OLAHRAGA

Game Esports Mobile Legends jadi Ekskul SD-SMP di Surabaya, Orang Tua Buat Kesepakatan Jam Main

0
×

Game Esports Mobile Legends jadi Ekskul SD-SMP di Surabaya, Orang Tua Buat Kesepakatan Jam Main

Sebarkan artikel ini
ILUSTASI— Anak-anak bermain game Esport Mobile Legends.

JAKARTA, METRO–Wacana menjadikan Mobile Legends sebagai ekstrakuriku­ler di sejumlah SD dan SMP di Surabaya menuai pro dan kontra. Sebagian orang tua me­nyambut baik inovasi ini karena melihat potensi e-sports. Sebagian lain khawatir akan dampak negatifnya pada anak-anak, terutama risiko kecanduan.

Psikolog pendidikan dan keluarga Maulidah Muflichah menyarankan orang tua untuk tidak buru-buru menolak. Pa­ling tidak, ortu harus punya tiga sikap: terbuka, kritis, dan edu­katif. Sebab, anak-anak zaman sekarang sudah tumbuh di era digital.

“Kalau orang tua langsung menolak, anak-anak bisa makin menutup diri. Justru dengan sikap terbuka, kita bisa menjadikan ini sebagai ajang mengenal anak lebih dalam,” ujar Hj Maulidah Muflichah MPsi Psikolog CHt atau akrab disapa Bunda Lia.

Setelah terbuka, sikap kritis juga penting. Ortu perlu menggali tujuan dari kegiatan ekstrakurikuler tersebut. “Tanyakan, untuk apa sih ekskul ini? Apakah untuk peningkatan kemampuan strategi, kerja sama tim, atau memang hanya sekadar hiburan?” tutur psikolog di Biro Psikologi Talenta Mulia Sidoarjo itu.

Terkait kekhawatiran akan kecanduan main game, peran ortu untuk mengawasi dan me­ngontrol sangat penting. Terlebih, kontrol diri anak remaja masih berkembang dan perlu bimbingan konsisten dari orang tua.

“Jangan sampai anak pakai alasan ‘ini kan ekskul, Bu’ untuk bisa main terus-terusan sampai di rumah. Orang tua harus punya kesepakatan waktu yang tegas,” imbuh Bunda Lia.

Ia menyarankan agar di­buat aturan main yang jelas, seperti durasi satu jam per hari, dengan evaluasi berkala. Apabila anak konsisten mematuhi kesepakatan, bisa diberi reward. Namun, jika anak melanggar kesepakatan, orang tua harus tegas memberi konse­kuensi.

“Misalnya cabut WiFi atau kurangi akses ke gawai. Anak perlu belajar bahwa setiap pe­langgaran ada akibatnya,” tegas Bunda Lia.

Ia juga mengingatkan pentingnya memantau tanda-tanda awal kecanduan, seperti sulit berhenti meski sudah diberi batas waktu, marah saat dilarang, atau mulai menarik diri dari pergaulan nyata. “Kalau sudah begini, orang tua harus segera ambil peran, jangan biarkan anak larut dan jangan ragu mencari bantuan profesional jika ortu sudah kewalahan,” lanjutnya.

Pihak sekolah juga perlu memberikan edukasi tentang etika bermain, manajemen waktu, dan kesehatan digital bila wacana tersebut jadi direalisasikan. Agar tidak sekadar dimaknai sebagai pembenaran untuk bermain game, tetapi juga membentuk karakter dan kedisiplinan siswa.

“Jangan sampai karena ingin mengikuti tren, sekolah malah melegitimasi anak untuk bermain tanpa kontrol. Harus tetap ada nilai edukatif yang dipegang,” tegas psikolog yang juga aktif memberikan edukasi parenting itu. (jpg)