ULAKKARANG, METRO – Tuntut perubahan sistem uang kuliah dari sistem paket ke sistem SKS, ribuan mahasiswa Universitas Bung Hatta (UBH) Padang, melakukan aksi demo di depan gedung rektorat UBH Kampus I Ulak Karang, Selasa (19/3).
“Karena uang kuliah paket tidak adil bagi mahasiswa yang mengambil mata kuliah kurang dari 24 SKS. Untuk itu kami meminta untuk dikembalikan pada sistem SKS, dengan demikian mahasiswa tidak diberatkan, karena dengan uang kuliah paket tersebut mahasiswa harus membayar Rp6 jatu hingga Rp7 juta. Padahal mahasiswa hanya ngurus skripsi,” kata Presiden Mahasiswa Fajri Indra Pratama, saat orasi di hadapan ribuan mahasiswa UBH yang disambut langsung Rektor dan Ketua Yayasan.
Ia menyampaikan, selain uang kuliah tinggi, mahasiswa juga menuntut tentang pembenahaan infrastruktur kampus. Karena, mereka sudah bayar mahal tetapi tidak setimpal dengan infrastruktur yang didapatkan mahasiswa.
“Fasilitas di kampus yang tidak sebanding dengan uang yang kami bayar mahal, seperti gedung perkuliahan yang bocor, labor komputer yang tidak memadai, masak dalam labor ada 20 komputer yang bisa digunakan hanya 5 unit. Ditambah lagi fasilitas masjid, lahan parkir dan sebagainya,” katanya.
Lebih lanjut tuntutan mahasiswa tentang masa studi yang telah ditetapkan Dikti, para mahasiswa meminta kebijakan kampus untuk mempertimbangkannya. Karena aturan tersebut baru disampaikan dan langsung diterapkan, seharusnya semua yang berhubungan dengan mahasiswa harus disosialisasikan dulu.
“Untuk itu kami meminta ada dispensasi kampus dan memberikan kemudahan kepada senior-senior kami yang saat ini sudah melewati 8 semester agar diberikan dispensasi. Karena mereka selama ini sudah membayar uang kuliah dan harus di-DO,” katanya.
Selain itu mahasiswa juga meminta kampus untuk transparan dalam penggunaan uang KKN bagi mahasiswa, ditambah lagi adanya kenaikan uang KKN tanpa ada kejelasan. Untuk apa dan bagaimana rincian penggunaan uang KKN tersebut.
“Kami dari BP 2016 dan 2017 dikenakan kenaikan uang KKN menjadi Rp1 juta dan tidak ada kejelasan untuk apa uang itu,” katanya.
Menanggapi tuntutan ribuan mahasiswa tersebut Rektor UBH, Azwar Ananda menyambut baik tuntutan dari mahaiswa. Pihak Rektorat dan Yayasan akan membahasnya dalam waktu satu minggu, kalau tidak rektor sendiri akan mundur jika itu tidak dilakukan.
“Tadi saya sudah tanda tangan tuntutan mereka, apabila dalam satu minggu ke depan tuntutan mereka belum dibahas maka saya akan mundur, sesuai dengan tuntutan dari mahasiswa,” kata Azwar Ananda.
Ia menyampaikan ada sebagian dari tuntutan itu sudah ada dalam perencanaan yang dikerjakan dalam tahun 2019 ini, seperti renovasi masjid yang telah dianggarkan lebih dari Rp100 juta. Sementara untuk tuntutan lain dipastikan akan dibahas dalam minggu ini.
“Kalau masalah uang kuliah itu juga pernah kami bahas dengan pihak yayasan. Mudah-mudahan itu bisa kita laksanakan pada semester depan. Sementara untuk masa studi itu adalah peraturan dari Dikti, apabila sudah melewati batas maka sistem dengan sendirinya mengeluarkan, bukan kami dari kampus yang melaksanakan itu,” kata Rektor didampingi Ketua Badan Pengurus Yayasan Pendidikan Bung Hatta Masri Hasyar.
Atas apa yang disampaikan Rektor tersebut, koordinator aksi Fajar mengatakan akan menunggu janji Rektor tersebut, apabila tidak dilaksanakan dalam satu minggu, maka ia dan rekan-rekan mahasiswa lainya akan kembali melakukan aksi dan meminta untuk menurunkan Rektor.
“Kami menghargai apa yang disampaikan rektor tentang meminta waktu dalam satu minggu ini. Jika tidak kami akan menuntut Rektor mundur, tetapi tidak sampai di sana, walaupun sudah mundur tuntutan kami juga harus direalisasikan,” katanya. (r/rgr)





