METRO BISNIS

Semua Segmen Ritel Didorong Adaptasi dengan Perubahan Pasar

0
×

Semua Segmen Ritel Didorong Adaptasi dengan Perubahan Pasar

Sebarkan artikel ini
ritel modern --Pengunjung berbelanja di salah satu gerak ritel modern di kawasan Depok, Jawa Barat, Minggu (16/2/2025).

JAKARTA, METRO— Industri ritel didorong untuk mampu beradaptasi dengan perubahan jaman. Tak hanya ritel di skala besar, industri ritel di skala mikro seperti toko kelontong juga dinilai tak boleh lengah menghadapi perubahan tren konsumen.

Direktorat Jenderal Per­dagangan Dalam Ne­geri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Dewi Rokhayati menekankan pentingnya penguatan kapasitas digital para pemilik toko, mulai dari pengelolaan bisnis berbasis aplikasi, pembayaran nontunai, penjualan produk digital dan UMKM lokal, hingga sistem pengantaran berbasis daring.

Menurut Dewi, bisnis warung sembako dan pro­duk Fast Moving Consu­mer Goods (FMCG) masih merupakan salah satu bisnis yang menjanjikan. “Jenis produk yang merupakan kebutuhan harian ma­syarakat dan perputaran barang yang cepat, menjadikan bisnis toko sembako dan produk FMCG memberikan peluang besar untuk meraih kesuksesan dan omzet yang tinggi,” ujarnya.

Dengan lebih dari 64 juta UMKM di Indonesia, pemberdayaan sektor ini menjadi kunci dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Dewi juga menegaskan akan melibatkan pihak ritel yang lebih besar untuk dapat meningkatkan kapasitas usaha, memperluas akses digital, dan mengintegrasikan UMKM ke dalam ekosistem distribusi modern, sehingga mendorong pro­duktivitas, serta perluasan pasar ritel-ritel mikro.

Bicara mengenai industri ritel, pemerintah masih optimistis sektor ritel Indonesia tetap mengalami pertumbuhan yang positif, meski beberapa waktu terakhir sejumlah toko ritel terpaksa menutup gerai akibat penyesuaian bisnis. “Kami optimistis sektor ritel Indonesia akan menga­lami pertumbuhan yang positif secara moderat,” ujar Direktur Bina Usaha Perdagangan Kemendag Septo Soepriyatno.

Septo mengatakan, pertumbuhan ini dapat terwujud apabila didukung dengan ekosistem industri yang baik. Menurut dia, kolaborasi dengan ber­bagai pihak, baik antara kementerian/lembaga dan juga swasta dapat memperbaiki kondisi daya beli masyarakat.

Menurut dia, Kemen­dag secara berkala akan melakukan pertemuan de­ngan pelaku usaha ritel untuk membahas peluang dan tantangan bisnis saat ini. Kemendag akan memfasilitasi dan memberikan pendampingan berbasis data kepada para pelaku usaha ritel agar lebih siap beradaptasi pada ekosis­tem digital yang ber­kem­bang pesat.

Terkait beberapa ritel yang menutup gerai di sejumlah titik, Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) berpendapat bahwa tingginya biaya operasional dan ketidakmampuan bersaing dengan peritel yang memiliki skala bisnis lebih besar disinyalir menjadi salah satu pe­nyebab sejumlah toko ritel, terutama di wilayah perkotaan, terpaksa menutup gerainya.

“Karena mungkin cost-nya besar. Misalnya toko­nya cuma 10. Tidak bisa bersaing dengan yang to­konya banyak,” ujar Ketua Umum Hippindo Budihardjo Iduansjah.

Selain itu, Budihardjo menyebutkan pergeseran preferensi konsumen ke platform online juga menjadi tantangan tersendiri bagi peritel konvensional. Meski demikian, Budihardjo menilai prospek industri ritel di Indonesia akan tetap tumbuh positif di te­ngah maraknya toko ritel yang berguguran. Besar­nya populasi Indonesia, yang mencapai sekitar 270 juta jiwa, menurutnya menjadi pasar domestik yang sangat potensial.

“Proyeksi pertumbuhan ritel di Indonesia bervariasi tergantung segmennya. Untuk segmen personal care, pertumbuhan bahkan bisa mencapai 10 persen dengan kontribusi terbesar dari penjualan online. Sementara itu, segmen minimarket di­perkirakan tumbuh sekitar 8 sampai 9 persen,” tegasnya. (jpc)