BERITA UTAMA

Tadarus Alquran

0
×

Tadarus Alquran

Sebarkan artikel ini
Irsyad Syafar (Anggota DPRD Sumbar F-PKS)

OLEH: Irsyad Syafar (Anggota DPRD Sumbar F-PKS)

TADARUS Alquran di malam-malam Ramadhan adalah sebuah amalan yang mulia. Bahkan itu merupakan sunnah Rasulullah SAW. Di mana Malaikat Jibril as. selalu datang ke­pada Rasulullah SAW di bulan Ramadhan untuk mengengarkan dan atau menga­jar­kan Alquran. Dan itu setiap malam.

Sebagaimana yang terdapat di da­lam “shahihain” dari Ibnu Abbas yang ar­tinya “Sesungguhnya Jibril as. bertemu Nabi Saw di setiap malam di bulan Ramadhan. Beliau me­ngajarkannya Al Quran”. (HR Bukhari dan Muslim).

Para ulama menjelaskan bahwa kalimat “daarasa-yu­daarisu-mudaarasah”, mengandung makna: mem­bacakan dengan baik, menjaganya, menghafal­nya, mengulang-ulangi dan mempelajari kandungan­nya. Dan kalimat mudaarasah adalah mengandung makna pekerjaan yang dilakukan oleh dua orang atau lebih.

Dalam tadarus Ra­su­lullah SAW tersebut, Ma­laikat Jibril mengecek hafa­lan Rasulullah, sehingga tidak ada yang lupa dan salah. Juga mengajarkan Beliau makna atau maksud dari ayat-ayat tersebut. Sehingga Malaikat Jibril menjadi guru dan pem­bimbing langsung bagi Ra­sulullah SAW.

Inilah metode tadaarus yang benar dan ideal. Yaitu gabungan dari membaca Alquran dengan benar, mempelajari dan menta­dabburinya, menghafal dan juga mengamal­kan­nya. Dibimbing langsung oleh seorang guru yang kompeten.

Baca Juga  Pembunuh Nenek Jalani 27 Adegan Rekonstruksi

Allah SWT memuji orang-orang yang senan­tiasa mengajarkan dan mempelajari Alquran. Me­re­ka disebut sebagai ham­ba Allah yang Rabbany. Sebagaimana dalam fir­manNya dalam QS Ali Im­ran: 79. Artinya “Akan teta­pi (dia berkata) Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu sela­lu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan karena kamu tetap mempela­jari­nya”.

Di daerah kita ini, al­hamdulillah lumayan ba­nyak masjid yang masih menghidupkan sunnah ta­daarus. Biasanya dilaksa­nakan di masjid setelah usai shalat tarawih dan witir berjamaah. Namun dalam pelaksanaannya perlu disempurnakan be­be­rapa hal. Pertama, se­baik­nya tadarus itu dipim­pin oleh seseorang yang paham dengan Alquran.

Minimal dia memiliki kualitas tajwid yang baik, sehingga dia bisa menjadi guru/pembimbing dalam memperbaiki bacaan pe­serta tadaarus kalau ada yang salah dalam hukum tajwidnya. Kalau tidak di­per­baiki, maka tidak terjadi apa yang dinamakan ta­daarus. Dan kesalahan ter­sebut akan berlanjut terus sampai usia tua.

Baca Juga  Dapat Abolisi dari Prabowo, Tom Lembong Akhirnya Bebas dari Penjara

Kedua,fokus tadaarus hendaknya jangan menge­jar target khatam sampai akhir Ramadhan. Lebih baik targetnya adalah pe­ningkatan kualitas bacaan dan kemudian pemaha­man. Walaupun nantiknya hanya tuntas separo Al­quran atau mungkin ku­rang. Tidak mengapa, itu lebih baik. Sehingga ta­daarus itu bukanlah mem­baca Alquran cepat-cepat agar segera khatam.

Ketiga, sebaiknya ta­daarus Alquran itu tidak menggunakan pengeras suara (microfon). Sebab cukup banyak peserta ta­daarus itu yang bacaannya masih jauh dari standar dan yang tajwidnya bele­potan. Akibatnya adalah memperdengarkan ayat-ayat Alquran yang salah kepada publik. Lebih dari itu, juga untuk menjaga perasaan para tetangga masjid.

Mungkin di antara me­re­ka ada yang sakit, atau ­ada yang ingin tidur lebih awal untuk dapat bangun lagi di tengah malam me­laksanakan tahajjud. Maka tidak ada keperluannya mengeraskan suara ta­daarus keluar masjid. Cu­kup hanya bagi peserta ta­daarus saja, atau memakai microfon dalam.

Tadarus Alquran ada­lah sunnah Rasulullah SAW, mari dilaksanakan juga dengan cara yang terbaik. Wallahu A’lam bishshawab.  (*)