ADINEGORO, METRO – Kiprah calon anggota DPR RI Dapil Sumbar 1 Andre Rosiade semakin paten di nasional. Selasa (5/3), Andre tampil sebagai narasumber acara talkshow paling bergengsi di Indonesia, yaitu Indonesia Lawyers Club (IL) yang dipandu jurnalis senior Karni Ilyas. Kali itu topiknya “Andi Arif Terjerat Narkoba, Pukulan Bagi 02?”
Saat mendapatkan kesempatan bicara, Andre tak menyia-nyiakannya. Katanya, pemakai narkoba ada di mana saja. Tidak hanya 02 seperti yang ada di dalam judul yang mengarah kepada pasangan Prabowo-Sandi. Katanya, kader 01 (mengarah pada Jokowi-Ma’ruf) malah ada yang jadi bandar besar.
“Andi Arif ditangkap polisi karena diduga memakai Narkoba di salah satu hotel di Jakarta. Sebagai Wasekjen DPP Demokrat, tak heran, isu ini digoreng untuk memojokkan 02. Dari Senin pagi sampai Selasa sore Andi Arif pakai Narkoba masih seksi di media,” kata Wasekjen DPP Gerindra ini.
Namun jangan lupa, kata Andre, Andi hanyalah pemakai. Polisi menyebut bukan bandar. Hal itu berbeda dengan jagoan-jagoan dari 01 yang tertangkap karena kasus sabu. Mereka bukan hanya pemakai, tapi bandar besar. Bahkan ada yang masih jadi anggota dewan. Jadi, tak perlu melihat pilihan politik seseorang untuk menyerang satu kubu.
“Di kubu 01, Yang paling mengerikan adalah kasus Ibrahim Hasan alias Ibrahim Hongkong, anggota DPRD Langkat, Sumatera Utara dari F-NasDem, partai pendukungnya Pak Jokowi. Dia ditangkap BNN. BNN menyita 100 Kg lebih sabu dan puluhan ribu butir ekstasi milik Ibrahim. Dia bukan sekadar pemakai, tapi bandar besar berjaringan internasional,” katanya.
Menurut Andre, kasus Ibrahim itu bahkan tak ubahnya dengan beratus-ratus Kg sabu yang diduga dikirim dari Tiongkok melalui Malaysia. “Apa pernah ini dikait-kaitkan dengan kubu 01. Kenapa tiba-tiba saat Andi Arif yang sebenarnya bukan juru bicara BPN, atau pengurus BPN dikait-kaitkan dengan 02?” katanya.
Di sisi lain, masih ada juga pendukung 01 yang jadi pemain narkoba. Yaitu Rika Verawati yang ditangkap polisi di pintu Tol Ciperna, Cirebon, Jawa Barat. Caleg DPRD Kuningan dari PKB kini menjadi pengedar narkotik jenis sabu. Dia juga berperan sebagai kurir sabu. Kasus ini juga bukti, kader perempuan dari partai yang dekat dengan ormas tertentu juga bisa terjerat narkoba.
“Kader partainya Pak Jokowi juga ada yang terjerat. Seperti Caleg DPRD Kota Jambi dari PDI Perjuangan berinisial SB ditangkap polisi karena diduga terlibat dalam pesta sabu. Hasil tes urine caleg nomor urut satu daerah pemilihan Palmerah itu positif narkoba. SB ditangkap tim Direktorat Reserse Narkoba Polda Saat sedang pesta narkoba di Kampung Pulau Pandan, Kelurahan Legok, Kecamatan Danausipin, Jambi,” katanya.
Siapa lagi, kata Andre, di Partai Golkar ada juga kadernya yang terlibat penyelundupan sabu 15 Kg di Sumut. Ketua Partai Golkar Kota Tanjungbalai, M Syahrial menyebut anggotanya diamankan polisi terkait kasus penyeludupan 15 Kg sabu. Agus, tersangka Narkoba, adalah ketua Golkar Kecamatan Tanjungbalai Selatan.
“Kami tak menutup mata, di Partai Gerindra juga ada kader yang terjerat Narkoba. Seperti mantan Wakil Ketua DPRD Bali yang juga politikus Partai Gerindra Gede Komang Swastika. Dia menjadi tersangka pengedaran narkoba dengan barang bukti 30 paket sabu,” kata ketua harian DPP Ikatan Keluarga Minang (IKM) ini.
Jadi, katanya, Narkoba adalah masalah bangsa. Tidak perlu dikaitkan dengan pilihan politik seseorang. Mau 01 atau 02. Negara harus benar-benar serius dalam memberantas narkoba ini. Karena masuk dalam extra ordinary crime atau kejahatan luar biasa. Jadi, mari kita jadikan kasus Andi Arif ini sebagai pelajaran bersama.
“Kami juga yakin, kasus Andi Arif tidak akan berpengaruh terhadap elektabilitas Prabowo-Sandi. Karena secara survei internal kami, 02 sudah mengungguli petahana. Kini kami fokus untuk terus menyosialisasikan program Indonesia Adil Makmur,” sebut Andre. (r)





