PADANG, METRO–Prosesi adat turun mandi untuk bayi yang baru lahir, merupakan salah stau tradisi yang masih melekat di Sumatera Barat. Acara selamatan bayi ini dilakukan dengan mencukur rambut bayi.
Hal inilah yang dilakukan Direktur Utama PT Farensa Ardina Abadi, Fahrul Budiman dan Nadya Khaira Nurdi. Pasangan ini melakukan turun mandi anak mereka bernama Nadhira Zevania Rulya, sekaligus mendoa dalam rangka menyambut Ramadhan 1446 H, Jumat (14/2), di jalan Arai Pinang Perumahan Griya Emya Blok C 1 Pengambiran
Tak hanya itu, syukuran dari Komisaris Utama PT Farensa Ardina Abadi, H. Irmansyah (Buyung Aman) beserta keluarga ini juga dalam rangka akan berangkat Haji.
“Kami atas nama keluarga besar Irmansyah (Buyung Aman) meminta doa kepada undangan yang hadir atas berkah yang diberikan Allah SWT,” ucap Buyung Aman.
Selain menunaikan sunnah Rasul mengangkat prosesi adat turun mandi bertujuan untuk melestarikan budaya Minangkabau yang sarat pesan dan makna yang dalam, sehingga perlu digalakkan kembali di tengah-tengah masyarakat.
Kegiatan melaksanakan mendoa dan mengambil rambut anak sekaligus mendoa dalam rangka menyambut bulan puasa dan syukuran kami dalam rangka akan berangkat naik Haji pada tahun 2025.
“Pada kesempatan ini dapat kami sampaikan kepada anak dan cucu untuk memperbanyak amal ibadah, perbanyak sabar, selalu berhemat, semoga anak dan cucu menjadi anak yang shaleh dan sholeha dan selalu dilindungi dari Allah SWT,” ucap Buyung Aman.
Dikatakan Buyung Aman, turun mandi adalah salah satu upacara adat Minangkabau yang masih terlestarikan hingga saat ini. Tradisi turun mandi ini sudah menjadi sebuah tradisi turun temurun dan bahkan sudah berabad lalu dilakukan, kepada bayi-bayi yang baru lahir.
“Upacara turun mandi merupakan upacara yang dilaksanakan untuk mensyukuri nikmat atas bayi yang baru lahir,” katanya.
Sementara itu tujuan dari turun mandi adalah untuk memperkenalkan kepada masyarakat bahwa telah lahir keturunan baru dari sebuah suku atau keluarga tertentu.
“Prosesi tasyakuran dan turun mandi ini merupakan upaya kita melestarikan adat dan budaya Minangkabau yang juga mempunyai makna cukup dalam, antara si anak dan bapaknya, sebaliknya juga demikian. Karena di Minangkabau ini, kita menganut paham matrilineal, sehingga dengan acara ini juga kita mencoba untuk menginformasikan adat budaya kita kepada anak dan kemenakan serta masyarakat secara keseluruhan, kira kira itulah makna acara tasyakuran ini kita selenggarakan,” ujarnya. (ped)






