BERITA UTAMA

Ketahanan Pangan Sumbar Nomor 5 Terbaik Nasional, Gubernur Mahyeldi Optimalkan Pengelolaan Irigasi

0
×

Ketahanan Pangan Sumbar Nomor 5 Terbaik Nasional, Gubernur Mahyeldi Optimalkan Pengelolaan Irigasi

Sebarkan artikel ini
PERBAIKAN IRIGASI— Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah didampingi Plt Kepala Dinas SDA-BK Sumbar, Ardiyansyah meninjau perbaikan jaringan irigasi di Kabupaten Agam, beberapa waktu lalu.

PADANG, METRO–Keseriusan Pemerintah Provinsi Sumatra Barat (Pemprov Sumbar) di bawah kepemimpinan Gubernur Mahyeldi Ansharullah dan Wakil Gubernur (Wagub) Audy Joinaldy dalam mengawal terealisasinya Program Unggulan (Progul) “Sumbar Berkeadilan” berbuah prestasi.

Provinsi Sumbar ber­hasil meraih peringkat 5 nasional dalam bidang ketahanan pangan. Progul Sumbar Berkeadilan itu berhasil diwujudkan me­lalui peningkatkan kualitas dan kuantitas infrastruktur pertanian dan perikanan berupa irigasi ke sentra-sentra produksi dan pema­saran hasil pertanian dan perikanan.

Gubernur Sumbar, Mah­yeldi Ansharullah menjelas­kan, sejak tahun 2021 silam Pemprov Sumbar terus konsisten mengalokasikan 10 persen APBD untuk sek­tor pertanian. Strategi ini juga diikuti dengan peme­liharaan rutin kondisi 65.007 hektare Daerah Irigasi (DI) yang menjadi kewenangan Pemprov Sumbar.

“Alhamdulillah, peme­liharaan jaringan irigasi yang selalu rutin kita lak­sanakan sejak empat tahun terakhir, akibatnya kita berhasil meningkatkan ha­sil produksi beberapa ko­moditas utama pertanian Sumbar termasuk padi,” ujar Mahyeldi di Padang, Kamis, (12/9).

Mahyeldi menjelaskan, data terakhir dari Dinas Pertanian Sumbar, capaian produksi padi Sumbar ta­hun 2023 berhasil menem­bus angka 1,482, 468  ton Gabah Kering Giling (GKG).

Capaian ini menegas­kan posisi Sumbar sebagai salah satu daerah lumbung padi terbesar di Tanah Air. Guna mempertahankan hal itu, Dinas Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi (SDA-BK) Sumbar terus berupaya memastikan ke­tersediaan supply air serta kondisi jaringan iri­gasi Sum­bar yang layak.

“Keberadaan jaringan irigasi sangat krusial bagi perkembangan sektor per­tanian hingga budidaya ikan air tawar Sumbar. Ke­tersediaan air juga penting untuk memastikan luasan sawah masyarakat tetap lestari dan tidak beralih fungsi,” ucap Mahyeldi.

Sebagai sektor krusial yang menopang keberlan­ju­tan produksi hasil perta­nian Sumbar, Pemprov Sum­bar melalui Dinas SDA-BK Sumbar selama empat tahun terakhir menggelon­torkan ratusan milliar ang­garan untuk pemeliharaan 65 DI yang menjadi kew­e­nangannya.

Baca Juga  Direktur Perusda Kemakmuran Mentawai Ditetapkan sebagai Tersangka Korupsi, Rugikan Negara Rp 7,8 Miliar

Pada tahun 2021 lalu, anggaran pemeliharaan ja­ringan irigasi yang dialo­ka­sikan sebesar Rp79,5 miliar.  Tahun 2022 (Rp67,7 miliar), tahun 2023 (Rp59,2 miliar), serta  tahun 2024 (Rp25,9 miliar). “Anggaran untuk pengelolaan sistem irigasi mengalami fluktuasi setiap tahunnya. Meskipun ada penurunan anggaran dari APBD, namun pera­watan irigasi tetap dilaku­kan se­cara masif” jelasnya.

Plt Kepala Dinas SDA-BK Sumbar, Ardiyansyah me­nambahkan, selama em­pat tahun terakhir, in­deks kinerja irigasi Sumbar terus meningkat. Pada tahun 2024, indeks kinerja irigasi Sum­bar Triwulan II mencapai 72,11 persen, meningkat 3,39 persen dari tahun 2020.

Capaian tersebut, tidak terlepas dari keseriusan Dinas SDA-BK dalam me­lakukan kegiatan pe­meli­haraan jaringan irigasi yang dilakukan sesuai ama­­nat Peraturan Menteri (Permen) PUPR Nomor 12/PRT/M/2015 tentang Eks­ploi­tasi dan Pemeliharaan dalam Upaya Memperta­han­kan Kondisi DI.

Dokumen Permen PUPR itu, memungkinkan Dinas SDA-BK Sumbar me­rekrut 439 personel pemeli­ha­raan jaringan irigasi yang disebar ke sembilan  wilayah pengamatan jari­ngan irigasi. Petugas Ope­rasi dan Pemeliharaan (OP) yang direkrut Dinas SDA-BK Sumbar, berasal dari masyarakat sekitar yang setiap bulannya digaji se­suai dengan standar Upah Minimum Provinsi (UMP) Sumbar.

“Mereka kita bekali de­ngan peralatan seperti cangkul, mesin  potong rumput, sepatu Boot dan alat pelindung diri dalam bertugas. Kinerja harian petugas OP, kita pantau lewat aplikasi Si Lihai seba­gai sarana pemantauan dan pelaporan kinerja pe­rawatan jaringan yang dila­kukan setiap harinya,” je­las Ardiyansyah mene­rang­kan.

Lebih lanjut ia sampai­kan, pada tahun 2025 nanti, luasan areal jaringan iri­gasi yang menjadi kewe­nangan Pemprov Sumbar akan semakin bertambah dari jumlah sebelumnya. Hal ini terjadi karena ada­nya perubahan regulasi kewenangan yang akan segera diberlakukan Ke­menterian PUPR.

Baca Juga  Meski Kalah dalam Pemilu di Sumbar dan Aceh, Prabowo Pastikan MBG Tetap Datang

“Tahun 2025 nanti, jari­ngan irigasi yang sebelum­nya menjadi kewenangan kabupaten/kota dipin­dah­kan menjadi kewenangan provinsi. Sesuai arahan Gubernur Mahyeldi, ang­garan pemeliharaan jari­ngan irigasi Sumbar ke­mungkinan besar akan di­tambah,” ungkapnya.

Apalagi, sebanyak 21 jaringan irigasi serta ben­dungan sumber pengairan utama Sumbar, menga­lami kerusakan im­bas dam­pak rentetan ben­cana alam  yang melanda bebe­rapa Kabupaten/Kota be­be­rapa waktu lalu.

Mengingat kondisi jari­ngan irigasi sangat berpe­ngaruh bagi sektor perta­nian, maka Dinas SDA-BK Sumbar telah mengupaya­kan sejumlah langkah pe­nanganan sementara un­tuk saluran irigasi yang rusak terdampak bencana. Se­perti pemasangan kawat Bronjong Free Intake serta pembangunan jembatan Bailey sementara di ben­du­ngan Koto Kandih Kabupa­ten Pesisir Selatan (Pessel).

“Pada APBD Peru­ba­han, kita mengalokasikan anggaran Rp1,5 miliar un­tuk penanganan irigasi di Koto Kandih. Penger­jaan­nya akan dimulai awal Ok­tober ini, dengan total ang­garan yang dibutuhkan sebesar Rp35 miliar untuk penanganan total dan pem­bangunan irigasi baru,” jelasnya.

Untuk menangani ke­rusakan bendungan dan jaringan irigasi utama Sum­bar ini, Pemprov Sumbar juga telah mengusulkan melalui sumber penda­naan dari Dana Siap Pakai (DSP) Badan Nasional Pe­nang­gulangan Bencana (BNPB).

“Usulan telah kita aju­kan, agar perbaikan jari­ngan irigasi Sumbar yang rusak karena bencana bisa segera dilakukan. Sehingga pola tanam dan perilaku masyarakat petani Sumbar tidak berubah hingga akhirnya  produksi hasil pertanian Sumbar dapat dipertahankan atau bah­kan berlipat ganda,” pung­kasnya. (AD.ADPSB)