METRO PADANG

Digelar 9 April hingga 12 April 2025 di Taman Budaya Sumbar, Kaba Festival Nan Balega Hadirkan Pertunjukan Seni Tradisi

0
×

Digelar 9 April hingga 12 April 2025 di Taman Budaya Sumbar, Kaba Festival Nan Balega Hadirkan Pertunjukan Seni Tradisi

Sebarkan artikel ini
SENI TRADISI— Pertunjukan silek yang dibawakan Perguruan Seni Singo Barantai dari Padang pada Kaba Festival Nan Balega, Rabu malam (9/4) di Taman Budaya Sumbar

PADANG, METRO–Kaba Festival X Tahun 2025 yang digelar Nan Jom­bang Dance Company me­ng­hadirkan pertunjukan ke­senian tradisi bertajuk Ka­ba Festival Nan Balega, pa­da 9 April hingga 12 April 2025 di Taman Budaya Sum­­­bar.

Pada hari pertama pem­bukaan Kaba Festival Nan Balega, Rabu malam (9/4), menghadirkan per­tun­jukan pasambahan, si­lek dan tari babuai dari Per­guruan Seni Singo Barantai dari Padang.

Pertunjukan yang di­war­nai hujan malam itu ber­lanjut dengan penam­pilan atraksi seni gandang tasa oleh Sanggar Umbuik Mudo dari Maninjau. Beri­kut­nya juga tampil atraksi randai oleh Sanggar Seni Buluah Perindu dari Lim­a­puluh Kota.

Kaba Festival Nan Balega malam itu dibuka langsung oleh Direktur Warisan Budaya, Kementerian Kebudayaan RI, I Made Dharma Suteja bersama Sekretariat Dinas Kebudayaan Provinsi Sumbar, Yudi Wah­yudi, Direktur Ladang Nan Jombang, Angga Dja­mar dan Kepala Dinas Pa­ri­wi­sata Kota Padang, Yudi Indra Syani

Sekretaris Dinas Kebudayaan Provinsi Sumbar, Yayat Wahyudi mewakili Gubernur Sumbar, Mah­yeldi Ansharullah menyampaikan, melestarikan budaya artinya memelihara untuk waktu yang sangat lama. Proses pelestarian budayaberupa mewa­ris­kan nilai budaya dari pendahulu kepada generasi berikutnya dan membawa manfaat untuk membangun karakter bangsa.

Baca Juga  Dosen Poltekkes Kemenkes Gelar Pengabdian Masyarakat di Kuranji

Yayat juga menyampaikan apresiasi yang tidak terbatas dari inisiasi Nan Jombang Dance Company yang telah melestarikan seni tari tradisi sejak tahun 1988. Dalam perjalanannya diawali dari Festival Galanggang, pertunjukan seni karya tari yang dihasilkan bertransfromasi menjadi Kaba Festival.

“Dunia mengenal Ery Mefri dengan pertunjukan seni tarinya di puluhan negara. Apa yang dilakukan Ery Mefri  terbukti membawa Sumbar mendunia,” ungkap Yayat.

Pemprov Sumbar me­nurutnya, akan terus ber­kolaborasi dengan seniman untuk membawa dan me­ng­harumkan nama Sum­­bar di tingkat nasional dan internasional. “Kita tingkatkan kerja sama untuk memajukan kebu­da­yaan di Sumbar,” harapnya.

Pimpinan Nan Jombang Dance Company Ery Mefri menyampaikan, pihaknya berkomitmen melestarikan hasil kebudayaan yang merupakan tugas dan tang­­gung jawab pemerintah.

“Kami mengerjakan pe­kerjaan pemerintah tanpa henti. Berkarya, melakukan riset. Hasilnya, Kementerian Kebudayaan mengucapkan terima kasih kepada Nan Jombang Dance Company dan Eri Mefri dengan mempercayakan kegiatan ini,” jabarnya.

Lebih lanjut, Eri Mefri mengucapkan terima kasih kepada pemerintah pusat dan daerah yang telah memperhatikan Nan Jombang Dance Company hinga bisa eksis sampai hari ini.

Baca Juga  Kepercayaan Konsumen Tetap Kuat pada Daihatsu

“Dulu kami berfikir kami diacuhkan oleh pemerintah. Ternyata kami salah. Kami diperhatikan, dugaan kami dikucilkan pemerintah tidaklah nyata,” tutupnya.

Selain penampilan tiga pertunjukan kesenian ma­lam itu, selanjutnya, pada 10 April 2025, Kaba Festival Nan Balega menampilkan karya seni dari Puti Gubalo Intan dari Pesisir Selatan, Binuang Sati dari Padang Pariaman, Ci­nang­kiak Sai­yo dari Solok, dan Gabab Pituah Minang dari Padang.

Sedangkan pada 11 April 2025 menampilkan sagar seni dari Rajo Seni dari Solok Selatan, Harimau Singgalang dari Bukittinggi, Budaya Uma Jaraik Sikerei Kepulauan Mentawai, dan Puti Elok dari Payakumbuh.

Penutupan Kaba Festival Nan Balega nanti, pada 12 April 2025 akan menampilkan Sirompak Taeh dari Limapuluh Kota, Cabang Badantiang dari Sa­wahlunto, Palito Hati kota Padang, serta Talang Sa­rum­pun dari Sijunjung.

Kaba Festival Nan Balega merupakan rangkaian dari Kaba Festival 2025 yang akan berlangsung hingga Juni 2025 nanti. Selain pertunjukan seni tradisi, sebelumnya telah di­ge­lar Focus Group Discusion (FGD) dan workshop. Selanjutnya juga akan di­ge­lar seminar hingga bedah buku nantinya. (fan)