METRO PADANG

Semua Sate di Padang Halal dan Aman, Mahyeldi: Cuma 1 yang Bermasalah

1
×

Semua Sate di Padang Halal dan Aman, Mahyeldi: Cuma 1 yang Bermasalah

Sebarkan artikel ini

PERMINDO, METRO – Wali Kota Padang, Mahyeldi Ansharullah mengajak masyarakat untuk tidak perlu takut mengkonsumsi kuliner sate yang ada di Kota Padang karena sudah dijamin halal dan aman. Pasalnya, jangan hanya satu pedagang yang bermasalah, semua pedagang sate terkena dampak.
“Saya pastikan cuma satu pedagang yang bermasalah, yaitu sate KMS B. Yang lainnya tidak ada masalah. Halal dan aman. Makanya, saya mengajak masyarakat untuk ragu-ragu lagi beli sate. Kita pastikan aman,” kata Mahyeldi ketika membuka Festival Sate di Permindo, Sabtu (16/2).
Mahyeldi mengungkapkan, Sate Padang salah satu kuliner yang sudah mendunia, sekaligus kuliner kebanggaan warga Minang. Makanya, pada saat mendengar ada oknum pedagang sate diduga memakai daging babi sebagai bahan untuk pembuatan sate, ia sempat kaget.
“Dampaknya memang sangat besar. Satu bermasalah, semuanya yang merasakan. Untuk itu, ketika ditemukan maka kita proses hukum untuk memberikan efek jera. Sekarang sudah diproses oleh polisi. Tinggal menunggu apa sanksinya. Di Padang banyak pedagang sate dan cuma satu yang berkasus,” ungkap Mahyeldi.
Untuk membangkitkan kembali geliat makan sate, Mahyeldi mengapresiasi telah dilaksanakannya Festival Sate yang digagas Dinas Perdagangan dan Kelompok Pedagang Jalan Permindo. Dengan festival ini, diharapkan dapat mengembalikan kepercayaan publik terhadap kuliner sate.
“Mudah-mudahan dengan acara ini meningkatkan kesadaran kita bahwasanya sate di Padang, insya Allah halal semuanya. Saya saja sangat suka makan sate. Kecuali satu yang kemarin sedang diproses hukum, sate KMS B. Semoga ke depan tidak akan ada lagi hal serupa,” jelas Mahyeldi.
Pasca kejadian itu terang Mahyeldi, ia berharap agar pedagang sate bisa bangkit. Mahyeldi telah mengarahkan OPD-OPD-nya, jika mengadakan rapat supaya ada sate. Bahkan, kepada masyarakat yang mengadakan baralek diimbau menyediakan menu sate.
“Salah satu solusinya agar warga bisa semakin dekat dengan sate, diharapkan warga yang baralek ada menu sate. Begitu juga, saat dinas-dinas mengadakan ada rapat, maka ada sate. Kita arahkan, sehingga memang sate ini bangkit kembali. Pemerintah berkewajiban melindungi masyarakatnya,” ungkap Mahyeldi.
Mahyeldi memastikan selama ini belum ada yang mengadakan Festival Sate dan ini yang pertama digelar di Kota Padang. Namun masyarakat ternyata sangat antusias. Hal itu dibuktikan, meskipun diguyur hujan warga tetap bertahan hingga kegiatan berakhir menikmati jajanan kuliner sate yang disediakan para pedagang.
“Insya Allah nanti ada lagi Festival Sate. Kita berharap para pelaku usaha dapat memanfaatkan kesempatan ini, sehingga ke depan dapat membangkitkan kembali semangat pedagang sate berjualan dan kuliner sate kembali menjadi salah satu menu utama,” ungkap Mahyeldi.
Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Kota Padang, Endrizal menyebutkan dampak buruk perilaku oknum pedagang sangat merugikan banyak pihak. Salah satu dampaknya menghilangkan kepercayaan masyarakat terhadap kuliner sate.
“Sekarang kita merasakan dampak negatif dari perilaku oknum pedagang tersebut, perbuatannya tidak saja merugikan diri sendiri dan keluarga, tetapi jauh lebih besar telah menghilangkan kepercayaan masyarakat terhadap kuliner sate. Hampir semua pedagang sate menurun omset jual belinya,” ungkap Endrizal.
Penasehat Kesatuan Pedagang Jalan Permindo (KPJP), Miko Kamal, menyebutkan Festival Sate diadakan supaya masyarakat menjadi sadar, bahwa tidak semua pedagang sate itu yang tidak baik. Justru banyak yang baik-baik. Festival ini karena dipicu atas kejadian beberapa waktu lalu.
“Pedagang sate yang baik juga terkena imbas setelah ditangkapnya pedagang sate yang tidak baik itu. Pedagang sate yang diundang 30 pedagang sate, tetapi yang ikut sekitar 22 pedagang. Kemudian ditambah dengan non sate seperti Kopi Ongga, dan kripik yang dibuat penyandang disabilitas, serta Teh Sosro, dan lainnya. Harga satu porsinya 10 ribu,” pungkasnya. (rgr)