Oleh: Reviandi
Prabowo Subianto bukan nama baru di dunia perpolitikan Indonesia. Karena itu banyak rekam jejaknya yang bisa dinilai oleh siapapun. Mau melihat sisi positifnya, atau melihat negatifnya. Terserah dari sisi mana mau ‘menggambar’ mantan Pangkostrad itu. Prabowo adalah prajurit yang tak lekang oleh zaman dari waktu ke waktu di Indonesia.

Kini, jelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024, Prabowo masuk gelanggang lagi. Tapi hari ini berbeda, dia datang dengan segala-galanya yang lengkap. Bukan datang sebagai oposisi yang tidak disukai pemerintah. Tapi sebaliknya, ‘mewakili’ pemerintah menjadi calon penerus pemerintahan.
Bahkan, Prabowo dalam ‘kampanyenya’ selalu menyebut akan meneruskan apa yang telah dilanjutkan atau dikerjakan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dia berkomitmen untuk melanjutkan program-program yang telah diterapkan Presiden Jokowi jika berhasil memenangkan Pemilu mendatang. Hal yang sebenarnya menjadi jualan Ganjar Pranowo, Capres PDIP.
Pernyataan ini terakhir kembali diungkapkan dalam Puncak Peringatan HUT ke-9 Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Stadion Jatidiri, Semarang, Jawa Tengah beberapa hari lalu. Kata Prabowo, apa yang terbaik dari Jokowi akan teruskan semuanya. Yang kurang akan ditambah, yang perlu disempurnakan, kita sempurnakan. Dan yang harus dilaksanakan, akan segera laksanakan.
Tapi, ternyata ini pula yang membuat Prabowo-Gibran melejit dalam beberapa lembaga survei. Angkanya mencapai 45-46 persen dan jauh meninggalkan pasangan lain di angka 20-an persen saja. Karena, masyarakat yakin, hanya Prabowo-Gibran yang akan melanjutkan program-program unggulan dari Jokowi.
Kini, Prabowo juga paripurna membela Gibran yang dipilih menjadi wakilnya oleh koalisi Indonesia maju (KIM) yang mendukungnya. Dia sampai membantah isu politik dinasti yang selalu disematkan kepada Gibran Rakabuming Raka. Isu politik dinasti mencuat lantaran Joko Widodo disebut berperan menempatkan putra sulungnya itu sebagai Cawapres.
Prabowo malah bercerita dimana-mana, dia dihadapkan dengan beberapa pilihan saat harus menentukan Cawapres. Di antara pilihan itu, termasuk orang-orang yang berpengalaman. Namun, dia sendiri yang akhirnya memilih Gibran. “Saya katakan di sini, saya yang minta, saya yang memilih,” ucapnya di Sentul Convention Center, Bogor, Minggu (10/12/2023).
Dengan begitu, Prabowo membantah pencalonan Gibran merupakan bentuk politik dinasti. Meski Prabowo mengatakan politik dinasti tidak ada salahnya jika bertujuan untuk mengabdi kepada negara. “Kalau keluarga memberi anak-anaknya untuk republik, apa salahnya? Kita harus bersyukur ada keluarga yang memberi anak-anaknya untuk republik ini,” ujarnya.
Prabowo Subianto bercerita, saat dilantik komandan kompi, komandan batalyon, hingga jenderal, banyak yang mengaitkannya dengan ayahnya, Soemitro Djojohadikusumo, dan mertuanya, Soeharto. Dia mengaku sebutan dinasti politik itu tak sepenuhnya benar.
Prabowo juga mulai bersuara soal tudingan-tudingan yang menyebut mereka tidak memiliki gagasan atau program, tapi sibuk dengan gimmick atau pencitraan. Terutama soal identiknya mereka dengan joget atau gemoy. Atau joget gemoy. Meski ini kerap dibantah oleh para jubir dan politisi partai KIM. Semua calon menggunakan gimmick, tapi yang ‘laku’ hanya gimmick dari Prabowo-Gibran. Sementara yang lain tak laku.
Prabowo mulai menjawab sejumlah ejekan yang tertuju kepada mereka. Ejekan-ejakan itu berupa seringnya joget hingga politik dinasti. Prabowo menyebut, bangsa kita Indonesia memang senang joget. Dia mempersilahkam timnya untuk melakukan kampanye dengan berjoget bila gagasan telah disampaikan. Prabowo mengatakan bahwa Presiden pertama Indonesia, Soekarno, juga suka joget.
Awalnya Prabowo mengingatkan agar 65 hari sisa waktu kampanye agar digunakan dengan menyampaikan gagasan dan strategi. Setelah gagasan disampaikan, Prabowo mengatakan boleh saja untuk joget. Prabowo mengatakan setiap suku di Indonesia memiliki tarian. Sampai Presiden pertama Indonesia Sukarno atau Bung Karno suka joget. “Bung Karno aja suka joget kok, gue ada kok fotonya. Mau lihat?” ucapnya.
Dua hal ini memang menjadi sasaran empuk bagi lawan-lawan politik Prabowo untuk menyerang mereka. Karena memang, politik dinasti dan joget-joget bisa dikaitkan dengan hal-hal yang dibenci oleh masyarakat. Meski ternyata apa yang dibaca dan disampaikan lembaga survei bertolak belakang. Dua faktor ini yang membuat Prabowo lebih dikenal dan dicintai.
Prabowo diyakini akan melakoni Pilpres terakhirnya 2024 ini. Mungkin apa yang dikatakan tokoh pendiri bangsa Tan Malaka ada benarnya, “Pada pukulan terakhir yang menentukan, kita hanya bisa mendapat kemenangan, jika kita juga mengambil inisiatif bertahan. Agar supaya pukulan terakhir yang menentukan itu dapat mewujudkan tujuan kita.” Kita lihat hari ini Prabowo menang di atas. Tapi semua akan pasti 14 Februari 2024. (Wartawan Utama)





