PAYAKUMBUH/50 KOTA

Harapan Tokoh Pemuda Situjuah Limo Nagari, Presiden Tetapkan Chatib Soelaiman sebagai Pahlawan Nasional

0
×

Harapan Tokoh Pemuda Situjuah Limo Nagari, Presiden Tetapkan Chatib Soelaiman sebagai Pahlawan Nasional

Sebarkan artikel ini
ZIARAH— Tokoh pemuda Kecamatan Situjuah M.Fajar Rillah Vesky saat ziarah ke makam Chatib Sulaiman di Makam Pahlawan Lurah Kincia, Situjuah Batua, Jumat (20/10).

LIMAPULUH KOTA, METRO–Tokoh muda ma­sya­rakat Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota, M. Fajar Rillah Vesky, berharap kepada Presiden Joko Widodo bersama keanggotaan Dewan Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan, agar dapat menetapkan pejuang kemerdekaan Re­publik Indonesia asal Su­matera Barat, Chatib Soelaiman sebagai Pahlawan Nasional.

Harapan tersebut disampaikan M. Fajar Rillah Vesky, usai mendampingi Bupati Safaruddin Datuak Bandaro Rajo beserta pe­ngurus dan Bacaleg Partai Golkar se-Limapuluh Kota, berziarah Ma­kam Pahlawan Lurah Kin­cia, Situjuah Batua, Jumat (20/10). Dimana di makam pahlawan kabupaten ter­sebut, juga terdapat ma­kam Chatib Soe­laiman dan para pe­juang yang gugur dalam Peristiwa Situjuah, 15 Januari 1949.

“Kita berharap kepada Bapak Presiden bersama Dewan Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan, agar dapat menetapkan Chatib Soelaiman sebagai Pahlawan Nasional. Ini sesuai dengan usulan ma­syarakat  melalui Pemprov Sumbar dan Pemko Padangpanjang, serta rekomendasi dari Pemkab Limapuluh Kota dan Pem­kab Tanahdatar,” kata M. Fajar Rillah Vesky.

Menurut M. Fajar Rillah Vesky yang merupakan penulis buku “Tambiluak, Tentang PDRI dan Peristiwa Situjuah”, Cha­tib Soelaiman adalah pe­juang yang tidak hanya menyumbangkan pikiran, gagasan, waktu, dan te­naga untuk merebut kemerdekaan Indonesia, sampai-sampai ditahan Belanda dan Jepang. Bahkan, Chatib Soelaiman merelakan nyawanya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Baca Juga  Bertekad Kembalikan Tradisi Buru Babi yang Beradat dan Bermartabat

“Chatib Soelaiman, pu­tra Sumpur, Singkarak, Tanahdatar, yang melewati masa kecilnya di Pasa Gadang, Kota Padang. Kemudian, memulai pergerakan kebangsaan dari Pa­dangpanjang dan Bukittinggi, lalu kembali ke Padang dan meninggal di Situjuah, Limapuluh Kota, adalah tokoh sentral perjuangan merebut dan mem­pertahankan kemerdekaan Indonesia di Sumbar. Sangat layak beliau ditetapkan jadi Pahlawan Nasional,” kata Fajar Rillah Vesky.

Fajar pun mengutip kenangan yang pernah disampaikan ulama legendaris Ranah Minang, Buya Hamka tentang Chatib Soelaiman. Menurut Buya Hamka, perjuangan di Sumatera Barat tidaklah dapat memisahkan nama Chatib Soelaiman, baik di zaman Belanda atau pendudukan Jepang. Apalagi zaman sesudah Proklamasi.

“Bagi Buya Hamka, Chatib Soelaiman adalah pencinta tanah air sejati, loyal kepada yang di atas, setia kawan, dan keras hati. Buya Hamka juga menyebut Chatib kaya teori, penuh inisiatif, pandai merancang karya besar, tidak suka menonjolkan diri, dan rendah hati sebagai ciri pribadi yang kuat. Jiwanya mencerminkan masyarakat Minangkabau yang kuat berlandaskan ketaqwaaan da­lam agama Islam,” kata Fajar.

Baca Juga  Dinkes Ingatkan Penyakit yang Rentan Terjadi saat Puasa

Tak hanya mengutip kenangan Buya Hamka tentang Chatib Soelaiman, Fajar juga mengutip pernyataan mantan Gubernur Sumbar Marlis Rahman dan sejumlah sejarawan di Sumbar tentang sosok Chatib Soelaiman. Para sejarawan itu termasuk mendiang Profesor Mestika Zed, Profesor Dr. phil. Gusti Asnan, Dr Wannofri Samri, dan Siti Fatimah dari UNP.

Menurut Profesor Gusti Asnan, Chatib Soelaiman mulai berjuang untuk kemerdekaan bangsa Indonesia pada era politik represif Belanda. Selain melalui jalur pendidikan (mengepalai HIS Muhammadiyah) dan politik (menjadi pengurus Partai Permmi dan PNI Baru), Chatib Soelaiman juga berjuang melalui ekonomi (mendirikan Bumiputera).

Bahkan, Chatib juga menjadi salah satu aktor utama panggung sejarah perang kemerdekaan Indonesia. Dan, Chatib pun berpulang sesudah rapat merundingkan strategi perjuangan. Chatib Sulaiman dan puluhan suhada lainnya tewas diterjang peluru Belanda segera setelah mereka rapat merundingkan strategi menghadapi serbuan Belanda.

Kematian pada subuh 15 Januari 1949 itu membuktikan bahwa hingga akhir hayatnya, Chatib Sulaiman masih memikirkan dan ikut terlibat dalam upaya mempertahankan kemerdekaan bangsa dan negaranya. Bahkan dia rela menyerahkan jiwa­nya demi bangsa dan n­e­gara. (uus)