BERITA UTAMA

11 Partai Politik Terancam “Karam”, PDI P Juara, Gerindra Nomor 2

0
×

11 Partai Politik Terancam “Karam”, PDI P Juara, Gerindra Nomor 2

Sebarkan artikel ini

JAKARTA, METRO – Sekitar 12 hari jelang Pemilihan Umum Legislatif (Pileg), sejumlah partai politik (parpol) masih badampuang-dampuang. Ambang batas kelolosan ke parlemen (parliamentary threshold/PT) 4 persen menjadi momok bagi mereka. Gagal 4 persen, gagal ke DPR RI dan partai “karam”.
Sejumlah lembaga survei telah memberikan gambarannya terkait siapa yang akan lolos ke Senayan. Teranyar, Jumat (5/4), hasil survei LSI Denny JA menyebutkan hanya lima dari 16 partai peserta Pileg 2019 yang lolos.
”Lima partai politik yang berpotensi lolos parlemen karena elektabilitasnya konsisten di atas empat persen yaitu PDIP, Partai Gerindra, Partai Golkar, Partai Demokrat dan PKB,” kata peneliti LSI Denny JA, Rully Akbar di Jakarta.
Dia menjelaskan, elektabilitas kelima parpol tersebut adalah PDIP 24,6 persen, Gerindra 13,4 persen, Golkar 11,8 persen, Partai Demokrat 5,9 persen, dan PKB 5,8 persen.
UU Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu mengatur untuk masuk DPR parpol harus memenuhi ambang batas parlemen 4 persen. Jelang masa pemungutan suara dalam hitungan hari, kata Rully, semua parpol masih punya potensi untuk menaikkan dukungan dan mengubah ranking. “Variabel yang sangat menentukan tersebut adalah pengaruh langsung caleg terhadap pemilih sebesar 15,6 persen,” katanya.
Sementara 11 partai yang terancam gagal PT itu adalah Partai Perindo 3,9 persen, PKS 3,9 persen, PAN 3,1 persen, PPP 2,9 persen, NasDem 2,5 persen, Hanura 0,9 persen, Berkarya 0,7 persen, PBB 0,2 persen, PSI 0,2 persen, PKPI 0,1 persen, Garuda 0,1 persen.
Survei dilakukan 18-26 Maret 2019 dengan menggunakan metode multistage random sampling yang melibatkan 1.200 responden di 34 provinsi. Menggunakan metode wawancara tatap muka menggunakan kuesioner dengan margin of error +/- 2,8 persen.
Pengaruh Caleg Lebih Besar
Rully mengatakan, berdasarkan hasil survei pihaknya, pengaruh caleg justru berdampak besar terhadap peluang partai politik masuk ke parlemen dalam Pemilu 2019.
“Jika menghitung secara populasi nasional, pengaruh caleg terhadap suara dan posisi partai sebesar 15,6 persen. Artinya suara dan posisi parpol di Pemilu 2019 sangat ditentukan kemampuan partai tersebut mengoptimalkan pengaruh caleg terhadap partai,” kata Rully.
Dia mengatakan, posisi dan dukungan parpol tidak hanya ditentukan persepsi dan kesan parpol di mata pemilih, namun faktor caleg yang dicalonkan di setiap daerah pemilihan (dapil) memiliki kontribusi besar pada posisi parpol.
Rully menjelaskan berdasarkan survei LSI Denny JA, sebesar 60,3 persen responden menyatakan lebih mempertimbangkan memilih caleg yang dikenal. “Dan hanya 26,6 persen publik yang menyatakan lebih mempertimbangkan memilih parpol, lalu 13,1 persen tidak menjawab,” ujarnya.
Selain itu, responden yang menjawab tidak tahu atau tidak jawab atau belum memiliki pilihan mencapai 20 persen.
Rully mengatakan, meskipun faktor caleg cukup penting dalam menopang posisi dan dukungan parpol, namun persoalannya tidak banyak caleg yang mampu menopang suara parpol. Pasalnya, sambung Rully, hanya 25,8 persen responden yang menyatakan mengenal caleg yang akan dipilihnya dan 70,6 persen menyatakan tidak mengenal caleg yang akan dipilih.
Survei Indikator
Sementara berdasarkan hasil survei Indikator Politik Indonesia, dari 16 partai politik peserta Pemilu 2019, hanya 8 partai di antaranya yang bakal lolos ambang batas parlemen atau memiliki kursi di DPR RI.
Hal tersebut merupakan kesimpulan dari survei terbaru Indikator Politik Indonesia terhadap 1.220 responden yang memunyai hak pilih di seluruh Indonesia. Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi memaparkan, elektabilitas parpol tertinggi ditempati oleh PDIP dengan angka 24,2 persen.
Peringkat kedua ditempati Partai Gerindra dengan elektabilitas 11,7 persen, selanjutnya Partai Golkar pada ranking ketiga dengan 11,6 persen. “Elektabiltas PDIP pada Desember 24,9 sekarang 24,2 persen,” kata Burhanuddin di Kantor Indikator, Jalan Cikini V, Jakarta Pusat, Rabu (3/4).
Untuk peringkat selanjutnya ditempati oleh PKB sebesar 8,8 persen dan ditempel ketat oleh Partai Demokrat yang mendapatkan elektabilitas 8,7 persen. Partai yang menduduki posisi lima besar itu sudah pasti lolos mendapat kursi perwakilan di DPR RI.
Adapun partai lainnya yang juga masih lolos ke dalam ambang batas parlemen ialah PKS dengan perolehan 6 persen elektabilitas, serta Partai Nasdem (5,7 persen).
Delapan partai lainnya harus lebih bekerja keras pada sisa masa kampanye menjelang hari pencoblosan yang jatuh pada 17 April 2019. Menurut Burhanuddin, Partai Perindo harus lebih bekerja keras karena hingga saat ini elektabilitasnya hanya mencapai 2,6 persen.
Sementara elektabilitas Partai Hanura hanya 1,3 persen; PAN 2,2 persen; Partai Berkarya 0,8 persen; PKPI 0,2 persen; PBB 0,6 persen; Partai Garuda 0,2 persen; dan, PSI 1,3 persen.
Untuk diketahui, survei Indikator Politik Indonesia tersebut dilakukan dalam rentang periode 22 Maret sampai 29 Maret 2019. Mereka menggunakan teknik sampel acak dan mengklaim ambang batas kesalahan hanya 2,9 persen.
Sementara itu, sebelumnya hasil survei lembaga lain terkait elektabilitas parpol pun menunjukkan tak sampai belasan yang tembus parlemen. Salah satunya survei Litbang Kompas pada 22 Februari-5 Maret 2019 memprediksi hanya enam parpol yang menembus ambang batas parlemen. Enam parpol itu adalah PDIP, Gerindra, Golkar, PKB, Demokrat, dan PKS. (heu)