BERITA UTAMA

Dedi Mulyadi Syaratkan Vasektomi Bagi Penerima Bansos, MUI Nyatakan Hukumnya Haram

0
×

Dedi Mulyadi Syaratkan Vasektomi Bagi Penerima Bansos, MUI Nyatakan Hukumnya Haram

Sebarkan artikel ini
Prof. Asrorun Niam Sholeh Ketua MUI Bidang Fatwa

JAKARTA, METRO–Gagasan Gubernur Jawa Barat (Jabar), Dedi Mulyadi, untuk menjadikan vasektomi sebagai syarat penerimaan bantuan sosial (bansos) menuai polemik. Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan bahwa vasektomi haram jika dilakukan untuk tujuan pemandulan permanen.

Ketua MUI Bidang Fatwa, Asrorun Ni’am Sholeh, menyampaikan, vasektomi haram dilakukan untuk tujuan pemandulan permanen. Hal itu merupakan hasil Ijtima Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia IV yang berlangsung di Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat pada 2012.

“Kondisi saat ini, vasektomi haram kecuali ada alasan syar’i seperti sakit dan sejenisnya,” kata Asrorun Ni’am dikutip dari laman MUI, Jumat (2/5).

Dia menyampaikan, Komisi Fatwa MUI hukum vasektomi adalah haram, kecuali dalam kondisi tertentu yang memenuhi lima syarat ketat, sesuai hasil Ijtima Ulama tersebut.

Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI, KH Abdul Muiz Ali, keputusan haram tersebut berdasarkan pada pertimbangan syariat Islam, perkembangan medis, serta kaidah-kaidah ushul fikih terkait metode kontrasepsi yang dikenal sebagai medis operasi pria (MOP).

“Vasektomi secara prinsip adalah tindakan yang mengarah pada pemandulan, dan dalam pandangan syariat, hal itu dilarang. Namun, dengan perkembangan teknologi yang memungkinkan rekanalisasi (penyambungan kembali saluran sperma) maka hukum bisa menjadi berbeda dengan syarat-syarat tertentu,” ujar Kiai AMA.

Kelima syarat itu yang pertama, yakni vasektomi dilakukan untuk tujuan yang tidak menyalahi syariat Islam. Kedua, vasektomi tidak menyebabkan kemandulan permanen.

“Ketiga, ada jaminan medis bahwa rekanalisasi bisa dilakukan dan fungsi reproduksi pulih seperti semula. Keempat, tidak menimbulkan mudharat bagi pelakunya. Kelima, vasektomi tidak dimasukkan ke dalam program kontrasepsi mantap,” ujar dia.

Kiai AMA menegaskan, hukum keharaman vasektomi tetap berlaku hingga kini. Se­bab, rekanalisasi tidak 100 persen menjamin kembali normalnya saluran sperma.

“Karena hingga hari ini rekanalisasi masih susah dan tidak menjamin pengembalian fungsi seperti semula,” tegasnya.

Meski begitu, Kiai AMA mengakui perkembangan tek­nologi medis yang memungkinkan terjadinya rekanalisasi. Akan tetapi, tingkat keberhasilan operasi tersebut tetap bergantung pada banyak faktor, sehingga tidak menjamin kesuburan kembali seperti semula.

Apalagi, Kiai AMA menerangkan rekanalisasi membutuhkan biaya yang jauh lebih mahal daripada vasektomi. Oleh karena itu, MUI meminta kepada pemerintah agar tidak meng­kampanyekan vasektomi secara terbuka dan massal.

“Pemerintah harus tran­sparan dan objektif da­lam sosialisasikan vasektomi, termasuk menjelaskan biaya rekanalisasi yang mahal dan potensi ke­ga­galan­nya,” paparnya.

MUI juga menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat untuk mem­bangun keluarga yang bertanggung jawab, se­hat, dan unggul. Serta tidak melupakan tugas menyiapkan ge­nerasi penerus bangsa.

“Penggunaan alat kontrasepsi harus bertujuan untuk mengatur keturunan (tanzhim al-nasl), bukan untuk membatasi secara permanen (al-nasl), apalagi sebagai dalih gaya hidup bebas yang menyimpang dari ajaran agama,” pungkasnya. (jpg)