METRO SUMBAR

Keluarga ‘Siala Sappagul’ Sambut Ramadhan dengan Tradisi Mangalomang

1
×

Keluarga ‘Siala Sappagul’ Sambut Ramadhan dengan Tradisi Mangalomang

Sebarkan artikel ini
MANGALOMANG--Menyambut bulan suci ramadhan, keluarga besar perkumpulan ‘Siala Sappagul’ Kota Padang mengadakan tradisi mangalomang (membuat lemang) secara bersama-sama. di Sungai Bangek, Koto Tangah.  Minggu ( 3/3).

 PADANG, METRO–Menyambut bulan suci ramadhan, keluarga besar parsadaan (perkumpulan) ‘Siala Sappagul’ Kota Pa­dang mengadakan tradisi mangalomang (membuat lemang) secara bersama-sama serta mendengarkan ceramah agama. Kegiatan mangalomang dilaksanakan di daerah Sungai Ba­ngek, Kecamatan Koto Ta­ngah.  Minggu ( 3/3).

Lemang merupakan makanan yang terbuat dari beras ketan dan diolah bersama santan lalu dimasukkan ke dalam bambu kemudian dibakar. Lemang me­rupakan menu penting bagi masyarakat Angkola Si­pirok Tapanuli Selatan terutama pada saat saat menyambut hari –hari besar Islam. Biasanya ini dilaksanakan pada saat me­nyambut bulan puasa ramadhan dan hari lebaran.

“ Kami masak lemang secara bersama-sama ini, selaian sudah menjadi tradisi juga melepas rindu akan kebiasaan di kampung halaman saat menyambut bulan ramadhan,” ungkap Ketua Parsadaan Siala Sap­pagul, Lukman Simamora.

Lukman juga menje­laskan bahwa parsadaan ‘Siala Sappagul’ merupakan wadah atau perkumpulan perantau yang berasal dari warga Angkola/ Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan dan berdomisili di Kota Padang.

“Perkumpulan ini dibentuk sebagai salah satu sarana untuk saling mengenal, berinteraksi dan berkomunikasi dengan sesama warga Angkola Sipirok yang berdomisili Kota Padang. Juga sebagai se­rikat tolong-menolong dan wadah membantu perma­salahan sosial diantara anggota,” jelasnya.

Katanya, meski belum satu tahun dibentuk, anggota Siala Sappagul saat ini sebanyak 60 orang. Semuanya berasal dari Angkola Sipirok.  ”Di sini kami juga juga belajar budaya Angkola Tapanuli dan mewariskannya kepada anak-anak kami,” lanjutnya.

Sejak Minggu pagi sekitar pukul 80.00 WIB, pro­sesi pembuatan lemang su­dah mulai terlihat sibuk. Sebagian membuat api unggun dan sebagian lagi mempersiapkan bahan-bahan untuk membuat lamang seperti beras ketan, santan, dan juga daun pi­sang, kemudian memasukkannya ke dalam ruas bambu yang sudah dipotong potong.

Rasa kekeluargaan itu semakin terasa ketika pekerjaan tersebut dilakukan secara bersama-sama. Sebagian ibu-ibu sibuk memasukkan beras ketan ke dalam ruas bambu yang telah dilapisi daun pisang dan mengantarkannya ke tempat pembakaran yang telah disiapkan para ba­pak-bapak.

Proses pembuatan lemang memakan waktu yang cukup lama. Sembari menunggu lemang matang, sebagian asyik ngobrol dan bercanda gurau.  Setelah shalat Ashar, lemang pun masak.  Kegiatan pun dilanjutkan dengan mendengarkan ceramah agama tentang menyambut bulan suci ramadhan dari ustadz Bahrum rambe.

Kemudian, dilanjutkan dengan acara makan lemang bersama-sama dan tradisi saling maaf-maaf­an. Ini dilakukan agar da­lam melaksanakan iba­dah puasa lebih bernilai positif karena salah dan dosa sesama manusia telah terhapuskan. (hsb)