BERITA UTAMA

Survei Praxis: Politik Uang tak Lagi Efektif di Pemilu 2024

0
×

Survei Praxis: Politik Uang tak Lagi Efektif di Pemilu 2024

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASi— Politik Uang.

JAKARTA, METRO–Praktik politik uang (money politics) dinilai tak lagi efektif digunakan di Indonesia. Peserta Pemilu 2024 belum tentu akan mendapat suara maksimal dari masyarakat kalau melakukan­nya. Ini merupakan temuan dari hasil survei ketiga yang dilakukan Praxis PR.

“Sebanyak 42,96 per­sen mahasiswa menyata­kan akan menerima uang namun tidak memilih kan­didat. Selanjutnya, 20,08 persen mahasiswa akan menerima uang dan akan memilih kandidat, semen­tara 10,99 persen lainnya menyatakan tidak akan me­nerima uang dan tidak akan memilih kandidat,”  kata Director of Public Affairs Pra­xis PR, Sofyan Herbowo dalam papa­rannya.

Sofyan mengatakan, riset ini menunjukkan pandangan mahasiswa yang independen. Survei ini me­nurutnya membuktikan bahwa praktik politik uang tidak mampu memengaruhi pilihan mereka.

“Saya berharap survei ini dapat mendorong mahasiswa untuk memilih de­ngan bijak demi menjaga keberlanjutan ekosistem demokrasi yang sehat,” ujar Wakil Ketua Umum Public Affairs Forum Indonesia (PAFI) itu.

Analisis berdasarkan Socioeconomic Status (SES) menunjukkan bahwa semakin tinggi SES, praktik politik uang semakin tidak efektif. Data melaporkan 15,94 persen dari kelas atas, 19,89 persen dari kelas menengah, dan 29,21 persen dari kelas bawah mengaku akan menerima uang dan memilih kandidat yang diminta.

“Di sisi lain, 47,51 persen dari upper class, 41,98 persen dari middle class, dan 27,12 persen dari lower class mengatakan akan menerima uang namun tidak memilih kandidat yang diminta,” ujar Sofyan.

Sofyan menyampaikan #PraxiSurvey kali ini dapat menjadi acuan bagi kandidat untuk meninggalkan praktik politik uang yang tidak efektif dalam meraih kemenangan.

“Kandidat diimbau untuk fokus pada penyampaian visi, program kerja, dan karakter yang meyakinkan untuk memenangkan hati pemilih, khususnya pemilih muda,” ucap Sofyan.

Atas hasil survei ini, Ketua Departemen Politik dan Pemerintahan serta koordinator EC Fisipol UGM Abdul Gaffar Karim mengatakan pentingnya memahami aspirasi mahasiswa yang secara strategis berpengaruh pada hasil pemilu. Ini mengingat data Komisi Pemilihan Umum (KPU) menjabarkan daftar pemilih tetap (DPT) usia muda men­capai 53 persen.

“Semoga hasil riset dapat bermanfaat bagi ma­sya­rakat dan para pe­mang­ku kepentingan di Pemilu tahun ini,” ujar Abdul.

Diketahui, survei kali ini mengusung tajuk “Aspirasi dan Preferensi Mahasiswa pada Pemilu 2024”. Sebagai kelanjutan dari riset yang dilaksanakan pada April dan Agustus 2023, survei dilakukan dengan pendekatan mixed method atau menggabungkan metode kuantitatif dan kualitatif.

Riset kuantitatif survei dilaksanakan pada 1-8 Januari 2024 kepada 1.001 mahasiswa dengan rentang usia 16-25 tahun di 34 pro­vinsi di Indonesia. Praxis kemudian berkolaborasi dengan Election Corner (EC) Fisipol UGM untuk mengkaji temuan kuantitatif dengan melakukan riset kualitatif pada 15 Januari 2024.

Riset berformat Focus Group Discussion (FGD) ini melibatkan empat akademisi dan mahasiswa perwakilan Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Mulawarman (Unmul), dan Universitas Nusa Cendana (Undana). (jpnn)