OLAHRAGA

Portugal Kalahkan Spanyol Lewat Adu Penalti, Juara UEFA Nations League untuk Kedua Kalinya

0
×

Portugal Kalahkan Spanyol Lewat Adu Penalti, Juara UEFA Nations League untuk Kedua Kalinya

Sebarkan artikel ini
JUARA— Portugal meraih juara UEFA Nations League buat kedua kalinya tahun ini. Hal itu terjadi setelah di partai final Portugal menang lewat adu penalti dengan skor 5-3 atas tetangganya, Spanyol pada Senin (9/6).

PORTUGAL meraih juara UEFA Nations League buat kedua kalinya tahun ini. Hal itu terjadi setelah di partai final Portugal me­nang lewat adu penalti de­ngan skor 5-3 atas tetangganya, Spanyol pada Senin (9/6).

Di partai final yang berlangsung di Allianz Stadium, Munchen, itu Portugal dan Spanyol bermain imbang 2-2 dalam 90 menit. Karena skor tak berubah dalam babak tambahan 2×15 menit, adu penalti pun dilakukan.

Lima algojo penalti Portugal yaitu Gonçalo Ramos, Vitinha, Bruno Fernandes, Nuno Mendes, dan Rúben Neves, sukses jadi eksekutor. Sedang di kubu Spanyol Álvaro Morata gagal mengeksekusi sepakan dari titik putih. Tiga algojo lain Mikel Merino, Alex Baena, dan Isco sukses.

Kemenangan UEFA Nations League 2025 ini terlihat sangat membahagiakan kapten Portugal Cristiano Ronaldo. Ronaldo yang berusia 40 tahun me­nangis tersedu usai memastikan juara UEFA Nations League ini.

Sebelum tahun ini, Ronaldo juga jadi bagian Portugal yang jadi juara UEFA Nations League 2019. Tiga tahun sebelumnya, Ronaldo membawa Portugal jadi kampiun di Euro 2016.

Ronaldo tak sekadar jadi kapten Portugal. Dalam laga final kali ini, Ronaldo juga mencetak gol di menit ke-61. Satu gol Portugal lainnya disumbangkan Nuno Mendes (26’).

Sedang di kubu Spanyol dua gol di partai final ini disumbangkan Martin Zubimendi (21’) dan Mikel Oyarzabal (45’).

Salah satu momen pa­ling emosional dalam karier Ronaldo terjadi saat penendang terakhir Portugal sukses menunaikan tugasnya. Ronaldo, yang mencetak gol penyama kedudukan pada menit ke-61 dan kemudian digantikan pada menit ke-88, langsung jatuh ke tanah sambil menangis haru.

Di usia 40 tahun, legenda hidup ini menunjukkan betapa besar arti trofi ini bagi dirinya dan tim nasional Portugal.

Tangis Ronaldo bukan sekadar ekspresi kegembiraan, melainkan cermin dari perjuangan panjang dan penuh tekanan. Ia bangkit, memeluk pelatih kepala Roberto Martinez, lalu menghampiri rekan-rekannya satu per satu, memberi pelukan hangat dan merayakan kemenangan penuh makna itu.

Atmosfer di stadion benar-benar memihak Portugal. Ribuan pendukung me­menuhi Allianz Arena dengan dukungan yang ma­yoritas ditujukan kepada satu nama yaitu Cristiano Ronaldo. Sosok yang menjadi magnet dan inspirasi utama di balik performa luar biasa Portugal sepanjang turnamen ini.

Sebelum menumbangkan Spanyol, Portugal juga mengalahkan tuan rumah Jerman di babak semifinal hasil yang sempat diragukan banyak pihak. Namun Ronaldo dan kolega membuktikan bahwa mereka masih bisa bersaing di le­vel tertinggi.

Gol ke gawang Spanyol menjadi yang ke-138 bagi Ronaldo di level internasio­nal mempertegas status­nya sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa, jauh mengungguli Lionel Messi dan Sunil Chhetri.

Laga ini juga dipandang sebagai duel dua generasi Cristiano Ronaldo versus Lamine Yamal. Namun pada akhirnya, pengalamanlah yang berbicara. Ronaldo tampil sebagai pembeda, mencetak gol penting, sementara Yamal gagal mencetak pengaruh besar di pertandingan.

Menariknya, seusai per­tandingan, Ronaldo mengungkapkan bahwa dirinya bermain dalam kondisi tidak 100 persen fit. Namun, ia menegaskan tak akan pernah melewatkan final, bahkan jika harus bermain dengan kaki yang patah sekalipun.

Dengan gelar UEFA Na­tions League kedua dalam genggaman, Ronaldo sekali lagi menunjukkan mengapa dirinya disebut sebagai legenda sejati. Di usianya yang sudah memasuki kepala empat, semangatnya tak luntur sedikit pun. Ia bukan hanya inspirasi bagi tim, tapi juga simbol ketangguhan dan loyalitas terhadap seragam kebanggaan Portugal. (jpg)