METRO PESISIRMETRO SUMBAR

Pemkab Lakukan Pemetaan Kerawanan Megathrust, 10 Desa di Mentawai Masuk Zona Merah

0
×

Pemkab Lakukan Pemetaan Kerawanan Megathrust, 10 Desa di Mentawai Masuk Zona Merah

Sebarkan artikel ini

PADANG, METRO – Kabupaten Kepulauan Mentawai menjadi daerah rawan terdampak tsunami. Sedikitnya 26 dari 53 desa di Kepulauan Mentawai butuh perhatian khusus terkait potensi ancaman Megathrust yang diprediksikan para ahli berkekuatan 8,8 Skala Richter (SR).
Bupati Kepulauan Mentawai, Yudas Sabaggalet mengatakan, pihaknya sudah melakukan pemetaan terkait kerawanan Megathrust di Mentawai. Ada kerawanan tinggi, sedang dan rendah. Terdapat 26 desa yang perlu perhatian potensi Megathrust. Dari jumlah ini, hanya 10 desa masuk zona merah.
“Kami di lapangan sudah memetakan potensi dan kerawanan dampak Megathrust. Dan yang masih termonitor paling rawan hanya 10 desa, ang berada di Kecamatan Siberut Utara dan Siberut Barat,” ungkap Yudas Sabaggalet, usai menghadiri Rakor Mitigasi dan Penanganan Bencana Gempa dan Tsunami bersama Kepala BNPB, Kepala BMKG dan Gubernur di Aula Kantor Gubernur Sumbar, baru-baru ini.
Meski begitu, Yudas tetap mengimbau waspada. Salah satunya, melakukan berbagai langkah persiapan penanggulangan bencana. Mulai, melakukan pelatihan siaga tsunami kepada masyarakat dan membentuk desa tangguh bencana. Khususnya, di wilayah kategori tinggi kerawanan bencana dari pelepasan Megathrust.
Maka dari itu pula, sebut Yudas, masyarakat tidak perlu takut karena pemerintah terus mencari solusi terbaik. Megathrust Mentawai sendiri, bahwa diyakini pakar gempa telah berada di periode pelepasan. Namun, masyarakat Sumbar, terutama warga Kepulauan Mentawai diminta tidak panik memikirkan potensi bencana tersebut.
Yudas mengatakan, saat ini pihaknya sedang menyusun upaya untuk menimalisir korban jika memang terjadi pelepasan energi Megathrust Mentawai yang diprediksikan ahli berkekuatan 8,8 Skala Richter (SR). Pihaknya menata pemukiman warga yang berada di tempat yang cenderung tinggi, misalnya di kaki bukit. “Rata-rata sudah ditata. Kalau terjadi apa-apa, langsung ke atas bukit. Ini kearifan lokal, dan masyarakat Mentawai sudah sangat sensitif soal ini,” ujar Yudas.
Dalam kesempatan itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen Doni Monardo menyebutkan, beberapa daftar prioritas bantuan dari pusat di antaranya akan memberikan telepon satelit kepada setiap camat di daerah rawan Kabupaten Mentawai untuk membackup sistem komunikasi.
Lalu, kata Doni, Telkom dibantu TNI nantinya akan membantu memperkuat jaringan komunikasi dan akan memberikan genset, backup untuk listrik PLN, PDAM, atau solar cell komunikasi yang selalu siap siaga. Kemudian, BNPB akan memberikan bantuan penggunaan komunikasi data lewat jaringan internet didukung oleh KOMOB (Komunikasi Mobil) BNPB dengan pengawasan yang ketat dan nantinya harus ada komitmen untuk pemeliharaannya.
Sebelumnya, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan, hasil pemantauan dan BMKG, terdapat delapan zona kegempaan di Indonesia yang patut diwaspadai, dan salah satunya adalah Kepulauan Mentawai.
Berdasarkan pemaparan Kepala BMKG ini, Mentawai berada di posisi pertama yang harus diwaspadai. Hal ini mengacu pada analisis yang dilakukan para peneliti kegempaan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Dwikorita juga mengatakan bahwa zona di Kepulauan Mentawai menjadi fokus prioritas BMKG meski ada zona lain di Sulawesi. Disebutkan juga, sebagian energi zona di Sulawesi sudah lepas dan mungkin hanya berjaga-jaga di sekitar kurang lebih 50 tahun yang akan datang. (mil)

Baca Juga  Plt Gubernur Audy Joinaldy, Tekankan Pentingnya Peningkatan Kompetensi Ahli Bedah