ALANGLAWEH, METRO– Produk olahan cokelat Kota Padang, Chilli Chocolate Cassava Rochers berhasil menembus pasar internasional. Hal itu dipastikan setelah Lile Chocolate melakukan ekspor pertama mereka ke Singapura, Jumat (20/6).
Owner L’ile Chocolate dan founder PT Sumatera Chocolate Indonesia, Priscilla Raisa Pertana mengatakan bahwa produk olahan cokelat yang diekspor merupakan hasil perpaduan antara cokelat lokal Sumatera Barat dan kripik balado, dua cita rasa khas yang lahir dari tanah Minang.
“Hari ini kami resmi ekspor perdana ke Singapura. Produk ini lahir dari kecintaan pada rasa lokal,” ujarnya di lokasi produksi Lile Chocolate, Jalan Thamrin No.39, Alang Laweh, Padang Selatan, Jumat (20/6).
Selain memproduksi berbagai olahan berbahan dasar cokelat, Lile Chocolate juga mengembangkan museum mini kakao sebagai sarana edukasi bagi wisatawan dan pelajar, memperkuat peran usaha mereka dalam sektor pariwisata edukatif.
“Kami percaya lokalitas adalah kekuatan. Tapi kolaborasi adalah kuncinya. Kami ingin pelaku UMKM lain di Padang saling sinergi, saling dukung,” tambahnya.
Pelepasan ekspor ini turut dihadiri Wali Kota Padang, Fadly Amran. Pada kesempatan itu dia menegaskan bahwa ekspor yang dilakukan bukan sekadar pengiriman barang, tapi perwujudan dari transformasi nyata pelaku usaha kecil yang telah naik kelas.
“Ini bukan hanya ekspor cokelat. Ini adalah ekspor ide, ekspor semangat, dan ekspor karakter UMKM Padang yang tak takut bersaing,” tegas Fadly Amran.
Dia menegaskan bahwa ekspor ini sejalan dengan program unggulan Pemko Padang yaitu UMKM Naik Kelas. Program tersebut bertujuan mendorong pelaku UMKM untuk terus berkembang, dari mikro menjadi kecil, dari kecil ke menengah, dan dari pasar lokal ke pasar ekspor.
“Kami tidak ingin pelaku usaha hanya bertahan. Kami ingin mereka tumbuh. UMKM Naik Kelas bukan slogan, ini kerja nyata: pendampingan, pelatihan, hingga koneksi pasar,” ujarnya.
“Hari ini adalah bukti bahwa UMKM kita bisa naik kelas. Bukan hanya bertahan, tapi berkembang. Kita dorong dari mikro ke kecil, dari kecil ke menengah, dari lokal ke ekspor,” lanjut wako.
Menurut dia, UMKM Naik Kelas sebagai sebuah Progul bukan sekadar wacana, melainkan gerakan kolektif yang dirancang terintegrasi melalui program pembinaan, pendampingan, hingga pembukaan akses pasar dan pembiayaan.
Salah satu turunan konkret dari program UMKM Naik Kelas adalah pendirian Rumah Wirausaha sebagai wadah untuk menyatukan peran Dinas Tenaga Kerja, Dinas Koperasi dan UMKM, Dinas Perindustrian, hingga mentor bisnis profesional untuk mendampingi pelaku usaha dari tahap awal hingga siap ekspor.
“Kami permudah perizinan, hadirkan pelatihan terbaik, dan ajak perbankan untuk ikut membuka akses pembiayaan. Ini ekosistem yang kami bangun agar UMKM tidak jalan sendiri,” ujarnya.
Fadly menekankan pentingnya pendekatan kreatif dan kolaboratif dalam membina pelaku usaha. Ia bahkan mengusulkan agar pendekatan kewirausahaan di Padang dikembangkan layaknya akademi profesional.
“Saya ingin wirausaha ini digarap serius seperti akademi. Ada pembinaan, ada eksposur, ada pengakuan. Dan pelaku usaha seperti Lile Chocolate bisa jadi contoh dan inspiratornya,” pungkasnya.
Wako juga menyebut, keberhasilan Lile Chocolate mengekspor produk cokelat balado ke Singapura menjadi salah satu contoh nyata dari semangat inovasi UMKM Padang. Produk yang menggabungkan rasa khas Minang dengan teknik pengolahan modern itu kini jadi wajah baru UMKM kreatif dari Sumatera Barat.
Dia menekankan bahwa ekspor bukanlah titik akhir, melainkan langkah awal menuju penguatan ekonomi lokal yang berdaya saing tinggi. Ia berharap ke depan semakin banyak pelaku UMKM Kota Padang yang mampu menembus pasar ekspor dengan produk-produk khas daerah.
“Hari ini cokelat, besok bisa rendang instan, teh herbal, atau kerajinan. Asal ada kemauan, kami siap bantu lewat program UMKM Naik Kelas,” pungkas wako. (ren)






