METRO PADANG

Januari, Ditemukan 48 Kasus DBD di Padang

0
×

Januari, Ditemukan 48 Kasus DBD di Padang

Sebarkan artikel ini

AIAPACAH, METRO – Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Padang, Feri Mulyani mengatakan, tren penderita DBD di Kota Padang sejak Januari hingga Februari 2019, menurun jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Meski demikian, DKK dalam waktu dekat akan segera menyosialisasikan gerakan berantas sarang nyamuk di semua kecamatan di Kota Padang.
Feri Mulyani menambahkan, pada Januari 2019, jumlah penderita DBD yang terdata di DKK sebanyak 48 kasus. Sementara pada bulan yang sama pada 2018, jumlah kasus DBD mencapai 60 kasus. Dan memasuki Februari ini, baru tercatat 2 kasus DBD.
“Tren nya sekarang lagi menurun. Tapi meski demikian kita tetap mengimbau warga untuk waspada dan selalu menjaga kebersihan lingkungan,” sebut Feri Mulyani.
Ia menjelaskan, gerakan berantas sarang nyamuk yang sedang disosialisasikan DKK dilakukan dengan gotong royong massal di seluruh titik Kota Padang. Semua masyarakat diimbau untuk bersama-sama membersihkan lingkungan dan menerapkan prinsip tiga M. Yaitu, menguras bak mandi, mengubur barang-barang bekas dan menutup tempat-tempat penampungan air.
Selain goro massal ini terangnya, DKK Padang menurutnya juga aktif melakukan fogging ke rumah-rumah masyarakat. Namun fogging dilakukan pada lokasi-lokasi yang sudah ada korbannya.
“Intinya yang kita fogging adalah lokasi yang ada jentik nyamuknya dan telah ada korbannya,” tegas Feri Mulyani.
Selain sejumlah program tersebut sebutnya, penyuluhan juga selalu dilakukan ke kelompok-kelompok masyarakat. Dikatakan Feri, dengan menjaga kebersihan lingkungan, nyamuk tidak akan bersarang. Nyamuk pembawa demam berdarah kata Feri, akan mudah hidup dan bertelur di genagan air yang bersih dan tempat yang lembap dan gelap.
Terpisah, Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumbar meminta setiap Dinas Kesehatan di kabupaten dan kota agar melakukan surveillance. Artinya melacak sejauh mana penyakit DBD itu menjangkit si korban serta mencari asal atau sumber penyakit tersebut.
”Kita sudah menyurati kepala Dinas Kesehatan kabupaten/kota. Kalau ada satu orang yang terjangkit DBD, maka harus dilakukan surveillance, artinya kita harus melacak sampai sejauh mana kenanya dan dari mana asalnya,” kata Kepala Dinkes Sumbar, Merry Yuliesday, Kamis (7/2) saat dihubungi.
Selain melakukan surveillance, kata Merry, pihaknya juga terus melakukan penyuluhan penyebaran virus DBD yang saat ini lagi mewabah. Menurutnya, sosialisasi kepada masyarakat umum terus dilakukan untuk mencegah meningkatnya kasus DBD di Sumbar.
”Jadi berbagai kegiatan sosialisasi dan penyuluhan tentang bahaya penyakit akibat gigitan nyamuk aedes aegypti tersebut gencar kita lakukan,” ujar Merry.
Merry berkata, kegiatan ini penting dilakukan mengingat data yang dicatat Dinas Kesehatan Sumbar. Dia menyebutkan, hingga akhir Januari 2019 di Sumbar demam berdarah mencapai 236 kasus, dua di antaranya meninggal dunia. Sebagian besar korban tersebut terdiri dari anak-anak usia sekolah.
”Yang paling tinggi ada di Kota Padang dengan jumlah penderita DBD sudah 56 pasien dirujuk ke rumah sakit. Di Pasaman Barat ada sekitar 33 pasien dan di Tanahdatar 24 pasien,” sebut Merry.
Lebih lanjut, kata Merry, berdasarkan data empat bulan terakhir (Oktober, November, Desember dan Januari) terjadi kecenderungan peningkatan dan terjadi kematian. Untuk itu, dia mengingatkan, agar melakukan penggerakan masyarakat dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk (PNS) melalui kegiatan 3 M plus.
”Intinya jangan biarkan nyamuk-nyamuk penyebar virus mematikan ini bebas bersarang di rumah ataupun di lingkungan kita. Melalui gerakan 3 M maka dapat mencegah penyebaran DBD,” ucap Merry.
Satu lagi yang tak kalah penting adalah pengenalan mengenai gejala penyakit tersebut. “Nah, ini akan membantu penanganan medis lebih awal. Masyarakat kita sering rancu sama gejala DBD dengan gejala flu biasa. Misalnya, demam tinggi naik dan turun selama dua hingga tujuh hari, pusing, sakit pada persendian, serta lesu dan nafsu makan berkurang,” imbuh Merry.
Bila penderita berada dalam kondisi yang sudah parah, sambung Merry, biasanya timbul bercak kemerahan di kulit dan sakit pada ulu hati. Karena itu tak jarang penderita mual dan muntah. Sebab itu, dia berharap, agar masyarakat selalu waspada apabila ada keluarganya yang panas atau demam agar segera dibawa ke fasilitas pelayanan kesehatan.
”Kalau sudah merasakan demam tidak sembuh-sembuh dalam dua sampai tiga hari. Sebaiknya langsung dibawa ke rumah sakit supaya penanganan cepat diatasi, jangan ditunggu-tunggu,” pungkas Merry. (tin/mil)