BERITA UTAMA

Jangan Biarkan Senyum Manis Anak Direnggut oleh Gula

0
×

Jangan Biarkan Senyum Manis Anak Direnggut oleh Gula

Sebarkan artikel ini
Retno Putri MAHASISWA Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan, Unversitas Gadjah Mada

Setiap orang tua pasti ingin melihat anaknya tersenyum bahagia. Salah satu sumber kebahagiaan instan anak adalah minuman manis yang mudah didapat dan­ murah. Namun, dibalik rasa­nya yang nikmat, tersembunyi ancaman serius: diabetes tipe 2.

Saat ini, minuman manis yang sering disebut “mi­numan vi­ral­”sudah menjadi bagian dari keseharian anak-anak. Akses yang mudah dan harga yan­g murah menjadikannya konsumsi rutin. Padahal, ini adalah “bi­bit penyakit” yang diam-diam tumbuh dalam tubuh anak.

Dulu diabetes dikenal sebagai penyakit orang tua, tapi kini banyak ditemukan pada anak-anak. Menurut Ketua Unit Kerja Koordinasi Endokrinologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Muhammad Faizi Mengatakan peningkatan kasus diabetes anak sebesar 70% dari 2010 ke 2023. Tahun 2023, prevalensinya mencapai 2 per 100 ribu jiwa angka yang terus meningkat tajam.

Diabetes tipe 2 bukan hanya soal kadar gula tinggi, tapi juga tentang anak-anak yang kehilangan kebebasan. Mereka harus me­nyuntik insulin, cek gula darah berkali-kali, dan hidup dengan ber­bagai Bata­san semua di usia yang se­ha­rus­nya bebas ber­main.

Sebagai orang tua, Anda pu­nya peran pen­ting. Rumah ada­lah benteng per­tama. Jika An­da menyediakan minuman ma­nis di rumah, maka anak akan terbiasa meng­konsumsinya.

Mari mulai langkah nyata: 1. Batasi konsumsi gula maksimal 4 sendok teh per hari (usia 2-6 tahun), 6 sendok teh per hari (usia 7-10), 7 sendok teh (Dewasa), 2. Jadikan air putih minuman utama di rumah. 3. Hindari menyimpan minuman manis, anggap sebagai hadiah sesekali. 4.   Kenali gula tersembunyi dalam label seperti sirup jagung, dekstrosa, dll.

Senyum manis anak tak ternilai harganya. Kurangi gula hari ini, lindungi masa depan mereka. (*)