Oleh :Ida Rosiani, S.Pd (Kepala SMAN 1 Timpeh)
Education is the kindling of a flame, not the filling of vessel
Kalimat di atas, diucapkan Sokrates, seorang filsuf Yunani kuno. Ia mengemukakan bahwa pendidikan adalah pengobaran api, bukan pengisian bejana. Pemikiran ini menggambarkan bahwa pendidikan seharusnya bukan hanya sekadar memasukkan informasi ke dalam pikiran seseorang, tetapi juga harus merangsang semangat dan hasrat mereka untuk belajar dan berkembang. (https://indrapedia.com/sokrates2/)
Pendidikan memainkan peran sentral dalam menentukan kemajuan sebuah bangsa. Ilmu pengetahuan berkembang seiring kemajuan teknologi . Tidak ada yang abadi kecuali perubahan (Heracletos, https://katolikindonesia.org/?p=12707).
Pesatnya kemajuan teknologi telah membawa perubahan pada semua lini kehidupan termasuk pada dunia pendidikan, khususnya cara belajar dan mengajar, serta pengadministrasian.
Dalam menjawab tantangan zaman, sangat penting bagi para pendidik dan manajer pendidikan untuk memiliki keterampilan teknologi digital yang kuat. Penerapan teknologi dalam manajerial sekolah merupakan upaya progresif untuk meningkatkan kualitas dan efisiensi sistem pendidikan. Dalam beberapa dekade terakhir, perubahan teknologi telah mempengaruhi hampir setiap aspek kehidupan manusia, termasuk pendidikan.Transformasi ini menawarkan potensi besar untuk meningkatkan pengelolaan pendidikan dari segi administrasi, pengajaran, dan pengelolaan sumber daya.
Konsep “Pelangi Mama Goes” merupakan alternatif transformasi teknologi di SMAN 1 Timpeh. SMAN 1 Timpeh adalah sekolah penggerak di kabupaten Dharmasraya sebagai sekolah penggerak untuk melakukan inovasi dengan memanfaatkan teknologi dalam proses pembelajaran, manajerial dan perencanaan berbasis data.
Digitalisasi sekolah merupakan salah satu prioritas pada sekolah penggerak. Sekolah penggerak dianggap sebagai agen perubahan, dan kepala sekolah tertantang untuk menjadi digital leadership.
Menjawab tantangan zaman di era digital, salah satu strategi yang penulis lakukan adalah Pelangi (Pelatihan Digital) Mama Goes (Managerial Menggunakan Aplikasi Google Site) Tingkatkan Kualitas Kepemimpinan Pembelajaran di SMAN 1 Timpeh.
Penulis sebagai kepala satuan pendidikan menyadari, perubahan cepat dalam dunia pendidikan yang didorong oleh kemajuan teknologi, mengharuskan guru perlu terus mengembangkan keterampilan digital untuk tetap relevan dalam memberikan pengajaran yang efektif. Metoda pembelajaran yang tepat dengan memanfaatkan teknologi telah menjadi suatu keharusan, guru perlu mempersiapkan diri dengan keterampilan digital untuk mengintegrasikan alat dan platform teknologi ke dalam kurikulum. Penulis ingin agar guru dapat menggunakan teknologi untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang inklusif, dinamis, dan responsif terhadap kebutuhan siswa.
Tugas pokok dan fungsi kepala sekolah meliputi Manajerial, Supervisi dan kewirausahaan (Permendikbud no 40 tahun 2021). Manajerial yang baik pada satuan pendidikan memiliki dampak yang signifikan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Sebagai Manajerial pada satuan pendidikan penulis menginginkan terobosan teknologi untuk mengoptimalkan proses, meningkatkan efisiensi, dan mendukung kemajuan dalam pendidikan yang bermuara pada peningkatan kualitas satuan pendidikan, serta menjadi agen perubahan pada dunia pendidikan. Meningkatkan kemampuan digital dan managerial dengan teknologi pada satuan pendidikan adalah langkah penting dalam menghadapi tuntutan dunia yang semakin terhubung secara digital, namun itu bukan hal yang mudah, tantangan memerlukan kerja keras semua pihak.
Adapun tantangan yang penulis temui diantaranya, pertama; sulitnya melakukan perubahan mindset. Sebagian besar guru masih susah keluar dari zona nyaman, cenderung merasa nyaman dengan metode pengajaran dan lingkungan yang sudah mereka kenal dan kuasai. Hal ini dapat mengakibatkan terbentuknya zona nyaman di mana mereka merasa aman dan terbiasa, sehingga proses inovasi pembelajaran dan proses inovasi manajerial membutuhkan pendekatan dan kolaborasi yang holistik.
Kedua, masih ada guru yang alergi terhadap perubahan dan pembaharuan. Guru yang alergi terhadap perubahan dan pembaharuan seringkali menghadapi kesulitan dalam mengadaptasi ide, metodologi, atau teknologi baru dalam proses pengajaran mereka dan menganggap bahwa hal yang baru hanya akan menambah pekerjaan saja.
Ketiga, Keterbatasan Pengetahuan tentang Penggunaan aplikasi teknologi untuk pembelajaran. Keterbatasan Pengetahuan tentang Penggunaan aplikasi teknologi untuk pembelajaran adalah tantangan yang dapat mempengaruhi kemampuan guru untuk memanfaatkan teknologi secara efektif dalam proses pengajaran. Tidak semua guru memiliki pengetahuan digital yang sama. Beberapa mungkin sudah memiliki dasar pengetahuan dan pengalaman teknologi yang luas, sementara yang lain mungkin masih dalam tahap belajar atau kurang terbiasa dengan teknologi.
Keempat, Mengelola perubahan manajerial. Mengelola perubahan dalam kultur rutinitas sekolah akibat adopsi teknologi, membutuhkan komunikasi yang baik, kepemimpinan yang kuat, dan kesediaan untuk beradaptasi dengan dinamika baru.
Kelima, Kurangnya Integrasi dan Dukungan. Guru merasa sulit untuk mengintegrasikan teknologi ke dalam laporan untuk manajerial kepala sekolah, sehingga menimbulkan sifat yang terkesan tidak peduli dengan pengadministrasian dan managerial, akibatnya dukungan terhadap program managerial menjadi terkendala.
Langkah yang penulis lakukan untuk peningkatan talenta digital guru dan tenaga kependidikan penulis namakan dengan PELANGI (Pelatihan Digital) diawali dengan melakukan evaluasi terhadap tingkat pemahaman dan keterampilan digital para guru melalui supervisi yang penulis lakukan,selanjutnya melakukan identifikasi area di mana mereka memerlukan peningkatan dalam penggunaan teknologi untuk kepentingan pengajaran.
Tahap berikutnya, bersama tim Pengembang Kurikulum dan komite pembelajaran melakukan analisis dan membuat program pelatihan digital berkelanjutan dengan merancang kurikulum pelatihan digital berupa IHT, dan workshop yang mencakup topik-topik yang relevan dan diperlukan oleh para guru. Mulai dari dasar-dasar penggunaan perangkat keras dan perangkat lunak hingga aplikasi teknologi yang terhubung dengan aplikasi manajerial kepala sekolah (MAMA GOES) sehingga dapat meningkatkan kompetensi guru dan kualitas kepemimpinan pembelajaran yang berimbas pada peningkatan proses pembelajaran yang berdiferensiasi berbasis teknologi.
Sosialisasi program pelatihan digital kepada para guru adalah langkah penting yang penulis lakukan untuk memastikan partisipasi dan kesuksesan program tersebut. Untuk naraSumber penulis mendatangkan tenaga profesional yang kompeten di bidangnya dan penulis juga memberdayakan komunitas belajar yang rutin kami laksanakan setiap jumat minggu kedua dan minggu ke empat. Untuk memastikan program berjalan On the track penulis bersama tim melakukan monitoring dan evaluasi serta melakukan PMO.
Talenta digital guru dan kemampuan manajerial dalam menggunakan teknologi bisa diibaratkan sebagai fondasi yang membangun Gedung, jika guru mempunyai talenta digital yang kuat maka manajerial kepala sekolah mempunyai pondasi yang kuat untuk kepemimpinan pembelajaran. Hal ini merujuk pada aplikasi yang penulis gunakan, yaitu penulis membuat portal pada google site yang penulis namakan dengan MAMA GOES. Aplikasi ini terkoneksi pada google site masing masing guru, dan penanggung jawab 8 SNP (Standar Nasional Pendidikan), Perangkat pembelajaran guru (RPP, TP, ATP, Modul ajar), Profil Penguatan Pelajar Pancasila (P5), dan program lainnya. Dengan MAMA GOES kepala sekolah,bisa mengecek administrasi kegiatan sekolah dan kegiatan administrasi guru beserta tendik dengan efektif dan efisien dalam melakukan monitoring dan evaluasi.
Pelatihan digital (Pelangi) bagi guru dan Managerial Menggunakan Aplikasi Google Site (Mama Goes) telah membuka jendela menuju perubahan pada dunia pendidikan di SMAN 1 Timpeh. Pelatihan digital ini tidak hanya tentang menguasai alat teknologi, tetapi juga tentang membangun fondasi yang solid untuk membentuk generasi pendidik masa depan. Pemberdayaan Guru, sebagai garda terdepan dalam proses pembelajaran.
Penulis telah menyaksikan guru-guru berkembang dari awalnya merasa canggung dan ragu menjadi individu yang percaya diri dan inovatif dalam mengaplikasikan teknologi dalam proses pembelajaran.
Penulis selaku Kepala sekolah juga telah memimpin dengan menunjukkan komitmen untuk meningkatkan kualitas Kepemimpinan Pembelajaran dan menyadari bahwa orang yang tidak mau belajar akan berlaku seleksi alam, untuk itu penulis akan terus menjadi guru pembelajar sepanjang hayat, pemberdayaan bakat bakat unggul warga sekolah, memfasilitasi dan mendorong warga sekolah untuk mengupdate dan mengupgrade diri.*






