METRO SUMBAR

Kembalikan Strategic Holding Semen Indonesia Group

0
×

Kembalikan Strategic Holding Semen Indonesia Group

Sebarkan artikel ini
Verry Mulyadi SH Sekretaris Komisi IV DPRD Sumbar/Ketua DPC Gerindra Kota Padang

Oleh: Verry Mulyadi SH (Sekretaris Komisi IV DPRD Sumbar/Ketua DPC Gerindra Kota Padang)

Holding BUMN PT Aviasi Pariwisata Indonesia atau yang dikenal dengan Indonesian Joueney (InJourney) merupakan gabungan perusahaan BUMN pariwisata dan penerbangan yang digabungkan sejak 2021.

Dalam holding ini tergabung PT Angkasa Pura, PT Integrasi Aviaso Solusi, PT Hotel Indonesia Natour, PT Sarinah, PT Taman Wisata Candi Borobudur Prambanan dan Ratu Boko, serta PT Pengembangan Pariwisata Indonesia.

Saat dipimpin oleh Donny Oskaria, Holding InJourney menjadi perusahaan besar dengan capain kinerja mumpuni. Meskipun diawal terbentuknya, tahun buku 2022, rugi Rp 993 miliar, namun di tahun buku 2023 mencatat laba Rp 1,1 triliun atau naik 211 persen.

Kami melihat bahwa keberhasilan yang dicapai oleh InJourney tak lepas dari ke­pemimpinan Donny Oskaria yang berhasil menerapkan Strategic Holding kepada anak perusahaannya.

Disebuah kesempatan berdialog dengan Donny Oskaria, kebijakan Strategic Holding yang dijalankan membuat anak usaha menjadi tidak terkungkung dengankebijakan induk usaha. Anak usaha dibiarkan berakselerasi sesuai dengan koridor dana turan. Induk usaha tinggal melakukan controlling atas kinerja anak usaha dan memberikan ara­han serta masukan agar anak usaha terus berjalan stabil.

InJourney Patut Dijadikan Contoh

Pada dasarnya, embrio holding BUMN ini berasal dari Semen Indonesia Group (SIG). Gabungan perusahaan di bidang persemenan sudah membuat blue print sejaktahun 2004, namun baru efektif berjalan sejak 2010. Ketika itu, Dirut SIG dijabat Dwi Soejipto.

Holding BUMN SIG menyatukan PT Semen Padang, PT Semen Gresik dan PT Semen Tonasa. Kemudian langkah berikutnya mengakuisisi Than Long Cement Vietnam pada 2012 serta mengakuisi Holcim pada 2019.

Saya menilai kebijakan Strategic Holding yang dilakukan InJourney ini merujuk kepada SIG. Pasalnya sejak 7 Ja­nuari 2013, SIG bertransformasi menjadi Strategic Holding. Artinya SIG pernah menjalankan Strategic Holding dengan tingkat keberhasilan yang bagus.

Terbukti perusahaan meraup laba 5,3triliun di tahun 2013 tersebut. Pada 2014 laba me­ningkat menjadi 5,57 triliun. Kemudian 2015 turun menjadi 4,57 triliun dan 2016 menjadi Rp 4,01 triliun karena beban operasional meningkat saat proses pembangunanPabrik Rembang dan Indarung VI.

Awal mula bencana mulai terjadi ketika Menperin (saatitu) Airlangga Hartarto membuka kran pembangunan pa­brik semen baru, sehingga membuat persaingan industri semen nasional menjadi ramai dan ketat. Alhasil kebutuhan semen dalam negeri menjadi over supply danpemain pun meningkat menjadi 15 perusahaan.

Anehnya pada 2018 MenteriAirlangga menolak moratorium pembangunan pabrik semen baru. Alasannya pembangunan industry strategis seperti pabrik semen perlu dijaga keberlanjutannya karena membawa efek berganda bagi perekonomian daerah dan nasional. Padahal di tahun 2018 itu Total kapasitas produksi pabrik semen di Indonesia mencapai 100 juta ton per tahun, tetapi konsumsi hanya 60-68 juta ton.

Kebijakan Operating Holding Membuat Kinerja SIG Me­nurun

Saya tidak tahu persis, kapan saja kebijakan strategic holding berubah menjadi ope­rating holding. Namun kebijakan tersebut membuat kinerja SIG pun saya nilai menurun drastis. Klaim menguasai 50 persen lebih market share persemenan nasional hanya diatas kertas.

Sebagai contoh, sejak kebijakan Operating Holding yang sudah berjalan beberapa ta­hun belakangan, kehadiran PT Semen Padang sangat kurang dirasakan masyarakat. Sektor UMKM lesu, kontraktor local terabaikan, bahkan kondisi ekonomi Sumbar menjadi me­ro­sot tajam.

Tak hanya di Sumbar saja, masyarakat Sulawesi Selatan pun juga kelimpungan dengan menurunnya kinerja PT Semen Tonasa. Hal tersebut disampaikan Anggota Komisi VI DPR RI Ismail Bachtiar saat RDP de­ngan SIG.

Kebijakan sentralisasi ter­sebut dirasa sangat merugikan masyarakat Sumatera Barat, karena keterbatasan kuasa dari manajemen PT Semen Padang, yang tidak bias bergerak leluasa dalam mengambil keputusan dalam membantu masyarakat. Selain itu juga akibat dari kebijakan sentra­lisasi ini, membuat strategi dalam memasarkan produk PT Semen Padang menjadi tidak berjalan efektif.

Salah Kaprahnya Strategi Pemasaran

Salah satu contoh kecil kebijakan pemasaran yang dikeluhkan konsumen adalah ketika harga satu sak semen di Kota Padang Rp 78.000 hingga Rp 80.000 terlalu mahal. Sementara harga semen pesaing se­perti Indocement berada di harga Rp 71.000, Semen Garuda serta Semen MerahPutih pada hargaRp 66.000. Bahkan Semen Conch dan Siam Cement lebih murah lagi, sehingga hal ini pernah diprotes keras Anggota DPR RI Andre Rosiade, karena menerapkan pre­datory pricing.

Masyarakat pun berpikir kenapa harga Semen Padang lebih mahal dari kompetitor, sementara keberadaan pabrik semen sangat dekat. Hal ini tentu menjadi stigma negative bagi perusahaan semen kebanggaan masyarakat Sumbar sendiri.

Meskipun secara kualitas, Semen Padang bukan tandingan semen lain, namun jomplangnya harga semen membuat masyarakat berpikir dua kali membeli produk Semen Padang.  Nah kami memandang strategi pemasaran se­perti ini salah kaprah. Sehingga membuat merk Semen Padang bias perlahan ditinggalkan oleh masyarakat.

Kritik pedas Andre Rosiade di Parlemen Nasional terkait strategi pemasaran SIG pun juga berkali kali disampaikan. Pasalnya kinerja SIG secara keseluruhan menurun drastic dari tahun ke tahun. Bahkan dengan bahasa skeptis Andre menyampaikan, jika hak ini terus dilakukan, bisa-bisa pabrik Semen Padang menjadi besi tua dan menjadi museum saja

Berdasarkan data yang dimiliki Andre Rosiade saat RDP dengan SIG Desember 2024, kinerja Indocement di kuartaltiga 2024 bisa dapat penjualan di angka Rp621 miliar dengan kiln semen sebanyak 12 buah. Lalu semen Merah Putih yang punya 2 kiln semen bias membukukan Rp252 miliar. Sementara itu SIG dengan 23 kiln semen hanya mampu membukukan penjualan Rp 218 mi­liar.

Harus Terapkan Strategic Holding

Tidak ada cara lain, kami meminta agar Kementerian BUMN segera mengubah kebijakan Operating Holding menjadi starategic holding. Karena tantangan 2025 industri persemenan nasional semakin ta­jam. Diperkirakan demand semen menurun.

Kebijakan penghematan yang dilakukan Presiden Prabowo danWapres Gibran, membuat anggaran proyek pembangunan infrastruktur pemerintah menjadi berkurang pula. Anggaran infrastruktur terbesar biasanya berada di Kementerian PUPR dengan rata-rata lebih dariRp 100 mi­liar pertahun, kini di 2025 ha­nya Rp 50 triliun saja.

Berikan kesempatan Semen Tonasa, Semen Padang, Semen Baturaja, Semen Gresik, SBI (Solusi Bangun Indonesia) menentukan pasar, karena mereka tahu pasarnya, tahu cara mengelola distributornya. Dengan strategic holding, perusahaan induk cukup menetapkan KPI dan SOP, sementara anak perusahaan bi­sabergerak lebih maksimal dan gesit.

Masyarakat juga perlu ber­sama sama membang­kitkan­kembali marwah PT Semen Padang ini, agar kesejahteraan masyarakat kembali mening­kat. (*)