BERITA UTAMA

Angka Stunting Masih 21,5 Persen, Wamendes-PDT Riza Patria Minta Dana Desa Dimaksimalkan

0
×

Angka Stunting Masih 21,5 Persen, Wamendes-PDT Riza Patria Minta Dana Desa Dimaksimalkan

Sebarkan artikel ini
SAMBUTAN— Wakil Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Wamendes-PDT) Ahmad Riza Patria di acara Asosiasi Dinas Kesehatan (Adinkes).

JAKARTA, METRO–Angka kasus stunting di Indonesia masih tinggi. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) ta­hun 2023 menunjukkan pre­valensi stunting masih 21,5 persen. Angka ini ma­sih berada di atas target yang ditetapkan oleh Ba­dan Ke­sehatan Dunia (WHO) yaitu sebesar 20 per­sen.

Percepatan penurunan stunting melalui inovasi, teknologi, dan kolaborasi terus dilakukan demi me­nuju Indonesia unggul. Untuk menghasilkan SDM ung­­gul tersebut, salah satunya adalah dengan memperkuat pondasi kesehatan masyarakat desa, melalui upaya pengendalian penyakit untuk pengentasan stunting.

Wakil Menteri Wakil Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Wamendes-PDT) Ahmad Riza Patria mengatakan mereka telah berkomitmen turut serta dalam pengentasan stunting. Kemendes-PDT juga berkomitmen dan konsisten akan menyiapkan dana desa.

“Diharapkan semua pe­rangkat desa memberikan perhatian lebih baik agar penggunaan dana desa dialokasikan dalam jumlah yang cukup untuk menurunkan stunting serta berbagai penyakit,” jelas Riza da­lam keterangannya Ming­gu (4/5).

Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta itu mengatakan, intervensi akan pe­ne­kanan angka stunting menjadi hal yang krusial. Baik dari aspek deteksi dini hingga pemenuhan asupan nutrisi yang tepat. “Stun­ting masih menjadi perhatian Presiden Prabowo Subianto,” kata dia.

Pemerintah tidak ingin lagi anak-anak menjadi stunting. Untuk itu ibu ha­mil dan anak balita harus mendapatkan asupan bergizi yang cukup. Sehingga kesehatan menjadi lebih baik, anak-anak dapat belajar dengan lebih baik.

Penanganan stunting melalui pelibatan masya­rakat desa sebelumnya di­kupas dalam Lokakarya Nasional 2025 Asosiasi Dinas Kesehatan (Adinkes). Acara ini mengambil tema Praktek Baik Implementasi Pengendalian Stunting di Indonesia: Inovasi dan Pemanfaatan Teknologi. Da­lam momen ini juga dilakukan peluncuran Program Ge­nerasi Maju Bebas Stun­ting Award 2025, Nutrical, dan Buku Dana Desa.

Ketua Umum Adinkes M. Subuh menjelaskan, sebagai mitra pemerintah, mereka ikut mendorong perangkat desa melakukan kontrol terhadap stunting. “Kita melakukan evaluasi terhadap kinerja program terutama pengentasan stunting dan penyakit menular yang dilakukan dinas kesehatan,” katanya.

Dengan kehadiran perwakilan dinas kesehatan dari seluruh wilayah, akan menjadi suatu pengeta­huan bersama. Nantinya mereka dapat sosialisasikan dan advokasi terhadap perangkat desa di daerah masing-masing.

Model pendekatan me­lalui perangkat desa itu, dikatakan Subuh mendapat respon positif dari ma­sya­rakat. “Karena itu kita terus berinovasi dengan kreativitas dengan menggandeng banyak pihak, pemerintah, organisasi da­lam dan luar negeri, ma­sya­rakat dan swasta,” je­las­nya.

Melalui Program Generasi Maju Bebas Stunting Award 2025, Nutrical, dan Buku Dana Desa mereka menggandeng semuanya untuk pelaksanaan program hingga satu tahun ke depan. “Ini adalah partisipasi masyarakat yang diwakili oleh Adinkes,” jelas Subuh.

Generasi Maju Bebas Stunting Award 2025 merupakan upaya pencegahan stunting secara berkelanjutan. Kegiatan ini mendorong Dinas Kesehatan me­la­kukan inovasi dalam men­­cegah stunting. Peng­har­gaan hasil kolaborasi Adinkes dengan lintas sektoral terdiri dari tiga kategori.

Yaitu inovasi pengolahan pangan lokal dan PKMK untuk mengentaskan stunting. Penggunaan kolaborasi lintas sektor dan teknologi informasi dalam program penurunan stunting. Serta pemberdayaan dan edukasi masyarakat untuk penggunaan ASI serta pelaksanaan rujukan berjenjang. (jpg)