METRO SUMBAR

APBD Terbatas, Gubernur Mahyeldi Buka Peluang Gunakan Sukuk Daerah

0
×

APBD Terbatas, Gubernur Mahyeldi Buka Peluang Gunakan Sukuk Daerah

Sebarkan artikel ini

PADANG, METRO–Pemerintah Provinsi Sumatera Barat membuka peluang memanfaatkan Obligasi Syariah atau Su­kuk Daerah untuk pembiayaan sejumlah pemba­ngunan. Rencana itu mengingat terbatasnya Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Sumbar. “Kita sadari APBD kita tidak kuat untuk membiayai semua rencana pembangu­nan kita. Sementara kita harus tetap bergerak mem­bangun,”sebut Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah didampingi Kepala Badan Perenca­naan Pembangunan Dae­rah (Bappeda) Sumbar, Medi Iswandi, Senin (29/1).

Sukuk Daerah merupakan surat berharga syariah yang diterbitkan oleh pemerintah daerah atau lembaga milik pemerintah daerah yang bertujuan untuk membiayai pemba­ngunan daerah. Sumber dananya dari Badan Pe­ngelola Keuangan Haji (BP­KH). Sukuk daerah merupakan salah satu pembia­yaan yang strategis.

Diungkapkannya, selain APBD Pemprov Sumbar juga tidak bisa mengandalkan Anggaran Pen­dapat­an Belanja Negara (APBN) untuk mebiayai sejumlah pembangunan di daerah. Karena, alokasi dari APBN ke Sumbar juga terbatas.

“Kita ada dana APBN, tapi itu sudah ada penggunaannya. Tidak bisa kita apa-apakan lagi. Makanya kita harus mencari sumber pendanaan lain untuk pem­bangunan,”ujarnya.

Untuk itu, dengan perhitungan yang matang, diperlukan sumber dana untuk pembangunan pro­yek-proyek strategis sesegera mungkin. Targetnya akan memberikan mul­tiplier effect yang luas kepada kebermanfaatan bersama bagi masyarakat.

Menurutnya, sukuk bukan merupakan utang, te­tapi bentuk investasi kepemilikan bersama dengan seluruh pemegang sukuk atas aset yang menjadi dasar penerbitannya. Peng­gunaan Dana Sukuk sesuai dengan Prinsip Syariah, seperti untuk pembiayaan proyek, modal kerja, investasi, pembelian aset untuk meningkatkan kapasitas produksi.

Kemudian, imbal hasil bergantung pada Akad Penerbitan Sukuk, apakah Sukuk Mudharabah, Sukuk Musyarakah, Sukuk Istishna, Sukuk Salam, Sukuk Ijarah, Sukuk Wakalah, atau Sukuk Khafalah.

“Ini bisa kita lakukan karena sesuai dengan prinsip syariah. Sukuk menjadi pilihan yang menarik sebagai sumber pembiayaan berbasis syariah. Tidak hanya bagi penerbit sukuk, investor syariah juga membutuhkan sukuk sebagai instrumen investasi karena mereka hanya ingin berinvestasi pada instrumen syariah,”ungkapnya.

Selain itu adanya, fleksibilitas dalam pengembangan produk. Sukuk dapat dikembangkan menjadi berbagai variasi produk karena sukuk distrukturisasi berdasarkan akad-akad dasar dalam konsep syariah yang jumlahnya cukup banyak.

Potensi permintaan yang besar dengan cakupan investor yang lebih luas. Potensi permintaan terhadap sukuk cukup tinggi seiring tingginya pe­ningkatan jumlah dan dana lembaga keuangan syariah serta masih rendahnya pangsa pasar produk syariah dibandingkan produk konvensional.

Selain itu, instrument sukuk juga lebih luas di­bandingkan dengan instrument konvensional. Di mana investornya tidak hanya berasal dari investor syariah saja, tetapi juga investor konvensional, baik domestik maupun internasional.

Khususnya bagi ma­sya­rakat Sumatera Barat, baik yang ada di Sumatera Barat maupun yang di perantauan (Minang Diaspora), adanya Sukuk Daerah merupakan suatu instrumen untuk bisa turut membangun kampung halaman. Tujuannya, agar Su­matera Barat semakin maju dengan penerapan instrumen yang selaras dengan falsafah masya­rakat Minangkabau yakni Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah.

“Kita sedang pelajari dan mendalami peluang penerbitan Sukuk Daerah untuk membiayai kegiatan investasi sektor publik yang menghasilkan pene­rimaan dan memberikan manfaat bagi masyarakat yang menjadi urusan kita berdasarkan peraturan perundangan yang ber­laku,”ujarnya.

Di Sumbar penggunaan Sukuk Daerah ini dapat digunakan untuk pembia­yaan infrastruktur serta sarana prasarana pela­yanan publik seperti, pembangunan TPA regional di Payakumbuh yang sempat jebol.

Kemudian, Sukuk Dae­rah itu juga bisa digunakan untuk pembiyaan rumah Sakit, pelayanan air minum, transportasi, pasar tradisional, tempat perbelanjaan, pusat hiburan, wilayah wisata dan pelestarian alam, terminal dan sub terminal, perumahan dan rumah susun, pelabuhan lokal dan regional. (fan)