BERITA UTAMA

Tingkatkan Kesiapsiagaan Masyarakat, Gubernur Sumbar Perkuat Mitigasi Bencana

0
×

Tingkatkan Kesiapsiagaan Masyarakat, Gubernur Sumbar Perkuat Mitigasi Bencana

Sebarkan artikel ini
04 Gubernur bersama mentan
MENINJAU— Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah bersama Menteri Pertanian, Amran Sulaiman meninjau lokasi terdampak banjir lahar dingin di Nagari Bukik Batabuah Kabupaten Agam, beberapa waktu lalu.

PADANG, METRO–Provinsi Sumatra Barat (Sumbar) memiliki potensi gempa dan tsunami di pu­sat Megathrust Siberut Utara Kabupaten Kepu­lauan Mentawai. Selain gempa dan tsunami, Sum­bar juga memiliki potensi bencana alam lainnya.

Jika dirinci, maka ada enam jenis bencana yang sering terjadi dan ber­ulang. Yaitu angin kencang, longsor, banjir, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), banjir bandang dan abrasi pantai.

Dari pemetaan yang dilakukan BPBD Sumbar sejak tahun 2014-2022, sedi­kitnya terjadi 6.274 ben­cana di seluruh kabupaten/kota. Bencana yang terjadi pada setiap kabupaten/kota itu berbeda sesuai dengan kon­disi geografis daerah.

Dengan kondisi Sum­bar yang memiliki begitu banyak potensi bencana alam tersebut, dibutuhkan upaya mitigasi guna memi­nimalisir risiko dan dam­pak yang ditimbulkan dari bencana alam yang terjadi.

“Untuk itu, setiap da­erah harus memiliki peta bencana. Sehingga ma­sing-masing daerah dapat lebih fokus pada mitigasi sesuai potensi bencana yang sering terjadi di da­erahnya,” kata Gubernur Sumbar, Mahyeldi An­sha­rullah kepada wartawan, kemarin.

Untuk mengurangi dam­pak bencana baik berupa kerugian harta benda dan juga keselamatan diri, ma­ka kesiapsiagaan masya­rakat harus terus diting­katkan dan mitigasi ben­cana diperkuat. Pemprov Sumbar melalui BPBD Sum­bar rutin melakukan simu­lasi bencana, mem­per­siap­kan Early Warning System (EWS) termasuk EWS in­klusi yang mengakomodir masya­ra­kat penyandang disabi­litas, ketersediaan Tempat Evakuasi Semen­tara (TES), jalur evakuasi dan sejum­lah program lainnya.

“Di sekolah ada nama­nya Satuan Pendidikan Si­aga Bencana (SPAB), yang tujuannya membangun bu­daya siaga dan aman di sekolah. Seluruh stakeholder di sekolah diberikan pelatihan tentang keben­canaan,” terang Mahyeldi.

Juga ada Kelompok Sia­ga Bencana (KSB) dan Desa Tangguh Bencana (Des­tana) di tingkat nagai/kelu­rahan. “Tujuan akhirnya adalah menuju Sumbar Tangguh Bencana,” tam­bah Mahyeldi.

Kepala Pelaksana (Ka­laksa) BPBD Sumbar, Rudy Rinaldy, menjelaskan, ter­kait potensi gempa dan tsunami Megathrust Men­ta­wai saat ini bisa diiiba­ratkan energinya masih terkunci. Untuk itu, BPBD Sumbar terus mematang­kan langkah kesiapsiagaan dan mitigasi menghadapi ancaman tersebut.

Selain itu, tujuh kabu­paten/kota yang berada di pesisir pantai Samudera Hindia,  hendaknya dapat meningkatkan kerja sama dengan seluruh stakehol­der kebencanaan untuk mitigasi bencana.

Baca Juga  KPK Panggil Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, Terkait Dugaan Korupsi DJKA Kemenhub

Upaya kesiapsiagaan dan mitigasi yang telah dilakukan di antaranya, menyediakan shelter di sepanjang wilayah pesisir. Saat ini sedikitnya tersedia 62 shelter tersebar di pe­sisir Sumbar. Shelter itu berada di bagian atas ba­ngunan yang ditetapkan, seperti masjid, sekolah, hotel dan perkantoran. Shelter yang telah ada hendaknya dikelola de­ngan baik dan dipelihara serta dirawat agar terjaga kebersihannya.

“Pembangunan seko­lah di daerah rawan ben­cana harus dilengkapi de­ngan shelter di bagian atas bangunan sebagai lokasi evakuasi saat terjadi gem­pa berpotensi tsunami. Selain sekolah, beberapa hotel, mesjid dan gedung perkantoran di Kota Pa­dang juga dilengkapi de­ngan shelter,” jelas Rudy.

BPBD Sumbar juga me­masang 42 unit EWS pada enam kabupaten/kota di pesisir kecuali di Kepu­lauan Mentawai. Untuk Kepulauan Mentawai, lang­kah mitigasi dilakukan de­ngan menerapkan kearifan lokal, seperti mengajak masyarakat evakuasi ke dataran tinggi jika terjadi gempa.

Lalu sembilan di antara 42 EWS itu adalah EWS inklusi sebagai pedoman bagi masyarakat penyan­dang disabilitas. “Ke depan, kita tengah memper­siap­kan pengadaan 300 EWS termasuk EWS inklusi yang akan dipasang pada selu­ruh kabupaten/kota,” katanya.

Selanjutnya, pembua­tan garis biru batas aman tsunami (Tsunami Safe Zo­ne) pada sejumlah ruas jalan di daerah rawan gem­pa berpotensi tsunami. Kota Padang sudah memi­liki garis biru ini pada bebe­rapa titik sebagai tanda bagi masyarakat untuk tidak perlu evakuasi lebih jauh bila telah bertemu garis biru ini.

Namun, yang tidak ka­lah pentingnya adalah si­mu­lasi bencana gempa dan tsunami. Masyarakat harus menyiapkan diri meng­ha­dapi bencana, termasuk pengetahuan terkait ke­bencanaan juga peralatan kegawatdaruratan. Simu­lasi harus dilakukan ber­ulang-ulang agar saat ter­jadi bencana, risiko dapat diminimalisir karena ma­syarakat sudah paham yang harus dilakukannya.

“Latihan atau simulasi bencana ini bukan hanya latihan sekali seumur hi­dup, tapi harus menjadi budaya dan pelajaran se­umur hidup. Karena kita semua tahu, Sumbar ada­lah daerah rawan bencana, semua jenis bencana ada di Sumbar. Khusus gempa, kita tidak bisa memprediksi kapan terjadinya,” jelas Rudy.

Baca Juga  Afgan Meriahkan Minang United Festival Milenial 2019, Milenial Sumbar Bangkit untuk Indonesia

Jadi, menyikapi potensi gempa dan tsunami megat­hrust itu, sebaiknya fokus pada upaya meningkatkan kesiapsiagaan mulai dari tingkat keluarga, memas­tikan rencana evakuasi mandiri, jalur evakuasi, memelihara shelter dan melatih kembali komu­nika­si risiko berbasis komu­nitas.

Selanjutnya, menyikapi bencana di luar gempa dan tsunami, menurut Rudy, pihaknya meminta seluruh BPBD kabupaten/kota un­tuk menyiapkan mitigasi bencana sesuai dengan profil bencana masing-masing daerah. Selain itu, pihaknya mendorong dila­kukan sosialisasi dan gladi kesiapsiagaan dan mem­pedomani merefer info dari BMKG tentang pe­rubahan cuaca dan info cuaca ekstrim.

Desa Tangguh Bencana

Untuk program Desa Tangguh Bencana (Des­tana), perwakilan 12 nagari yang ditunjuk sudah selesai mengikuti pelatihan ma­sing-masing 6 nagari di Pesisir Selatan yaitu, Na­gari Painan Selatan, Am­pang Pulai, Taratak, Air Haji Barat, Kambang Barat dan Ampiang Parak, serta enam nagari di Padang Pariaman yaitu Nagari Kuranji Hilir, Katapiang, Malai V Suku, Manggopoh, Ulakan dan Nagari Pilu­bang.

Masing-masing nagari mendapatkan sertifikat pelatihan yang dida­lam­nya mencantumkan enam komponen tentang tingkat ketangguhan suatu nagari, yaitu layanan dasar, pera­turan dan kebijakan pe­nanggulangan bencana, pencegahan dan mitigasi bencana, kesiapsiagaan darurat dan kesiapsiagaan pemulihan.

Sebelum pelatihan, ke­tika diuji, tingkat ketang­guhannya terbilang ren­dah. Namun setelah pela­tihan, terjadi peningkatan ketangguhan yang men­capai tingkat utama.

“Alhamdulullah. Sete­lah mengikuti pelatihan terjadi peningkatan ter­hadap komponen tingkat ketangguhan suatu nagari. Kita berharap, ilmu yang diperoleh dapat ditularkan kepada masyarakat nagari serta nagari-nagari tetang­ga yang juga memiliki ri­siko tinggi ancaman ben­cana,” ujar Rudy.

Destana adalah desa yang memiliki kemampuan mandiri untuk beradaptasi dan menghadapi ancaman bencana, serta memulih­kan diri dengan segera dari dampak bencana yang merugikan.

Dalam hal ini, masya­ra­­kat nagari/kelurahan ada­lah pelaku utama da­lam upaya penanggu­la­ngan bencana, dan sekali­gus menjadi k­e­lompok per­ta­ma yang me­nerima dam­­pak bencana. Oleh karena itu, penguatan ka­pasitas masyarakat di nagari/kelu­rahan adalah upaya stra­tegis untuk me­wujudkan “Sumbar Tang­guh Bencana”.

“Ini bagian dari upaya kita memperkuat mitigasi bencana. Jika mitigasi kita bagus, maka dampak ben­ cana bisa diminimalisir,” terang Rudy. (AD.ADPSB)