METRO SUMBAR

Meningkatkan Kinerja Guru melalui Supervisi Akademik Berbasis Coaching

0
×

Meningkatkan Kinerja Guru melalui Supervisi Akademik Berbasis Coaching

Sebarkan artikel ini
Sugiyono, M. Pd (Kepala SMKN 1 Pulau Punjung)

Oleh: Sugiyono, M. Pd (Kepala SMKN 1 Pulau Punjung)

Supervisi akademik dilaksanakan di setiap se­kolah untuk membantu gu­ru mengembangkan ke­mam­­puan­nya ­mencapai­ ­tu­juan penga­jaran.­

Kegiatan su­per­visi akademik dilakukan kepala sekolah, ditujukan kepada guru dengan tujuan memberikan bantuan profesio­nal.Selain itu supervisi akademik juga bertujuan untuk meningkatkan kompetensi profesional maupun kompetensi pedagogik yang akan berdampak pa­da peningkatan kinerja guru-guru di sekolah.

Dalam pelaksanaannya seringkali supervisi akademik dilihat sebagai proses yang satu arah, apalagi dilakukan hanya satu atau dua tahun sekali menjelang akhir tahun pelajaran. Supervisi akademik menjadi sebuah tagihan atau kewajiban para pe­mim­pin sekolah dalam tanggung jawabnya mengevaluasi para tenaga pen­didik.

Mengembangkan kemampuan guru tidak hanya ditekankan pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan mengajar guru, melainkan juga pada peningkatan komitmen, kemauan, atau motivasi guru, sebab dengan meningkatkan kemampuan dan motivasi kerja guru, kualitas akademik akan meningkat. Tanggung ja­wab pelaksanaan supervisi di sekolah adalah kepala sekolah. Oleh karena itu kepala sekolah harus memiliki kompetensi supervisi. Inti dari kegiatan supervisi adalah membantu guru dan berbeda dengan penilaian kinerja guru, mes­kipun di dalam supervisi akademik ada penilaian.

Melaksanakan supervisi akademik secara efektif diperlukan keterampilan konseptual, interpersonal dan teknikal seperti yang disampaikan Glickman da­lam Masnun, 2017. Terkait hal tersebut, setiap kepala sekolah harus memiliki keterampilan teknikal berupa kemampuan menerapkan teknik-teknik supervisi yang tepat dalam melaksanakan supervisi akademik.  Teknik-teknik supervisi akademik meliputi dua macam, yaitu: individual dan kelompok.  Supervisi akademik harus secara langsung mempengaruhi keadaan lingkungan perilaku guru dalam mengelola kelas. Pelaksanaan supervisi akademik oleh kepala sekolah  dapat  meningkatkan  proses  pembelajaran  jika dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip yang berlaku. Oleh karena itu, kepala sekolah sebagai supervisor dituntut untuk mampu melakukan supervisi akademik bagi guru-guru dalam meningkatkanprosespembelajaran.

Guru harus mampu membangkitkan motivasi belajar peserta didik, dan mengedepankan proses elaborasi sehingga perilaku peserta didik yang hendak diukur dapat terlihat dan muncul selama proses pembelajaran dengan mengambil prinsip belajar peserta didik aktif.  Tingkat kemampuan, kebutuhan, minat, dan kematangan profesional serta karakteristik personal guru harus dijadikan dasar pertimbangan dalam pe­ngem­­­­bangan dan me­ng­im­ple­mentasikan program supervisi akademik khu­susnya dalam proses pembelajaran di kelas.  Da­l­am usaha untuk memperbaiki dan meningkatkan proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru, kepala se­kolah bertugas me­nye­lenggarakan serta me­lak­sanakan kegiatan supervisi.

Namun, kenyataan di lapangan pelaksanaan supervisi akademik belum berjalan dengan maksimal. Terdapat permasalahan-permasalahan berbeda dari tujuan supervisi tersebut. Guru masih beranggapan bahwa supervisi akademik adalah proses yang dilakukan kepala sekolah untuk memberikan peni­laian dan mencari kekurangan guru.

Melihat permasalahan tersebut, penulis selaku kepala sekolah sekaligus pengajar praktik pada program guru penggerak Angkatan 6 dan Angkatan 9 Kemendikbud RI tertarik melakukan perubahan da­lam sistem supervisi akademik kepada guru-guru di sekolah SMKN 1 Pulau Punjung. Pelaksanaan supervisi akademik bukan lagi sekedar mengamati dan menyaksikan proses pembelajaran guru. Tetapi lebih kepada proses coaching pada guru untuk mening­katkan kinerjanya sebagai guru di sekolah.

Selain itu proses coaching juga dapat membantu guru dalam mengidentifikasi peluang dan tantangan yang dihadapi. Guru juga terbantu dalam membuat rencana-rencana perbaikan diri dan praktik pembelajaran. Tak kalah pentingnya guru dapat mengidentifikasi dan mengapresiasi capaian yang sudah diraihnya. Mengobservasi dan memberi umpan balik atas praktik yang dilakukan oleh guru. Serta melakukan refleksi bersama terhadap proses pembelajaran yang dilalui.

Fokus pelaksanaan coa­hing untuk supervisi akademik adalah percakapan yang mem­berdaya­kan.Percakapan yang mem­berdayakan tersebut ter­diri dari 4 tahap, yaitu percakapan untuk perencanaan, percakapan untuk pemecahan masalah, percakapan untuk refleksi diri, dan percakapan untuk kalibrasi (evaluasi). Masing-masing percakapan tersebut mempunyai tahap-tahap tersendiri. Seperti kapan dilakukan dan bagaimana melakukannya. Yang perlu diperhatikan adalah saat akan melakukan percakapan coaching, selalu siapkan presence. Mulai dengan menetapkan niat, ingin mendengarkan, ingin mendampingi, ingin menjadi teman berpikir. Jangan membuat janji bertemu saat sedang sibuk.

Pertama, tahap percakapan untuk perenca­naan dilakukan sebelum me­mulai pendampingan kepada coachee. Pendam­pingan bersifat suatu pe­ngembangan jangka pen­dek (3-6 bulan). Yang dibicarakan adalah rencana bersama apa yang ingin dikembangkan coachee Sebelum coachee memulai/terlibat dalam suatu kegiatan atau melakukan suatu tugas, Rencanakan apa yang akan dilakukan dalam kegiatan/tugas ter­sebut.

Percakapan yang dilakukan adalah menanyakan tujuan perencanaan “apa yang ingin dicapai dari kegiatan pengembangan ini?” Kemudian mengidentifikasi dan rencana untuk mengukur keberhasilan program pengembangan. Pastikan ukurannya terukur. Selain itu mengidentifikasi hal-hal yang harus disiapkan atau dikembangkan. Mengidentifikasi hal-hal yang hal-hal yang sudah ada untuk membantu keberhasilan. Terakhir, mengidentifikasi dukungan yang diperlukan. Pada percakapan terakhir di tahap percakapan untuk perencana adalah tanggung jawab. Yaitu percakapan yang dilakukan untuk menyepakati kapan akan melakukan sesi untuk refleksi/kalibrasi.

Pada tahap percakapan untuk perencanaan ini, tidak perlu menggali secara detil. Dapatkan informasi yang cukup spesifik tapi tidak terlalu detil. Pembicaraan sangat detil akan dilakukan di sesi coaching. Saat melakukan percakapan, jangan meminta coa­chee mengisi form. Tapi dapatkan jawaban melalui percakapan.

Kedua,tahap percakapan untuk pemecahan ma­salah dilakukan saat coa­chee mengontak kita karena ia menghadapi masa­lah. Merasa buntu, merasa tidak jelas, merasa tidak berdaya, merasa tidak mam­pu, saat coachee me­nga­lami krisis, atau saat coachee membutuhkan ban­­tuan dari luar. Cara me­lakukannya adalah me­nga­jak coachee menggambarkan masalahnya. Lalu mengajak melihat apa yang ingin dicapainya jika masalah hilang. Mengajak coachee melihat faktor-faktor yang menyebabkan itu terjadi dan faktor-faktor yang bisa membuat hal itu hilang.Mengajak coachee memikirkan apakah memiliki gagasan untuk mengatasinya. Sebelum percakapan berakhir, Coach mengajak coachee menyimpulkan apa yang didapatnya.

Hal lain yang perlu di­per­hatikan pada tahap percakapan untuk pemecahan masalah ini adalah menjaga sikap terbuka, netral dan ingin tahu. Jangan terbawa dalam “problem coachee”. Sering-sering mengajak coachee melihat dari area yang netral/helicopter view.­

Menggunakan gambar/mindmap bisa juga membantu.

Ketiga, percakapan untuk refleksi dilakukan setelah ada aktivitas yang dilakukan oleh coachee. Setelah mengikuti suatu aktivitas. Setelah menyelesaikan suatu tugas. Saat coa­chee sedang ingin merefleksikan diri. Percakapan dilakukan dengan membangun suasana tenang saat melakukan refleksi. Mulai dengan menanyakan apa yang didapat/dirasakan dari event/kegiatan/situasi yang direfleksikan. Tanyakan inspirasi apa yang timbul dari pengalaman/perasaan tersebut. Tanyakan apa yang sekarang jadi diketahui/dipahami/ disadari oleh coachee. Tanyakan dari kesadaran itu apa yang akan dilakukan ke depannya? Tanyakan apa yang didapatkan dari percakapan?

Perlu diperhatikan pada percakapan untuk merefleksi ini adalah saat melakukan percakapan refleksi, beri banyak ruang hening. Izinkan coachee mengungkapkan refleksinya dengan bebas. Jaga presence kita untuk membantu menjaga “ruang” percakapan yang aman dan nyaman bagi coachee.

Keempat, percakapan untuk kalibrasi, dilakukan setiap 3 bulan saat membicarakan kemajuan per­kem­bangan diri. Saat kita/coachee ingin melakukan swanilai kinerja/per­kem­bangannya terhadap suatu standar/kriteria. Saat perlu melakukan penyesuaian ulang atas rencana terhadap standar/kriteria ter­se­butCara melakukannya adalah dengan memastikan kita dalam keadaan mental positif, siap untuk berpikir bersama, mampu hadir sepenuhnya. Pastikan memiliki intensi yang benar.

Ingin terkoneksi bukan mengoreksi. Ingin memahami bukan memberi tahu.  Mulai dengan meminta coachee menilai apa hal-hal yang sudah bagus. Lanjutkan dengan swa-nilai area yang menurut coachee dapat dikem­bangkan lagi. Sampaikan sudut pandang kita sebagai pengamat. Tanyakan kesimpulan dan apa yang akan dilakukan berbeda di kemudian hari.

Saat melakukan percakapan untuk kalibrasi yang perlu diperhatikan adalah selalu mulai dengan hal-hal yang sudah baik. Memberikan penghargaan atas hal-hal yang sudah baik. Lalu menggunakan hal yang sudah baik untuk meningkatkan atau me­ngem­bangkan hal-hal yang belum sesuai target/keinginan. Memberikan umpan balik secara spesifik dan positif. (Sumber: Buku Pegangan Pengajar Praktik PGP Kemendikbutristek RI, 2022).(*)