik untuk bersama-sama menangkal paham radikalisme, berita hoax dan ujaran kebencian. “Kegiatan ini merupakan kegiatan menyambangi dan bersilaturahmi kepada pimpinan Pondok Pesan­tren beserta para ustad dan para santri. Kegiatan ini sekaligus memperkuat kemitraan untuk menciptakan situasi Kamtibmas,” ungkap salah seorang perwakilan dari Polda Sumbar.

Sementara itu, Pimpinan Ponpes Darut Thalib, Boby Gustiadi Thalib Bu’ulolo mengaku senang dengan kehadiran tim dari Polda Sumbar untuk me­ngedukasi para santri dan tenaga pendidik soal maraknya paham-paham ra­dikalisme, hoax hingga ujaran kebencian, yang bisa memecah belah umat. “Kami menghimbau ma­syarakat agar mewujudkan persatuan dan kedamaian dalam kehidupan sehari-hari tanpa ada saling hujat, ujaran kebencian, juga be­rita hoaks,” kata Ustaz Boby, Rabu (23/7).

Selain itu, kata Ustaz Boby, pihaknya selalu me­ngajarkan para santri untuk bersikap tawasuth, yakni sikap moderat tidak ekstrem dan tegak lurus tanpa berpihak ke kanan atau kiri.

“Sikap ini mengutamakan toleransi, saling menghargai pendapat. Selain itu, kami juga mengarahkan para santri agar menjadi duta rahmat dengan menyebar kasih sayang dan kebaikan. Bukan menjadi duta laknat, yang suka laknat orang sana-sini,” katanya.

Menurutnya, agama sebagai keyakinan dan kepercayaan umat beragama, menjadikan itu sebagai sumber tertinggi dalam diri setiap manusia. Sikap kebaikan dan kebijaksanaan akan terpancar pada setiap aktivitas keseharian. “Namun di era di­gitalisasi sekarang ini, nilai-nilai agama sudah memudar dan tidak terpancar dalam setiap interaksi yang berlangsung. Maka dari itu, menjalankan esensi agama sesuai dengan mestinya perlu diperbaharui kembali,” ujarnya.

Di tengah banyaknya berbagai macam aliran keras, radikal, yang tidak mengutamakan persatuan, ditegaskan Ustaz Boby, maka moderasi beragama merupakan jawaban dari itu semua. “Moderasi beragama adalah cara pandang, sikap, dan praktik beragama dalam kehidupan bersama dengan cara mengejawantahkan esensi ajaran agama yang melindungi martabat kemanusiaan dan membangun kemaslahatan berlandaskan prinsip adil, berimbang, dan menaati konstitusi sebagai kesepakatan bernegara,” katanya.

Semestinya kebera­daan Ponpes, kata Ustaz Boby, harus menjadi wadah untuk pengkaderan orang-orang yang akan berada di tengah-tengah ma­sya­ra­kat dan menyebarkan mo­derasi beragama wabil khusus Islam yang Rahmatan Lil Alamin. “Era tek­nologi informasi yang meng­hadirkan segala kecepatan banyak sekali ber­tebaran informasi di te­ngah-tengah masyarakat, baik itu benar ataupun salah. Maka sebagian daripada umat hari ini banyak yang gampang terpancing emosinya saja teradu domba dengan berita palsu atau bohong (hoaks), sehingga terjadi perpecahan di tengah masya­ra­kat,” tuturnya. (rgr)