PASBAR, METRO–Viral ibu muda terpaksa melahirkan di pinggir jalan saat ditandu warga menuju puskesmas gegara buruknya akses jalan. Peristiwa yang sangat miris itu terhadi di Jorong Rurapatontang, Kecamatan Koto Balingka, Kabupaten Pasaman Barat (Pasbar), Sabtu (25/11) sekitar pukul 13.00 WIB
Ibu hamil tersebut bernama Reni (25), warga setempat. Dia ditandu dari rumahnya karena kondisi jalan yang rusak parah. Namun saat baru ditandu sekitar 3 kilometer, Reni merasakan hendak bersalin dan langsung melahirkan di pinggir jalan.
Wali Jorong Rurapatontang, Sapran Nasution mengatakan membenarkan adanya kejadian itu. Menurutnya, ibu hamil tersebut bernama Reni yang merupakan istri dari Suki yang melahirkan di pinggir jalan saat perjalanan menuju puskesmas
“Sebenarnya pasien ini tidak ada kendala apa-apa. Kata bidan jorong bisa melahirkan normal di Pustu, namun pihak Puskesmas mengatakan harus dibawa ke Puskesmas,” kata Sapran saat dihubungi melalui telepon selular, Minggu (26/11).
Lantaran harus dibawa ke Puskemas, kata Sapran, ibu hamil tersebut dibawa oleh warga dengan menggunakan tandu darurat yang dibuat meggunakan kayu dan kain sarung. Namun baru setengah perjalanan, ibu hamil itu melahirkan di pinggir jalan.
“Belum sempat sampai ke tempat mobil yang menunggu, pasien sudah melahirkan di tengah jalan. Setelah melahirkan, warga saya itu tidak jadi dibawa ke Puskemas. Akhirnya dibawa kembali ke kampung dan kondisinya alhamdulillah sehat,” ujarnya.
Menurut Sapran, kondisi seperti ini sangat memberatkan bagi masyarakat. Hal itu dikarenakan kondisi ekonomi warga yang tergolong rendah sehingga memberatkan ketika harus menjaga keluarganya di rumah sakit.
“Pasien ini sebenarnya tidak sanggup untuk ke Puskesmas. Karena terkendala biaya termasuk biaya keluarga yang menunggu,” katanya.
Melahirkan
Dibantu Bidan
Bidan Jorong setempat, Khoirina mengatakan, sebenarnya pada Jumat (24/11), dirinya sudah menyampaikan kepada keluarga pasien untuk dirujuk ke Puskesmas Namun pihak keluarga menolak dengan alasan biaya.
“Oleh karena itu, saya meminta kepada pihak keluarga untuk membuat surat pernyataan tidak bersedia untuk di rujuk. Namun karena aturan yang mengharuskan pelayanan dilakukan di Puskesmas, makanya pasien Sabtu (25/11) dirujuk ke Puskesmas,” kata Khorina yang saat ini masih berstatus sebagai Tenaga Harian Lepas.
Akan tetapi, jelas Khoirina ketika baru di perjalanan menuju Puskesmas pasien mengalami kontraksi hingga akhirnya harus melahirkan di perjalanan.
“Karena pasien sudah kontraksi dan bayi sudah mau keluar, makanya terpaksa kita tangani di perjalanan itu. Saat itu saya juga membawa perlengkapan persalinan Pak, makanya tidak ada kendala,” jelas Khoirina.
Rurapatontang Perkampungan Terpencil
Rurapatontang merupakan sebuah perkampungan terpencil di Kenagarian Pamatangpanjang, Kecamatan Parit, Kabupa-ten Pasaman Barat. Akses jalan utama menuju perkampungan tersebut saat ini kondisinya rusakan parah dan butuh perbaikan yang serius dari pemerintah.
Jalan tanah liat yang berwarna merah dan licin, terlihat jelas jejak garukan putaran roda sepeda motor acak acakan berbekas membelah badan jalan seolah membentuk saluran air.
Jalan yang basah, membuat setiap pengendara roda dua yang melintas mesti berhati-hati. Harus bersusah payah melewati jalanan rusak dan licin, kaki kanan kiri siap menopang jika kendaraan tak seimbang, apalagi dalam kondisi beban berat. Terkadang kabel gas terpaksa dikejut untuk bisa lolos dari lubang jalan.
Tak jarang dijumpai se-peda motor yang terpaksa didorong karena mesin yang terlalu dipaksa tak mampu lagi menanjaki pendakian jalan-jalan licin dan berliku. Sulitnya akses jalan ini sudah dirasakan warga selama bertahun tahun. Kampung Rurapatontang, merupakan kampung paling sudut di Kenagarian Pamatangpanjang. Dikelilingi hutan belantara dan ladang warga.
Kampung ini cukup unik, uda-ranya sejuk karena belum tercemari volusi. Warga-nya sangat ramah-ramah dengan jiwa sosial yang tinggi. Menuju kampung Rurapatontang, hanya satu akses jalan yang dilalui. Tidak ada akses alternatif yang menghubungkan kampung-kampung lain di Kenagarian Pamatangpanjang. Tapi sayang, kondi-sinya sudah rusak parah. Kalau musim penghujan, bagi warga yang takut naik roda dua, terpaksa jalan kaki hingga ketujuan.
Kampung Rurapatontang memiliki jumlah penduduk sekitar 105 KK. Rumah warga yang berada di kemiringan lereng perbukitan, meski sudah ratusan tahun lamanya, baru beberapa tahun belakangan ini bisa menikmati penerangan listrik. Selama ini warga hanya mengandalkan penerangan dari me-sin genset. Untuk sampai ke perkampungan Rurapatontang dari kampung sebelumnya (Pegambiran), panjang jalan yang harus dilalui sekitar 4 Km. Sebenarnya jaraknya tidak terlalu jauh, namun karena akses jalan cukup parah, butuh waktu yang cukup lama untuk sampai ke tujuan.
Sebenarnya, sekitar 3 Km jalan tersebut sudah pernah diperbaiki, namun karena tidak ada pemeliharaan dari pemerintah, jalan tersebut kembali rusak. Apalagi banyak saluran air di pinggir jalan tak berfungsi. Kalau hujan deras datang, air akan berkumpul ke badan jalan dan menggerusnya. Karena tak ada perbaikan, seiring wak-tu kerusakan jalan semakin parah.
Imbas dari kerusakan jalan tersebut, warga pun kesulitan keluar masuk kampung. Yang paling pa-rahnya, warga sulit mengangkut hasil bumi mereka atau kebutuhan masya-rakat. Tidak ada kendaraan roda empat yang melintasi jalan tersebut.
Warga terpaksa mengandalkan kendaraan roda dua untuk mengakut hasil bumi mereka. Sangat terasa bagai-mana sulitnya mereka me-lintasi jalan berkelok-kelok, sempit dan ekstrem de-ngan beban yang cukup berat. Apalagi di musim peng-hujan, jalan licin menjadi tantangan.
Akibat keterbatasan ini, warga mengharapkan perhatian pemerintah untuk peningkatan jalan. Butuhkan alokasi APBD mempercepat ketertinggalan pembangunan di kampung tersebut. Apalagi, beberapa jembatan ada yang tak layak, butuh pembangunan yang permanen.
Wali Jorong Rurapatontang, Sapran Nasution, membenarkan kesulitan warganya saat ini. Dia juga sudah berupaya menghubungi pihak pihak terkait untuk perbaikan jalan itu, namun sampai saat ini belum berhasil.
Katanya, rata-rata penghidupan warganya dari perkebunan dan sa-wah tadah hujan. Akibat sulitnya akses jalan membuat hasil bumi mereka tak bernilai. Warga selalu me-ngeluhkan besarnya biaya transportasi yang harus dikeluarkan. Terkadang hasilnya tak sebanding dengan keringat yang me-reka keluarkan selama ini.
“Tidak ada kendaraan roda empat yang bisa masuk ke kampung kami. Warga hanya mengandalkan roda dua yang daya angkutnya terbatas. Makanya besar biaya yang harus dike-luarkan,”ungkapnya.
Sebagai masyarakat yang tinggal di pelosok, warga kami berharap ada-nya pemerataan pemba-ngunan dari pemerintah. Berharap perekonomian masyarakat bisa mening-kat. Sehingga warga Rurapatontang bisa bersaing dengan kampung kampung lainnya.
“Kalau jalan ini rusak terus, kapan lagi ekonomi masyarakat bangkit. Saya yakin jika jalan ini dibangun kembali, semua kegiatan warga akan lancar, tak ada lagi keluhan biaya atau kost besar,” kata dia.
Sapran juga mengaku bersama perangkat pemerintahan nagari pihak-nya sudah beberapa kali membuat proposal, me-ngusulkan pembangunan jalan ke pemerintah pusat maupun daerah, namun belum berhasil sampai saat ini.
“Atas nama warga Rurapatontang, saya berharap kepada pemerintah, baik provinsi maupun kabupaten Pasaman Barat untuk memperbaiki kembali jalan utama yang kerusakannya saat ini sudah cu-kup parah,” pungkasnya. (end)






