METRO PADANG

Menjawab Tantangan Progul Padang Rancak, PT Semen Padang Usung Kaliandra dan Maggot

0
×

Menjawab Tantangan Progul Padang Rancak, PT Semen Padang Usung Kaliandra dan Maggot

Sebarkan artikel ini
KOLABORASI— Kepala Unit CSR PT Semen Padang Ilham Akbar saat memaparkan dua program unggulan berbasis pemberdayaan masyarakat: budidaya kaliandra dan pengelolaan sampah berbasis maggot, saat diskusi hangat dengan Wawako Padang Maigus Nasir, di rumah dinas wawako, di jalan Ahmad Yani.

A.YANI, METRO–Malam itu, suasana di Rumah Dinas Wakil Wali Kota Padang terasa berbeda. Di balik obrolan hangat yang bergulir, manajemen PT Semen Padang memaparkan sebuah tawaran kolaborasi. Kepala Unit CSR PT Semen Padang, Ilham Akbar, memperkenalkan dua program unggulan berbasis pemberdayaan masyarakat: budidaya kaliandra dan pengelolaan sampah berbasis maggot.

Ide yang sederhana, namun sarat potensi. Program ini tak sekadar bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan (TJSL), tapi juga sebuah peta jalan menuju kota yang bersih, mandiri, dan berdaya saing. Semuanya selaras dengan visi besar Pemerintah Kota Padang: Padang Rancak.

Wakil Wali Kota Pa­dang, Maigus Nasir, langsung menangkap peluang besar dari budidaya kaliandra. Menurutnya, Pemko Padang memiliki banyak lahan tidur di 11 kecamatan yang bisa dimanfaatkan.

“Kaliandra bukan sekadar pohon. Dalam setahun bisa dipanen, menghasilkan kayu berkualitas eko­no­mi tinggi. Sekaligus meng­­hijaukan kota, me­ng­ge­rakkan ekonomi, dan melibatkan masyarakat. Ini model ekonomi sirkular yang sangat menarik,” kata Maigus.

Bahkan, lahan-lahan pribadi dan tanah ulayat yang selama ini terbeng­kalai pun dinilai potensial untuk digarap. “Menanam kaliandra berarti menanam harapan baru untuk kesejahteraan masya­ra­kat,” ujar mantan Anggota DPRD Sumbar itu.

Maggot: Sampah Beru­bah Jadi Cuan

Tak hanya fokus pada penghijauan, PT Semen Pa­dang yang juga bagian dari SIG menawarkan solusi konkret mengatasi masalah klasik perkotaan: sampah. Selama ini, volume sampah Kota Padang terus mening­kat sementara daya tam­­pung TPA kian terbatas. Di sinilah maggot alias larva Black Soldier Fly (BSF) masuk sebagai solusi.

Limbah organik rumah tangga yang biasanya me­nim­bulkan bau, bisa diolah menjadi pakan maggot ber­­nilai ekonomi. Limbah bekas maggot (kasgot) pun berguna sebagai pupuk pertanian. Bahkan, sampah anorganik terpilah yang dicacah dapat dijual ke PT Semen Padang sebagai bahan bakar alternatif peng­ganti batubara.

Baca Juga  Lubang Misterius Diduga Tempat Persembunyian

“Program maggot ini luar biasa. Bukan hanya mengatasi persoalan ling­kungan, tapi juga membuka peluang usaha baru. Sam­pah yang semula men­jadi masalah, kini bisa men­jadi sumber energi dan penghasilan,” ujar Maigus optimistis.

Untuk mendukung program ini, Pemko Padang menargetkan pada 2026 seluruh kecamatan memiliki minimal satu bank sampah dengan fasilitas mesin pencacah. “Ini bukan pro­yek jangka pendek, tapi investasi jangka panjang untuk kebersihan dan kesejahteraan warga Padang,” tegasnya.

Lebih jauh, Maigus menilai sinergi pemerintah dan industri ini sebagai bagian dari transformasi menuju Padang Rancak: kota bersih, mandiri energi, dan makmur secara ekonomi. “Kami ingin Pa­dang tak sekadar bersih dipandang, tapi punya da­ya saing kuat,” ujarnya.

Menggerakkan Eko­nomi Melalui Koperasi Desa Merah Putih

Dukungan penguatan ekonomi masyarakat juga mengemuka. Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kota Padang, Fauzan Ibnovi, melihat peluang besar untuk Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Menurutnya, bisnis maggot, pengolahan sampah, hingga budidaya kaliandra memiliki model bisnis yang jelas dan pasar yang tersedia.

“Sinergi semacam ini­lah contoh ideal antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat. Koperasi bisa jadi motor penggerak agar manfaat ekonominya langsung dirasakan warga,” kata Fauzan.

PT Semen Padang sen­diri siap menjadi pembeli utama hasil panen kaliandra yang diproyeksikan sebagai bahan bakar alternatif pabrik semen. “Kami siap menjadi offtaker. Kayu hasil panen akan kami se­rap untuk kebutuhan energi di pabrik,” jelas Ilham Akbar.

Baca Juga  Peringatan HUT SLB Negeri 2 Padang ke-25, “Siap Lahirkan Anak Berkebutuhan Khusus yang Berprestasi”

Selain itu, budidaya maggot juga sudah diujicoba sebagai pakan alternatif ikan nila. Hasilnya? Pertumbuhan ikan dengan pakan maggot tak kalah dari pakan komersial, sementara biayanya jauh lebih murah. “Masalah utama budidaya ikan itu harga pakan yang mahal. Maggot ini solusinya, ada multiplier effect dari sampah yang diolah,” tambah Ilham.

Program TJSL: Dari Beasiswa hingga Revitalisasi Komunitas

Selain program kaliandra dan maggot, PT Semen Padang juga memaparkan sejumlah program tanggung jawab sosial lainnya. Di antaranya Program Bea­­siswa Anak Nagari (Bang­sa) hasil kerja sama dengan Politeknik Negeri Padang (PNP), yang memberikan beasiswa penuh kepada 25 anak dari lingkungan sekitar perusahaan.

Program lainnya mencakup Penguatan Guru MDA/MDTA, Pengembangan Geosite Gua Kelelawar Padayo, Revitalisasi Budidaya Ikan Gariang, Budidaya Kopi Bantjah, Program Genting (Gerakan Orangtua Asuh Cegah Stun­ting), Program Disabilitas, serta Program Basinergi Mambangun Nagari (BMN) melalui Forum Nagari di Lubuk Kilangan, Lubuk Begalung, Pauh, hingga Teluk Bayur.

Forum Nagari sendiri telah berjalan sejak 2015 dengan tujuan menggerakkan pemberdayaan ma­sya­rakat secara berkelanjutan. “Sejak berdiri, Semen Padang sudah mengalokasikan Rp31,71 miliar untuk mendukung 985 program BMN,” ungkap Ilham.

Hadir dalam paparan ini sejumlah pejabat Pemko Padang, di antaranya Asisten II Sekda Didi Aryadi, Kepala Bappeda Yenni Yuliza, Kepala Dinas Pertanian Yoice Yuliani, Kepala Dinas Sosial Heriza Sya­fani, Kepala Dinas Perikanan Alfiadi, Kepala DLH Fadelan Fitra Masta, serta para camat. (ren/rel)