METRO PESISIR

Musik Tradisional Katumbak Anak Abak Meriahkan Hoyak Tabuik Piaman 2025

0
×

Musik Tradisional Katumbak Anak Abak Meriahkan Hoyak Tabuik Piaman 2025

Sebarkan artikel ini
WAWANCARA—Firman (56) Owner Katumbak Anak Abak, Firman, saat diwawancara para wartawan.

PARIAMAN, METRO–Musik kesenian tradisional Pariaman katumbak anak abak ikut memeriahkan acara puncak festival pesona budaya hoyak tabuik Piaman tahun 2025, Minggu kemarin. Firman (56) owner katumbak anak abak menyampaikan rasa terimakasih kepada Pemerintah Kota Pariaman atas kesempatan yang diberikan untuk mengisi acara puncak festival pesona budaya hoyak tabuik Piaman tahun 2025.

“Ucapan terimakasih dan apresiasi kami kepada Pemko Pariaman yang telah me­ngun­d­ang kami dan telah me­ng­angkat kesenian tradisional Pariaman ini ,” ujarnya, kemarin.

Dikatakannya, ini menjadi momen terpenting bagi ia dan rekan-rekan grupnya bisa tampil dihadapan ratusan ribu pengunjung yang hadir.

Perdana tampil di acara sebesar ini, kami menampilkan tembang-tembang Minang seperti lagu Piaman Laweh, Piaman tadanga langang dan lagu-lagu indang Piaman.

Harapan kami kedepannya pemerintah dapat melibatkan seniman Katumbak dalam setiap event pariwisata. “Sehingga diharapkan kesenian tradisional khas Pariaman ini dapat terus dilestarikan dan tidak hilang tergerus zaman ,” ujarnya.

Grup Katumbak Anak Abak ini terbilang baru berusia setahun jagung yakni sekitar 3 tahun berjalan dimana personilnya merupakan warga Desa Sikapak Barat, Kecamatan Pariaman Utara Kota Pariaman. Firman menyebutkan kenapa grup nya dinamakan Katumbak Anak Abak, karena ia merupakan anak kesayangan dari ayahnya.

Katumbak adalah salah satu kesenian tradisional yang berasal dari daerah Pariaman dan Kabupaten Pa­dang Pariaman, Sumatra Barat. Indonesia. Kesenian ini menggabungkan seni musik dan tari yang dipadukan dengan lagu serta lirik khas daerah Pariaman yang penuh dengan makna.

Pada saat sekarang ini Katumbak telah menjadi Wa­risan Budaya Tak Benda Indo­nesia (WBTBI) yang ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdik­bud­ris­tek) Republik Indonesia melalui Dirjen Kebudayaan pada tahun 2024.

Penamaan katumbak sen­diri berawal dari peniruan bunyi yang dihasilkan dari suara gendang yang berbunyi “tum bak, tum bak”, sehingga pada akhirnya masya­ra­kat menyebutnya dengan nama katumbak atau bakatumbak.

Iring-iringan musik yang dihasilkan dari katumbak tersebut biasa digunakan oleh masyarakat Pariaman dan Padang Pariaman untuk mengiringi rombongan pengantin pria menuju rumah pengantin wanita pada suatu upacara penikahan. Alat mu­sik atau instrumen yang digunakan dalam pertunjukan musik katumbak meliputi diantaranya rabunian (harmonium), gandang katumbak, mambo (gendang berbentuk tabung kerucut), dan giriang-giriang (tambourin), yang dimainkan untuk mengiringi vokal serta gerakan tari.(efa)