BERITA UTAMA

Lapangan Kerja Semakin Terbatas, Lulusan Perguruan Tinggi Perlu Dibekali Keterampilan Praktis

0
×

Lapangan Kerja Semakin Terbatas, Lulusan Perguruan Tinggi Perlu Dibekali Keterampilan Praktis

Sebarkan artikel ini
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag Amien Suyitno.

JAKARTA, METRO–Lulusan perguruan tinggi menghadapi tantangan cukup berat. Mulai dari lapangan pekerjaan yang semakin terbatas, serta persoalan di dunia kerja yang kian kompleks. Untuk mengatasinya, sejak di bangku kuliah perlu dibekali kemampuan praktis sesuai kebutuhan industri.

Dirjen Pendidikan Islam Kemenag Amien Suyitno mengatakan salah satu tantangan terberat bagi perguruan tinggi saat ini adalah memastikan ba­gaimana alumni dari sebuah kampus bisa diterima di dunia kerja. Kondisi ini disebabkan kompleksnya tantangan dunia kerja. Di­tam­bah jumlah lapangan pe­kerjaan yang terbatas.

Situasi ini menuntut alum­ni PTKI (perguruan tinggi keagamaan Islam) memiliki soft skill untuk dapat bersaing. “Dengan tantangan yang sangat kompleks dibutuhkan inovasi, bagaimana perguruan tinggi harus punya cara-cara yang inovatif,” kata Suyitno dalam peluncuran program magang Professional Readiness Through Internship and Mentor Ship for Academics (PRIMA) pada Sabtu (3/5).

Inovasi itu harus bisa dijadikan instrumen agar para alumni mendapatkan peluang pekerjaan. Tantangan yang tidak kalah ekstremnya hari ini dalam banyak hal juga mengalami distorsi. “Dengan adanya tantangan menyangkut kecerdasan buatan yang membuat sekian profesi menjadi terdegradasi, bahkan hilang,” tutur Suyitno.

Lebih lanjut ia menjelaskan, untuk itu Program PRIMA Magang PTKI itu sebagai wujud negara hadir dalam rangka menjembatani antara alumni PTKI yang jumlahnya begitu besar. Dengan dunia kerja yang saat ini mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Dunia kerja tidak hanya membutuhkan kemampuan akademis yang baik, tetapi juga soft skill sebagai penunjang profesi di dunia kerja.

“Lahirnya program yang digagas Direktorat Diktis ini harapannya menjadi jembatan, bahwa negara hadir untuk memberikan jembatan agar PTKI sadar betul akan kebutuhan, ba­gai­mana mengafirmasi kebutuhan dunia kerja. Suyit­no mengatakan bahwa upaya sifatnya wajib. “Jadi para pimpinan PTKI jangan berpuas diri jika sudah meluluskan mahasiswa, tetapi juga memikirkan anak ini bagaimana kedepan,” tandasnya.

Sementara itu Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kemenag Sahiron menjelaskan, Prima Magang PTKI bukan hanya sekedar program magang biasa. Karena program ini didesain dengan sistem pendampingan dan monitoring, yang memungkinkan mahasiswa men­da­patkan bimbingan langsung dari para profesional di lapangan. Dengan de­mikian me­reka dapat me­ng­integra­sikan ilmu akademik dengan rea­lita praktik kerja.

“Launching Program Prima Magang PTKI sebagai bagian dari iktiar kita dalam memperkuat kola­bo­rasi antara pendidikan keagamaan islam atau lem­­baga pendidikan ke­aga­ma­an islam dengan dunia industri,” tuturnya. Program itu hadir sebagai respons terhadap kebutuhan mendesak untuk mening­katkan kompetensi lulusan PTKI agar selaras dengan dunia kerja yang terus berubah.

Kemenag ingin lulusan PTKI tidak hanya kuat da­lam keilmuan. Tetapi juga Tangguh secara karakter, terampil dalam praktik dan siap beradaptasi di tengah kompleksitas dunia nyata.

Sebagai informasi PRIMA Magang PTKI hadir untuk membekali mahasiswa dengan pengalaman nyata di luar bangku kuliah. Kemudian membentuk lulusan yang siap bersaing dan berkontribusi di dunia profesional. Program ini juga menjadi jembatan antara dunia pendidikan dan dunia industri. Lalu membantu menghadirkan talenta-talenta unggul yang siap memenuhi kebutuhan tenaga kerja nasional.

Dengan mengikuti PRIMA Magang PTKI, mahasiswa tidak hanya memperkuat kompetensi akademik dan profesional. Tetapi juga membangun jejaring, meningkatkan kepercayaan diri, dan mempersiapkan diri lebih baik untuk masa depan karier mereka.

“Saya berharap semo­ga program ini dapat berja­lan lancar, membawa man­faat yang besar, dan men­jadi contoh peningkatan kualitas Pendidikan tinggi keagamaan Islam secara nasional, semoga Allah memberkahi setiap Langkah kita.” pungkas Sahiron. (jpg)