RISAU melihat kampungnya masih jauh dari sentuhan pembangunan, Aswandi, putra Kumpulan, Bonjol, Kabupaten Pasaman, membulatkan tekad melangkah mantap melangkah menuju kursi DPR-RI, setelah usahanya sukses di rantau.
“Saya akan berjuang untuk memperbaiki kehidupan masyarakat melalui partai politik, sehingga memutuskan maju menjadi calon legislatif untuk DPR-RI,” kata Aswandi.
Langkahnya tak mudah. Perlu waktu panjang untuk meyakinkan isteri dan anak-anaknya. Butuh perjuangan untuk meyakinkan keluarga besarnya. Hampir satu setengah tahun lamanya, Ia kemudian mendapatkan restu keluarga.
Aswandi datang tidak membawa janji, tetapi hadir dengan konsep. Apalagi, sejak reformasi, belum satu pun putra Pasaman yang pernah menjadi anggota DPR-RI. Caleg-caleg datang silih berganti ke daerahnya, setelah mendapatkan suara dan duduk di Senayan, mereka seakan melupakan Pasaman. Lalu datang kembali lima tahun kemudian. Begitu seterusnya.
“Jika putra Pasaman yang menjadi wakil rakyat di Senayan, tentu Ia akan berpikir untuk kampungnya dan untuk daerah yang diwakilinya,” kata Aswandi yang kesehariannya bekerja dibidang jasa konstruksi di Pekanbaru, Riau.
Aswandi menyebutkan, meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat, tak bisa berharap dan menggandalkan pemerintah daerah saja. Pendapatan asli daerah (PAD) kabupaten minim, APBD juga kecil. APBD yang kecil tersebut, sebahagian besar terserap untuk belanja pegawai. Kenyataan ini membuat pembangunan daerah tidak bisa maksimal.
“Perlu ada yang berjuang di pusat untuk membawa anggaran pembangunan ke daerah,” katanya sembari menyebutkan, didasarkan semangat dan impian tersebut, Ia memantapkan diri untuk melangkah.
Pilihannya, kata Aswandi, berjuangan dengan berbagai kemungkinan dan pengorbanan, atau menyerah dengan kondisi yang tidak akan mengubah apa pun.
“Saya pilih, berjuangan untuk kesejahteraan masyarakat dikemudian hari,” katanya mantap.
Tahap awal perjuangannya tersebut, Ia sudah keluar masuk kampung. Ia melakukan silaturrahmi dengan berbagai lapisan masyarakat. Menjemput aspirasi rakyat dengan melihat kondisi riil di lapangan, dan tentu saja berharap dukungan, sebab untuk bisa sampai di Senayan, menjadi wakil rakyat di DPR-RI, tidak akan bisa dilakukan jika tidak mendapatkan dukungan dari rakyat yang akan diwakili.
Aswandi menyebutkan, dirinya selalu mengingat pesan ketua umum partainya. Perhatian kepada masyarakat kecil merupakan landasan utama perjuangannya. Tidak boleh setengah-setengah.
“Rasakan langsung denyut nadi kehidupan masyarakat di lapangan, sehingga kita benar-benar dapat merasakan apa yang dialami masyarakat,” katanya.
Ia memberikan contoh. Banyak daerah yang sesungguhnya memiliki potensi ekonomi besar, namun tidak digarap maksimal. Pupuk langka, petani menjerit, tapi nyaris tak ada yang mendengarkan. Rakyat berjuangan dengan kemampuan mereka yang terbatas untuk bertahan hidup.
Aswandi akan melangkah ke Senayan melalui Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan. Ia melihat tantangan yang sedikit lebih berat, sebab diakuinya, saat ini, PDI Perjuangan kurang mendapatkan tempat di hati masyarakat Sumbar.
“Setiap saya bertemu masyarakat, semuanya menanyakan perihal tersebut. Kok bersama PDI Perjuangan, Pak?” kata Aswandi menyebutkan pertanyaan-pertanyaan masyarakat.
Terhadap perihal tersebut, Aswandi menyebutkan, dirinya menjelaskan detail visi perjuangan PDI-Perjuangan sebagai partai nasionalis yang sangat memperhatikan nasib masyarakat kecil. Kepedulian kepada Wong Cilik menjadi akar perjuangan PDI-Perjuangan, ini yang terus saya berikan informasi kepada Masyarakat di daerah pemilihan saya, Dapil Sumbar II.
“Saya maju justru karena terpanggil untuk bergerak memperjuangkan perbaikan kehidupan masyarakat, khususnya di delapan kabupaten dan kota Dapil Sumbar II,” kata Aswandi.
Aswandi tidak menafikan asumsi orang terhadap anggota dewan. Orang “membuat” dua kategori untuk anggota dewan. Pertama, mencari pekerjaan. Kedua, Berjuang untuk rakyat.
Kategori pertama terjadi kepada mereka yang tidak punya pekerjaan tetap, sehingga duduk sebagai wakil rakyat untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Kategori kedua biasanya hanya bisa dilakukan orang-orang yang sudah mapan dalam kehidupannya yang secara ekonomi sudah selesai dengan dirinya sendiri, sehingga fokusnya tidak lagi sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi Ia benar-benar bisa berpikir untuk kepentingan rakyat. (***)






