BERITA UTAMA

Antara Almarhum dan Orang Dermawan

0
×

Antara Almarhum dan Orang Dermawan

Sebarkan artikel ini
Irsyad Syafar (Anggota DPRD Sumbar F-PKS)

OLEH: Irsyad Syafar (Anggota DPRD Sumbar F-PKS)

JIKA anda seorang yang dermawan dan mudah memberi, itu adalah karunia dari Allah Swt. Semoga nikmat kedermawanan tersebut senantiasa dilim­pahkan Allah sampai akhir hayat kelak.

Namun dalam memberi atau berbagi kepada orang lain, perlu juga anda per­hatikan orang yang kondisinya di se­but­kan dalam Alquran sebagai almarhum. Seperti dalam fir­manNya yang artinya: “Dan orang-orang yang di dalam har­tanya ada bagian ter­ tentu. Untuk orang (miskin) yang meminta-minta dan untuk orang (miskin) yang menahan diri dari meminta-minta.” (QS Al Ma’arij: 24-25).

Dari ayat ini Allah menyebutkan dua tipe orang miskin. Yang pertama yang meminta-minta. Dan yang kedua yang menahan diri dari meminta-minta, yang nama lainnya adalah Al mahrum. Tipe kedua ini orangnya pemalu atau yang menjaga harga dirinya. Sehingga mereka tidak mau meminta-minta, pa­dahal mereka memang sedang butuh pertolongan atau bantuan.

Maka bagi para der­mawan atau hamba Allah yang sedang diberi Allah kelapangan harta, perlu juga “mencari-cari, me­ngintai-intai” atau meng­gali informasi tentang orang tipe ini, untuk kemu­dian diberikan bantuan yang layak. Sebab orang Al Mahrum ini kadang tak mendapat bantuan karena mereka menutupi kemis­kinannya.

Orang-orang Al Mah­rum sering “kalah” dari yang suka meminta-minta. Mereka pasti ada disekitar kita. Tapi rasa malu dan ke­hormatan diri telah meng­halangi mereka untuk me­nge­mis. Mereka sangat layak dibantu dan diprio­ritaskan. Bila dibulan Ra­madhan ini anda membagi sedekah, zakat atau “tak­jil”, perlu juga anda dahu­lukan mereka ini.

Kalau anda seorang yang sering dibantu oleh seseorang yang derma­wan, baik itu untuk kepen­tingan anda pribadi atau untuk kepentingan yang lebih luas, perlu juga anda “menenggang” perasaan orang yang dermawan ter­sebut. Yaitu dengan tidak terlalu sering atau terlalu dekat jaraknya anda me­minta kepadanya.

Banyak orang yang der­mawan itu bukan karena hartanya yang melimpah ruah. Melainkan karena ha­tinya yang mudah ter­sentuh dan peduli kepada orang lain. Maka dia mem­beri itu juga dalam keter­batasan. Karenanya bila ia memberi, bukan berarti ia selalu ada harta dan ke­lapangan.

Itu sebabnya perlu ber­jarak untuk meminta kepa­danya dan tidak berke­terusan. Jangan tiap se­ben­tar, meminta kepada­nya. Walaupun itu bukan untuk kepentingan pribadi.

Ada juga sebagian orang yang merasa kalau dia sudah sering diberi dan dibantu, seolah-olah itu su­dah hak dia yang harus dite­rimanya. Dan seolah-olah sipemberi memang WAJIB membantunya. Dan kalau sekali-sekali tidak dibantu, maka ia men­jadi marah atau tersinggung. Ini ada­lah sifat yang tidak baik.

Kita harus menjaga hubungan baik dengan orang lain dengan menjaga hati orang tersebut. Agar tentunya kebaikan demi kebaikan bisa berlanjut. Wallahu A’lam bishs­ha­wab. (*)