JAKARTA, METRO – Indomatrik merilis hasil survei terbaru terkait elektabilitas (tingkat keterpilihan) pasangan calon Presiden dan calon wakil Presiden (Capres-Cawapres) yang maju di pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Hasilnya, selisih elektabilitas Joko Widodo-Ma’ruf Amin dengan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno cuma 3,93 persen saja.
Hal ini berbeda dengan informasi sejumlah survei beberapa bulan terakhir yang menyatakan perbedaan kandidat ini masih di kisaran 20 persen. Indomatrik bukan lembaga survei perdana yang menyebut perbedaan ini sudah di bawah 10 persen. Sebelumnya juga ada Median yang menyebut perbedaan 01 dan 02 hanya tinggal 9,2 persen saja.
Hasil survei terbaru itu dipaparkan Direktur Riset Indomatrik, Syahruddin YS di Hotel Ibis Cikini, Jakarta pada Jumat (15/2) sore. Dari hasil survei lembaga ini, Jokowi-Ma’ruf memang masih unggul, tapi elektabilitasnya tidak melebihi 50 persen. Hal ini tentu menggembirakan penantang.
”Pasangan Prabowo-Sandi mendapatkan simpati publik sebesar 44,04 persen, sedangkan Jokowi-Ma’ruf 47,97 persen. Responden belum menentukan pilihan, tapi akan berpartisipasi di Pilpres 7,99 persen, “ ucap Syahruddin.
Survei tersebut dilakukan pada 21-26 Januari 2019 dan dilaksanakan secara proporsional di 34 provinsi se-Indonesia. Responden merupakan para pemilih usia 17 tahun atau sudah menikah dan terdaftar di KPU.
Jumlah sampel respondennya sebanyak 1.800. Penentuan responden dilakukan secara random sistematis, dengan margin of error 2,8 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Penarikan sampel dilakukan dengan metode multistage random sampling.
Syahruddin menerangkan, posisi elektabilitas Prabowo-Sandi di angka 44,04 persen disebabkan oleh beberapa asumsi responden. Di antaranya mereka beralasan ingin perubahan, mampu memperbaiki ekonomi, bisa membawa Indonesia lebih baik dan figur paslon 02 dipandang berkarakter tegas dan berwibawa.
Sementara figur Jokowi-Ma’ruf memperoleh elektabilitas 47,97 persen karena dianggap kerjanya terlhat, memberikan bantuan berupa materi terhadap warga, merakyat, dan berpengalaman.
“Selisih elektabilitas keduanya di angka 3,93 ini karena dampak penilaian masyarakat terhadap rendahnya kinerja Jokowi yang tidak sesuai dengan janji kampanyenya 2014,” ucap Syahruddin.
Selisih yang sangat tipis, di bawah 10 persen itu menurutnya sangat riskan bagi incumbent. Pasalnya, waktu yang masih tersisa tinggal dua bulan ke depan merupakan peluang dan kesempatan emas buat pasangan Prabowo-Sandi mengejar ketertinggalan.
Diragukan TKN
Menanggapi hasil survei itu, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar atau Cak Imin menilai hasil itu sebagai cambuk bagi timnya. Ia menyebut hasil survei itu menjadi penyemangat untuk bekerja. “Survei-survei menjadi cambuklah, penyemangat kita untuk bekerja sesuai yang kita harapkan dengan berbagai fakta-fakta survei yang ada,” ujar Cak Imin yang mendukung Jokowi-Ma’ruf.
Menurut Cak Imin, pihaknya memiliki strategi tersendiri untuk memperbesar selisih elektabilitas Jokowi dan Prabowo. Timnya akan lebih berkonsentrasi pada daerah tempat suara Jokowi belum terlalu kuat. “Kita akan konsentrasi pada basis-basis yang dibilang masih perlu peningkatan elektabilitas, misalnya Banten, DKI, Jawa Barat. Jawa Timur, Jawa Tengah paling aman,” ungkapnya.
Berbeda, Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Abdul Kadir Karding, meragukan hasil survei Indomatrik yang menunjukkan elektabilitas Prabowo Subianto semakin mendekati capres petahana. Karding mengaku baru mengetahui ada lembaga survei bernama Indomatrik.
“Hasil survei dari Indomatrik ini secara pribadi saya sangat tidak mempercayai sebagai suatu kajian yang objektif dan ilmiah. Yang pertama, jujur baru hari ini saya mengenal dan membaca ada lembaga Indomatrik,” ujar Karding.
Sementara Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Andre Rosiade menyebut selisih (3 persen, red) itu sudah terjadi sejak Desember 2018. Jadi bila akhir bulan ini survei internalnya sudah tuntas maka Prabowo-Sandiaga kemungkinan besar unggul dari Jokowi-Ma’ruf.
“Hanya (selisih) single digit sehingga saat ini BPN Prabowo-Sandi sedang ambil sampel di lapangan. Ini optimisme dan keyakinan kami setelah beberapa bulan bekerja,” ucap Andre.
Katanya, dalam opini dan narasi Jokowi masih menang 20 persen, itu cara dilakukan oleh Ahok-Djarot (dalam Pilkada DKI Jakarta 2017). “Survei internal kami, ini selama ini dipakai untuk mengampanyekan Anies-Sandi. Terukur dan ilmiah untuk memenangkan, Prabowo-Sandi,” imbuh Andre.
Andre menyebut bila survei internal yang dilakukannya akan tuntas akhir bulan ini. Hasilnya menurut tim Prabowo-Sandiaga itu berpihak pada capres-cawapres nomor urut 02 tersebut.
“Insya Allah 2 minggu lagi survei selesai. Catatan kami, tentu akhir Februari sudah unggul dari Pak Jokowi-Kiai Ma’ruf,” ujarnya. (fat/jpnn)





