SOLOK/SOLSEL

Peringatan Harkitnas ke-117, Gelorakan Semangat Kebangkitan dan Semangat Budi Utomo

0
×

Peringatan Harkitnas ke-117, Gelorakan Semangat Kebangkitan dan Semangat Budi Utomo

Sebarkan artikel ini
UPACARA HARKITNAS— Wakil Bupati Solok Selatan H. Yulian Efi menjadi Inspektur Upacara Peringatan Harkitnas ke-117, yang dihadiri seluruh ASN Pemkab, Selasa (20/5).

PADANG ARO, METRO–Semangat kebangkitan nasional tak luput hingga ke penjuru negeri, termasuk di Kabupaten Solok Selatan. Upacara peringatan yang berjalan khidmat, diiringi lantunan lagu perjuangan menggelorakan semangat seluruh peserta upacara.Upacara dihadiri oleh Wakil Bupati Solok Selatan H. Yulian Efi sekaligus sebagai Inspektur Upa­cara. Selain itu juga dihadiri oleh Forkopimda, dan jajaran lainnya.

Diikuti oleh ASN di ling­kungan pemerintahan kabupaten, TNI dan Polri. Dilaksanakan di Halaman Kantor Bupati Solok Selatan, Selasa (20/5).

Pelaksana upacara lainnya yakni Perwira Upacara dari Kasat Lantas Polres Solok Selatan Iptu Rial Aziz dan Komandan Upacara dari satuan yang sama, Ipda Supardi. Sedangkan pembaca naskah pembukaan UUD 1945 merupakan ASN Solok Selatan.

Pengibar bendera me­rupakan siswa SMA N 6 Solok Selatan dan korsik dari SMP N 14 Solok Selatan.

Dalam sambutannya membacakan pidato Menteri Komunikasi dan Digital, Wabup menyampaikan peringatan Hari Kebangkitan Nasional ini sebagai momen untuk kebangkitan kesadaran, semangat persatuan, dan keberanian menolak untuk terus terjajah.

“117 tahun yang lalu, di tengah keterbatasan dan tekanan klonialisme, lahirlah sebuah kesadaran baru yang menyalakan api perubahan. Melalui pendirian Budi Utomo, bangsa ini mulai membangun keyakinan bahwa nasib tidak boleh selamanya digantungkan kepada kekuatan asing; bahwa kemajuan hanya mungkin dicapai bila kita bangkit berdiri di atas kekuatan kita sendiri,” kata Yulian pagi ini.

Menurutnya, kebangkitan menjadi ikhtiar untuk terus hidup dan menghadapi tantangan zaman yang jauh lebih kompleks. Mulai dari disrupsi teknologi, ketegangan geopolitik, krisis pangan global, dan ancaman terhadap kedaulatan digital.

Seiring dengan per­kem­bangan yang terjadi, pergerakan peradaban yang tak lagi dibatasi ja­rak. Melainkan oleh kemampuan untuk beradaptasi dan memimpin perubahan.

Pada titik inilah Indonesia dengan berada pada posisi yang bergerak pada pembangunan yang tak hanya terfokus pada pertumbuhan ekonomi, melainkan juga memastikan setiap kebijakan membuka ruang bagi kemajuan yang adil dan merata.

“Sebuah ikhtiar besar agar pembangunan yang megah tetap berpijak ko­koh pada kepentingan rakyat,” tegasnya.

Pemerintahan berfokus pada kesejahteraan sosial, kesehatan, ekonomi dan pengembangan manusia. Karena sejatinya kebangkitan yang besar itu justru dibangun dari pondasi yang sederhana.

“Dalam momen peri­ngatan Hari Kebangkitan Nasional ini, kita meneguhkan kembali arah perjalanan bangsa. Dan dalam semangat itu, pemerintah telah menetapkan Asta Cita sebagai kompas utama Kebangkitan Nasional. Delapan misi besar, untuk menghadirkan perubahan yang benar-benar terasa di tengah kehidupan rakyat,” tutupnya. (ped/rel)