METRO PADANG

Keasrian Pulau Pandan, Rumah bagi Penyu Hijau, Lanjutkan KWT Gunung Padang dan Wisata Pulau Kecil

0
×

Keasrian Pulau Pandan, Rumah bagi Penyu Hijau, Lanjutkan KWT Gunung Padang dan Wisata Pulau Kecil

Sebarkan artikel ini
KUNJUNGI PULAU PANDAN— Wako Hendri Septa bersama rombongan LKKPN Pekanbaru, mengunjungi Pulau Pandan yang terletak sekitar 22,5 kilometer dari Muaro Padang, Sabtu (11/11). Pulau berada dalam Taman Wisata Perairan (TWP) Pieh itu, menjadi rumah bagi ratusan ribu penyu yang dilindungi terutama penyu hijau.

PADANG, METRO–Loka Kawasan Konservasi Perairan Nasional (LKKPN) Pekanbaru mengunjungi Kota Padang dalam upaya mengem­bang­kan wisata pulau-pulau kecil yang ada di ba­gian barat Kota Padang. Wako Hendri Septa menyebut baik keikutsertaan LKKPN Pekanbaru itu.

“Atas nama Pemerintah Kota Padang kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada LKKPN Pekanbaru telah membantu Pemerintah Kota Padang dalam mengembangkan pulau – pulau kecil di Kota Padang. Salah satunya Pulau Pan­dan yang telah dijadikan tempat konservasi penyu,” ucap Wako Hendri Septa, Sabtu (11/11), saat me­ngun­jungi Pulau Pandan.

Wako Hendri Septa me­nam­bahkan, pengembangan pulau-pulau kecil me­ru­pakan bagian dari program unggulan Pemerintah Kota Padang yaitu, melanjutkan pengembangan Kawasan Wisata Terpadu (KWT) Gunung Pa­dang, pulau-pulau kecil, wilayah timur Kota Padang.

“Sesuai visinya Kota Padang di bidang pariwisata, Pemerintah Kota Pa­dang telah melakukan beberapa upaya. Pertama terkait dengan wisata terpadu gunung Padang, kita sudah bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dalam pe­ngem­bangan kawasan Ko­ta Tua,” kata wako.

Kemudian, pengembangan wisata Bagian Ti­mur, dia menyebut sudah be­kerjasama sama dengan PT. Semen Padang da­lam pengembangan Goa Kelelawar Padayo. Dan, pengembangan pulau ke­cil-kecil bekerjasama dengan LKKPN.

Wako Hendri Septa berharap, Pulau Pandan ini dapat dikembangkan menjadi salah satu objek wisata berbasis konservasi alam di Kota Padang. Pulau Pandan memiliki banyak potensi diantaranya, vegetasi hutannya masih alami, memiliki bangunan peninggalan zaman Belanda, dikelilingi oleh batu karang, dan memiliki sumber mata air.

Pulau Pandan, salah satu pulau eksotis di sisi barat Kota Padang yang terletak sekitar 22,5 kilometer dari Muaro Padang. Pulau yang berada dalam Taman Wisata Perairan (TWP) Pieh dan pulau sekitarnya itu, menjadi rumah bagi ratusan ribu penyu yang dilindungi terutama penyu hijau.

Pulau Pandan menjadi salah satu penangkaran penyu semi alami yang dikelola Kementerian Ke­lau­­tan dan Perikanan (KKP). Pulau dengan luas se­­kitar 16 hektar itu, masih tam­pak asri dengan pasir pu­tih yang sangat halus.

Berkunjung ke Pulau Pandan, akan menjadi wi­sata bahari yang paling ber­kesan. Selain disapa oleh keeksotisan pasir dan po­hon kelapanya, pengunjung akan diperkenalkan dengan penangkaran pe­nyu semi alami dibawah naungan LKKPN Pekanbaru.

Saat menjalankan ekspedisi ke Pulau Pandan, akhir pekan lalu, wako me­ng­­apre­siasi LKKPN Pekanbaru yang telah mengelola taman kon­­ser­vasi penyu di Pulau Pandan itu. “Terima kasih LKKPN Pekanbaru yang telah bersama mengawasi ser­ta melestarikan penyu di Pu­lau Pandan. Tidak lupa kita im­bau masyarakat agar me­ngun­­jungi pulau yang ma­sih asri ini, ini taman kon­ser­­vasi serta wisata yang me­rupakan aset kita bersama,” katanya.

Sementara itu, Kepala LKKPN Pekanbaru Rahmat Irfansyah mengatakan, Pulau Pandan masuk da­lam kawasan konservasi nasional Pulau Pie yang dikelola oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. Terdapat 3 pulau di Kota Padang yang dikelola, yakni Pulau Pandan, Pulau Air dan Pulau Toran.

“Pulau Pandan ini memiliki luas lebih kurang 16,4 hektar. Dulunya pulau ini bekas penjajahan Belanda. Hari ini kita dari LKKPN mengadakan bersih – bersih Pantai, melihat penangkaran penyu, dan mengunjungi bangunan bersejarah peninggalan Belanda,” sebutnya.

Sejak tahun 2018, total telur penyu yang berhasil diselamatkan oleh LKKPN Pekanbaru sebanyak 122 ribu. Dari jumlah itu, sekitar 90 persen berhasil jadi penyu yaitu penyu lokal dan didominasi penyu hijau. Sekitar bulan Mei, Juni, Juli akan menjadi pendaratan penyu terbanyak dan rilis terbanyak.

“Biasanya akhir tahun akan mengalami penurunan,” kata Ilham.

Terlihat dalam penang­karan itu, dituliskan berbagai informasi. Diantaranya, nomor sarang, jenis penyu, jumlah telur yang ditemukan di pesisir, tanggal ditemukan, dan prediksi atau waktu perkiraan menetas.

“Biasanya dalam 60 ha­ri bakal menetas. Tapi ini tergantung kondisi panasnya pasir, adanya yang perkiraan kita bakal menetas dalam dua hari ke de­pan, namun sudah menetas satu atau dua hari yang lalu,” katanya.

Kondisi penetasan telur penyu juga tergantung cuaca. Jika curah hujan tinggi, maka penetasan juga akan semakin lambat. “Penyu melakukan pendaratan dominannya saat malam hari, sekitar pukul 02.00 atau 03.00 pagi. Nanti sekitar pukul 04.00 hingga 08.00 akan kita cek dan pindahkan ke penangkaran, lalu diberi tanda,” tutur Ilham lagi.

Dalam pengumpulan telur penyu, tim penangkaran penyu LKKPN yang merupakan warga lokal Kota Padang akan menyisi pantai dari utara ke selatan. Namun, saat berkunjung ke Pulau Pandan tim Pemko Padang tidak sempat melihat perilisan pe­nyu. Sebab, waktu rilisnya hanya saat matahari akan terbenam.

“Konservasi penyu merupakan program nasional. Seluruh penyu yang kita temukan disini dilindungi tidak bisa dimanfaatkan,” tutupnya. (brm)