METRO PESISIR

2018, Ditemukan 43 Kasus HIV-AIDS di Padangpariaman, Kasus Homo Paling Menonjol

0
×

2018, Ditemukan 43 Kasus HIV-AIDS di Padangpariaman, Kasus Homo Paling Menonjol

Sebarkan artikel ini

PDG.PARIAMAN, METRO – Peningkatan temuan kasus HIV-AIDS di Kabupaten Padangpariaman terus terjadi. Periode Januari hingga Februari 2019 saja sudah ditemukan 21 kasus HIV-AIDS. Sedangkan 2018 lalu, jumlah kasus HIV-AIDS yang ditemukan hanya berjumlah 43 kasus.
Demikian diungkapkan Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Padangpariaman dr. Jasneli, kemarin, pada rapat koordinasi CSO dan jejaring tingkat daerah Sub-Sub Recipient (SSR) Aisyiyah Padangpariaman. Rapat dipimpin Koordinator Program TBC-HIV Care Aisyiyah Global Fund ATM Dasril dan dibuka Ketua PD Aisyiyah Yendranita.
Menurut Jasneli, pemeriksaan terhadap calon pengantin (catin) sebanyak 1.378 melalui Gerakan Nikah Sehat (Gernis) tahun 2018, ditemukan 10 kasus catin sudah hamil sebelum menikah. Rata-rata usia kehamilan catin tersebut 1 hingga 4 bulan. “Selain hamil sebelum menikah, juga ditemukan 1 kasus HIV, 2 sypilis dan 4 hepatitis positif,” kata Jasneli.
Catin yang terkena HIV, syphilis, hamil dan hepatitis positif, bukan berarti menghentikan pelaksanaan pernikahan pasangan catin yang sudah saling mencintai. Namun dengan diketahui ada pasangan catin menderita penyakit, keputusan untuk menikah atau membatalkan pernikahan tetap berada pada catin.
Dengan mengetahui penyakit tersebut, kasus penularan terhadap pasangannya bisa dicegah. Apalagi jika catin tersebut terkena HIV-AIDS, penularan tidak saja kepada pasangannya, tapi juga kepada anak yang akan dilahirkan. Dengan diketahui catin pengidap HIV, bisa dicegah penularan dengan adanya pengawasan dari tenaga kesehatan.
Dikatakan Jasneli, dari 43 kasus HIV-AIDS, sebanyak 21 orang aktifitas seksualnya adalah laki-laki suka laki-laki (LSL) atau homoseksual, 10 orang seks bebas yang tidak tahu pasangannya, 8 orang pasangannya HIV, dan 4 orang biseksual, yakni pasangannya laki-laki dan juga perempuan. Sedangkan usia penderita HIV-AIDS adalah 15-19 tahun satu orang, 20-24 tahun 7 orang dan 25-49 tahun sebanyak 35 orang.
Sekretaris Forum Kabupaten Sehat (FKS) Padangpariaman Armaidi Tanjung menyebutkan, temuan peningkatan kasus HIV-AIDS dan hamil sebelum menikah perlu menjadi perhatian semua pihak di Padangpariaman. Data ini menunjukkan perilaku seks bebas pranikah tidak bisa terbantahkan sudah terjadi di tengah masyarakat.
“Tingginya mobilitas orang dari dan ke luar Kabupaten Padangpariaman melalui budaya merantau juga bisa menjadi pemicu tingginya kasus HIV-AIDS. Di rantau seseorang melakukan hubungan seksual dengan pasangan tak resmi yang kemungkinan sudah terjangkit HIV-AIDS. Dirinya tidak mengetahui jika sudah tertular HIV-AIDS. Sampai di kampung melaksanakan pernikahan. Sesuai dengan Gernis, catin memeriksa kesehatannya ke Puskesmas. Di sanalah terungkap dirinya sudah terjangkit HIV-AIDS,” tambahnya mengakhiri.(efa)