SAWAHLUNTO/SIJUNJUNG

Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus Gandeng Dinas Dikbud Sijunjung, Gelar Seminar Nasional Pendidikan Kesetaraan    

0
×

Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus Gandeng Dinas Dikbud Sijunjung, Gelar Seminar Nasional Pendidikan Kesetaraan    

Sebarkan artikel ini
SAMBUTAN—Bupati Sijunjung, Benny Dwifa Yuswir memberi sambutan saat Seminar Nasional Pendidikan Kesetaraan.

SIJUNJUNG, METRO–Percepatan pendidikan kesetaraan antar perangkat daerah dan komunitas, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sijunjung bekerjasama dengan Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus (PMPK) Kemendikbud­ris­tek menggelar Seminar Nasional Pendidikan Ke­setaraan. Kegiatan yang dilaksanakan di Balairung Lansek Manih, Kantor Bupati Sijunjung Senin (30/10) mengusung tema “Strategi Percepatan Pendidikan Kesetaraan Melalui Kola­borasi Antar Perangkat Daerah dan Komunitas”.

Hadir dalam kegiatan ini, Bupati Sijunjung, Benny Dwifa Yuswir, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sijunjung, Puji Basuki, Wi­dyaprada Ahli Madya Di­rektorat PMPK, Fauzi Eko Pranyono, Analis Kelembagaan Pembinaan Pendidikan PMPK, Rifky, Camat dan Wali Nagari Se-kabupaten Sijunjung serta Para tutor dan tenaga pendidik Se-Kabupaten Sijunjung.

Kegiatan ini merupakan salah satu dari rangkaian rencana kegiatan di Kabupaten Sijunjung yang bertujuan untuk mening­katkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Terutama di pendidikan yang diambil dari angka Rata-rata Lama Sekolah dan angka Harapan Lama Se­kolah. Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Pendi­dikan dan Kebudayaan Ka­bupaten Sijunjung, Puji Basuki. “Pendidikan kesetaraan (Paket A, B dan C) salah satu pendidikan non formal yang menjadi satu-satunya ca­ra untuk menjemput ma­syarakat yang pada saat masa usia se­kolah belum sempat untuk me­nyele­saikan sekolahnya,” jelas Puji.

Kemudian Puji menginformasikan, pada tahun-tahun yang lalu masih banyak masyarakat yang skeptis dengan adanya Pendidikan Kesetaraan seperti Paket C ini. “Namun seka­rang lulusan-lulusan Paket C di Kabupaten Sijunjung sudah banyak yang melanjutkan ke perguruan tinggi dan lulus, contohnya di Universitas Andalas. Harapannya agar kita tidak lagi mengesampingkan ijazah kesetaraan ini,” harap Puji. “Strategi kolaborasi antara perangkat daerah dan komunitas di dalam penyelenggaraan pendidikan di Kabupaten Sijunjung ini keluarannya agar semua pihak dapat turut aktif mendukung program ini,” tambah Puji.

Fauzi Eko Pranyono selaku narasumber sekaligus perwakilan dari Direktorat PMPK menyampaikan, untuk saat ini di Indonesia sedikit sekali Kabupaten Kota yang fokus dengan pendidikan kesetaraan dikaitkan dengan peningkatan IPM. Sijunjung sendiri saat ini masih berada di peringkat 6 terbawah dari seluruh Kabupaten Kota yang ada di Provinsi Sumatera Barat. “Maka dari itu artinya kegiatan seminar dan program strategi kolaborasi antar perangkat daerah dan komunitas pendidikan yang dilaksanakan ini su­dah sangat tepat dilakukan sebagai langkah awal untuk mendongkrak nilai IPM tadi,” ujar Fauzi. “Sa­at ini pemerintah pusat hanya membantu sampai dengan batas usia 24 ta­hun penerima program pendidikan kesetaraan ini. Disinilah fungsi dari kegiatan kolaborasi ini untuk menyatukan program pusat dan daerah agar ba­tasan-batasan tadi bisa dilampaui,” jelas Fauzi.

Bupati Sijunjung, Benny Dwifa Yuswir dalam sambutannya menjelaskan untuk di Sijunjung saat ini mendongkrak nilai IPM memang menjadi tugas prioritas Pemerintah Ka­bupaten (Pemkab) saat ini, karena menyangkut bi­dang utama yakni pendidikan dan kesehatan.

Sosialisasi yang dilakukan Pemkab saat ini masih menemui beberapa kendala diantaranya ke­tidakpahaman masyara­kat usia diatas 25 tahun tentang perlunya pendidikan kesetaraan yakni me­ngambil program Paket C ini. “Banyak masyarakat kami yang merasa jika sudah berusia diatas 25 tahun tidak lagi memerlukan ijazah kesetaraan karena tidak akan terpakai katanya. Tentu ini hal yang tidak kami inginkan,” ujar Benny.

“Maka dari itu bersama dengan Kadis Dikbud kami merealisasikan inovasi Program Pembelajaran Sinergisitas Masya­rakat (Pom Bensim). Program tersebut dibuat sebagai upaya mengatasi masyarakat putus sekolah di Kabupaten Sijunjung,” jelasnya. (ndo)