METRO SUMBAR

Rasakan Suasana Minangkabau Tempo Dulu, Nikmati Keindahan Perkampungan Adat Nagari Sijunjung

0
×

Rasakan Suasana Minangkabau Tempo Dulu, Nikmati Keindahan Perkampungan Adat Nagari Sijunjung

Sebarkan artikel ini
KAMPUNG ADAT— Sejumlah keunikan nilai-nilai adat dan budaya yang berumur ratusan tahun masih tersaji pada desa wisata Perkampungan Adat di Jorong Padang Ranah dan Tanah Bato, Kecamatan Sijunjung Kabupaten Sijunjung.

SIJUNJUNG, METRO–Jika ingin tahu banyak tentang nilai-nilai adat dan budaya Minangkabau, maka datanglah ke Perkampungan Adat Nagari Sijunjung, Kecamatan Sijunjung, di Kabupaten Sijunjung. Perkampungan adat ini boleh dikatakan lorong waktunya adat dan budaya Minangkabau. Masyarakat di perkampungan adat ini masih memegang teguh nilai-nilai adat dan budaya yang diwariskan secara turun temurun.

Sejumlah keunikan nilai-nilai adat dan budaya yang berumur ratusan ta­hun masih tersaji pada desa wisata Perkampu­ngan Adat di Jorong Pa­dang Ranah dan Tanah Bato, Kecamatan Sijunjung Kabupaten Sijunjung itu.

Salah satunya kebe­radaan balobeh. Balobeh merupakan gudang gabah masyarakat yang menjadi simbol ketahanan pangan hingga kunci terbebasnya daerah itu dari kemiskinan ekstrem.

Balobeh yang terletak tidak terpisah dari ruang rumah gadang, isinya a­dalah tumpukan gabah dan di atasnya digunakan untuk tidur hingga berkumpul.

Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN), Candra Ira­wan saat diwawancarai pada Kegiatan Fam Trip Dinas Pariwisata Sumbar, Rabu (6/3) mengatakan, rumah gadang yang ada di Perkampungan Adat Nagari Sijunjung berbeda dengan kebanyakan rumah gadang yang ada di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar).

Baca Juga  Tingkatkan Minat Baca Generasi Muda, Wabup Resmikan Pustaka Buku

“Biasanya menggu­na­kan kebanyakan rumah gadang di Sumbar menggunakan rangkiang untuk menyimpan padi dan beras sebagai cadangan makanan, sementara di Sijunjung menggunakan balo­beh,” katanya.

Dia mengatakan padi yang dipanen masyarakat bukan untuk dijual melainkan disimpan untuk kebutuhan kaum penghuni rumah gadang. Jadi tidak ada istilah kemiskinan ekstrem di sini. Karena akan ada makanan yang bisa dikonsumsi setiap hari.

Sekedar diketahui, di perkampungan adat Nagari Sijunjung memiliki 76 rumah gadang. Usianya sudah ratusan tahun. Sebanyak 40 di antaranya dialihfungsikan menjadi homestay. “Untuk para wisatawan yang datang dan menginap di rumah gadang ini akan merasakan langsung sendi-sendi sosial kehidupan masya­rakat setempat, termasuk adat istiadatnya,” kata­nya.

Dijelaskannya, setiap rumah gadang Perkampungan Adat Nagari Sijunjung memiliki satu alat tenun tradisional, setiap harinya para perempuan di rumah gadang menjalankan aktivitas memproduksi kain sonket dengan cara tradisional.

Perkampungan Adat Nagari Sijunjung ini dapat menjadi salah satu pilihan bahi wisatawan untuk menikmati liburan menelusuri nilai-nilai adat dan budaya Minangkabau.

Bagi yang ingin mengetahui dan belajar nilai-nilai adat dan budaya Minang­kabau, tidak akan puas da­lam sehari kunjungan. Bagi pengunjung yang ingin menginap dan dapat merasakan langsung tinggal di dalam rumah gadang berusia ratusan tahun tersebut, untuk tarif per malamnya Rp300 ribu. Rumah gadang tersebut bisa diisi lima orang. Mayoritas wisatawan yang datang ke Perkampungan Adat Nagari Sijunjung adalah pelajar dari kalangan mahasiswa hingga peneliti budaya internasional,” kata Candra.

Baca Juga  Libatkan Tokoh Masyarakat, Silahkan Laporkan Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak!

Candra juga meng­ung­kapkan, dalam upaya peningkatan Sumber Daya Ma­nusia (SDM) untuk pe­layanan wisatawan yang datang Perkampungan Adat Nagari Sijunjung, m­asyarakat di Perkampungan Adat dibina oleh salah satu Bank Swasta di Indonesia.

Sekadar siketahui, Wi­sata Perkampungan Adat Nagari Sijunjung berhasil lolos dalam 75 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) tahun 2023. Pada kompetensi itu Secara geografis kampung adat ini terletak diantara dua sungai yakni Batang Sukam dan Batang Kulampi. Perkampungan ini terhampar sekumpulan Rumah Gadang (Rumah Adat Suku Minangkabau) seba­nyak 76 buah sebagai simbol kaum (clan) berbasis matrilineal yang masih berfungsi dan dibangun serta tertata rapi dalam satu kawasan.(fan)