PADANG, METRO–Bencana banjir bandang dan longsor yang melanda 12 kabupaten dan kota di Sumatra Barat (Sumbar) pada Kamis (7/3) dan Jumat (8/3) lalu, mengakibatkan 30 orang meninggal dunia. Selain itu, masih ada enam orang dilaporkan hilang dan masih terus dilakukan pencarian.
Tidak hanya merenggut korban jiwa, banjir dan longsor membuat ratusan ribu warga Sumbar harus mengungsi. 37.265 unit rumah terdampak, 666 rumah rusak, 3 unit rumah hanyut, 26 unit jembatan rusak, 45 unit ibadah terendam, 25 unit sekolah terendam, 13 titik ruas jalan terdampak, 2 unit irigasi rusak, hingga lahan merusak lahan pertanian.
Kerugian yang ditimbulkan akibat bencana ini pun mencapai Rp 236 miliar. Sementara, dari 12 daerah di Sumbar yang dilanda bencana banjir dan longsor, lima di antaranya berstatus darurat, yakni Kota Padang, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), Kepulauan Mentawai, Pasaman Barat (Pasbar) dan Padangpariaman.
“Bencana ini cukup masif karena mengakibatkan korban jiwa 27 orang di Kabupaten Pesisir Selatan dan tiga orang di Kabupaten Padangpariaman meninggal dunia. Saat ini masih mencari enam orang lagi,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Suharyanto, Senin (11/3).
Dijelaskan Suharyanto, pihaknya akan terus mengintensifkan pencarian korban bencana yang hingga kini belum ditemukan. Waktu pencarian korban yang masih dinyatakan hilang tersebut akan dilakukan selama 7×24 jam. Apabila tim pencarian tidak menemukan korban, pemerintah akan berkomunikasi dengan pihak keluarga korban.
“Apabila keluarga sudah merelakan dan mengikhlaskan maka pencarian akan dihentikan. Namun, BNPB bersama tim pencarian masih berupaya mencari enam korban lainnya yang belum ditemukan. Kondisi medan yang cukup berat akibat tumpukan material longsor menjadi salah satu tantangan tim untuk mencari korban yang hilang,” ungkapnya.
Selain itu, kata Suharyanto, tim gabungan tetap berupaya maksimal mencari korban yang hingga kini belum ditemukan. Pada kesempatan itu, BNPB juga akan merelokasi 100 rumah di Kabupaten Pesisir Selatan yang terdampak banjir dan tanah longsor.
“Pemerintah daerah dalam proses penyiapan relokasi rumah warga yang terdampak banjir dan longsor termasuk lokasi atau tempat pendirian rumah-rumah tersebut. Nantinya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) atau BNPB yang akan membangun rumah-rumah relokasi tersebut,” ujarnya.
Suharyanto menuturkan, menyikapi kejadian bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Sumbar, BNPB menekankan beberapa hal. Di antaranya pemerintah daerah harus cepat tanggap turun ke lapangan dalam setiap kejadian bencana bersama unsur lainnya.
“Pemerintah daerah diimbau tidak ragu-ragu dalam menentukan status keadaan darurat bencana jika ada potensi atau terjadi bencana yang tidak dapat ditangani oleh daerah. Selanjutnya memerhatikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi setiap terjadi bencana alam. Hal itu bisa memanfaatkan anggaran belanja tidak terduga, dan sumber lain yang dapat dipertanggungjawabkan,” tegasnya.
Sementara Gubernur Sumbar, Mahyeldi mengatakan, bencana banjir dan tanah longsor disebabkan oleh sejumlah faktor. Di antaranya intensitas hujan yang cukup tinggi dengan durasi lebih dari 12 jam.
“Pemprov Sumbar menaksir kerugian sementara mencapai Rp 226 miliar lebih,” katanya. Saat ini bantuan sudah diberikan dan dapur umum sudah didirikan untuk korban banjir. Mahyeldi juga mengatakan selain penyebab bencana ini akibat curah hujan tinggi didukung penggundulan hutan.
“Dari hasil pendataan di lapangan, kami menemukan beberapa titik di kawasan longsor terjadi penggundulan hutan dan deformasi. Bangunan penahan dinding sungai rusak dan sejumlah faktor lainnya,” tuturnya.
Bencana hidrometeorologi terjadi akibat saluran drainase yang kurang berfungsi dengan baik sehingga terjadi penyumbatan di beberapa titik. Selain itu, pembangunan infrastruktur dan pemukiman warga yang tidak memperhatikan tata ruang wilayah.
Wilayah Kerusakan
Berdasarkan informasi dari Pusat Pusat Pengendalian Operasi (PUSDALOPS) BNPB, banjir dan atau longsor berdampak terhadap 10.150 keluarga atau 35.299 jiwa di wilayah Kota Padang. Sedangkan di Kabupaten Padangpariaman, dampak banjir dan atau tanah longsor menimpa 25.794 keluarga.
Di Kota Pariaman, banjir dan atau tanah longsor berdampak terhadap 800 keluarga atau sekira 2.958 jiwa. Di Kota Solok sebanyak 238 keluarga atau sekira 813 jiwa terdampak. Di Kabupaten Limapuluh Kota sebanyak 24 keluarga atau 100 jiwa terdampak.
Sementara, di Kabupaten Agam sebanyak 36 keluarga atau sekira 144 jiwa terdampak, Kabupaten Solok sebanyak 10 keluarga terdampak dan Kabupaten Pasaman Barat sebanyak 31 keluarga terdampak. Di Kabupaten Pasaman sebanyak 191 keluarga.
Dampak Kejadian banjir dan longsor memaksa warga untuk mengungsi. Di wilayah Kota Padang sebanyak 3.734 jiwa mengungsi, Kabupaten Pesisir Selatan sebanyak 29.483 keluarga atau sekira 76.178 jiwa mengungsi, dan Kabupaten Agam sebanyak 49 keluarga atau sekitar 209 jiwa mengungsi. (*)






