PADANG, METRO – Alat Peraga Kampanye (APK) calon legislatif (Caleg) dari partai politik (parpol) pengusung Capres dan Cawapres nomor urut 01 dari Sumbar tidak menggandeng foto Jokowi-Ma’ruf.
Ketua Forum Komunikasi Relawan Pemenangan Jokowi (FKRPJ) 2019, Mayjen TNI (Purn) Hartind Asrin sebut caleg setengah hati dalam memenangkan pasangan nomor urut 01.
Pernyataan Hartind ini menyusul sejumlah caleg partai pengusung Jokowi-Ma’ruf di Sumbar, khususnya di Kota Padang, banyak yang enggan lampirkan foto capres-cawapres di baliho APK mereka. Padahal sudah ada instruksi dari partai untuk melampirkan foto Jokowi-Ma’ruf di baliho caleg yang bertarung dalam pileg 2019.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan caleg pengusung nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Tampak di baliho masing-masing caleg itu memasang dan melampirkan foto Prabowo-Sandi. Hal itu terbukti di sejumlah ruas di Kota Padang seperti, di Jalan Alai, Jalan Khatib Sulaiman, serta Jalan Andalas.
“Saya rasa memang mereka (caleg pengusung Jokowi-Ma’ruf, red) setengah hati. Ya itu tadi pertimbangannya, caleg itu kan bisa timses, relawan atau pejabatnya gubernur. Mereka bilang kalau di Padang ini masih tim nomor urut 02,” kata Hartind, Kamis (7/3).
Saat disentil ketua pemenangan Jokowi-Ma’ruf Sumbar, Hendra Irwan Rahim juga ikut ogah pakai foto Jokowi-Ma’ruf di baliho-baliho kampanyenya, hartind enggan berkomentar. Dia malah memilih mengalih pembicaraan dan memberikan penilaiannya terhadap keengganan caleg biasa.
“Jadi kesimpulannya, masyarakat kita itu banyak terpapar hoaks, sehingga memilihnya banyak karena emosional. Kalau mereka rasional dan objektif bisa mempertimbangkan lah untuk memilih Jokowi-Ma’ruf,” tutur Hartind.
Lebih lanjut, Hartind berpendapat, fakta keengganan itu juga dipengaruhi karena pertimbangan para caleg akan kesulitan mendulang suara di masing-masing dapil mereka di wilayah Sumbar. Ketakutan terjadi, kata dia, juga karena pembiayaan kampanye yang dibebankan masing-masing caleg.
“Kemungkinan ini juga karena mempertimbangkan finansial mereka. Ya kalau kalah kan mereka juga yang rugi, jadi cari jalur aman saja,” sebut Hartind.
Sebelumnya diberitakan, Pengamat Politik dari Universitas Andalas (Unand) Kota Padang, Edi Endrizal berpendapat, minimnya baliho bergambar Jokowi-Ma’aruf dibandingkan Prabowo-Sandi karena dipengaruhi strategi masing-masing partai dan tidak bisa lepas dari pesan politik.
“Pasti tentunya strategi Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi berbeda. Memasang spanduk, foto dan baliho yang terkait dengan atribut partai tidak lepas dari strategi masing-masing partai, bukan pada kepentingan personal,” kata Edi, Kamis (17/1).
Strategi yang digunakan caleg dan parpol pendukung Capres-Cawapres nomor urut 01 khususnya di Sumbar, menurut Edi, erat kaitannya dengan pertimbang hasil Pilpres 2014 lalu dan perhitungan strategis mereka menghadapi Pemilu 2019 ini.
Edi menjelaskan, preferensi pemilih Sumbar yang khas baik secara ideologis maupun psikologis tetap masih kuat tampaknya yaitu bukan capres yang diusung PDIP. Secara sosiologis pasangan Jokowi-Ma’ruf yang lebih menonjolkan simbol NU cenderung juga kurang sesuai dengan afiliasi mayoritas Islam di Ranah Minang. (mil)





