METRO SUMBARSAWAHLUNTO/SIJUNJUNG

Ada yang Beda di Rutan Sawahlunto, Napi Dilatih Produksi Kerajinan Tangan

0
×

Ada yang Beda di Rutan Sawahlunto, Napi Dilatih Produksi Kerajinan Tangan

Sebarkan artikel ini

SAWAHLUNTO, METRO – Hal tak biasa mungkin bisa dilihat di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas II B Kota Sawahlunto. Dari luarnya terlihat biasa saja, namun setelah ditelusuri ke dalam, rutan tersebut menyimpan para narapidana kreatif yang produktif.
Keseharian mereka sejak lima bulan belakangan ini berubah drastis setelah Kepala Rutan, Subhan Malik memimpin. Mereka dilatih memproduksi kerajinan tangan dari bahan-bahan rumahan yang mudah didapat. Seperti mengubah kertas koa menjadi sebuah hiasan, membuat cincin dari batok kelapa hingga membuat hiasan motor dari kertas bekas.
“Kami sangat berterima kasih pada Pemko Sawahlunto yang telah mendukung program kami. Hingga kini kami bisa menghasilkan beberapa kerajinan tangan mulai dari pembuatan hiasan mobil atau motor dari kertas koran bekas, cengklong rokok dan cincin dari batok kelapa,” ungkap Subhan.
Selain berbagai kerajinan tersebut sebutnya, kini narapidan rutan tersebut juga telah mengembangkan sarana cucian motor untuk umum, pembuatan batako dan paving blok. “Alhamdulillah pemasarannya hingga sekarang juga cukup lumayan, karena juga diperagakan pada dinas-dinas di pemko setempat,” ungkapnya.
Subhan menjelaskan, hasil produksi tersebut akan menjadi tabungan masing-masing napi. Dimana nantinya akan berguna menjadi modal awal bagi napi ketika bebas.
Salah seorang napi, Yance (41) mengatakan, hingga sekarang telah banyak kreatifitas yang dia buat. Mulai dari membuat pipa rokok dari serbuk kayu, mobil hingga motor dari kertas bekas.
“Saya merasa senang dengan aktifitas seperti ini karena tentu akan mengisi waktu selama kurungan ini. Saya harap masyarakat di luar dapat menerima dan menggunakan hasil produksi kami ini,” harapnya.
Selain itu, narapida juga diajarkan bermain musik Marawis. Marawis adalah salah satu jenis band tepuk dengan perkusi sebagai alat musik utamanya. Musik ini merupakan kolaborasi antara kesenian Timur Tengah dan Betawi, dan memiliki unsur keagamaan yang kental. Itu tercermin dari berbagai lirik lagu yang dibawakan yang merupakan pujian dan kecintaan kepada Sang Pencipta.
“Kami sadari kami ini bukan penjahat, tapi kami orang tersesat, yang mencoba menjadi manusia yang bertaubat. Jadi motto kami itulah yang terus kami kembangkan ke masyarakat bahwa, Yok tampilkan ke masyarakat kita bisa menjadi manusia yang baik,” sambung Subhan. (zek)