METRO PADANG

Pabrik Indarung I Aset Penting, Keterlibatan Pemerintah Pusat hingga Daerah Dibutuhkan

0
×

Pabrik Indarung I Aset Penting, Keterlibatan Pemerintah Pusat hingga Daerah Dibutuhkan

Sebarkan artikel ini
OBSERVASI LAPANGAN— Arkeolog dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan rombongan melakukan Observasi Lapangan Penyusunan Rencana Induk Pelestarian Cagar Budaya di Pabrik Indarung I PT Semen Padang.

INDARUNG, METRO– Arkeolog dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Lutfi Yondri saat kunjungannya ke Pabrik Inda­rung I dalam rangka Observasi Lapangan Penyusunan Rencana Induk Pelestarian Cagar Budaya, menilai secara arkeologi, Pabrik Indarung I PT Semen Padang me­miliki potensi sangat luar biasa. Ka­rena, sangat banyak pengetahuan yang bisa diambil di balik sisa-sisa bangunan lama tersebut.

“Namun, yang paling utama adalah tentang industri semen, terutama bagaimana semen diolah sejak 1913, kemudian berkembang sampai teknologi modern,” kata Arkeolog itu pada saat Observasi Lapangan ke Pabrik Indarung I bersama tim Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendi­dikan, Kebudayaan, Riset dan Tek­nologi (Kemendikbudristek), Senin (9/10).

Di samping itu, jangan biarkan Pabrik Indarung I ini berdiri sendiri. Unsur penting lainnya yang ikut menunjang, seperti kelistrikan dan sumber bahan baku juga harus menjadi bagian dari pengelolaan Cagar Budaya Nasional. Apalagi, Pabrik Indarung I ini juga diusulkan menjadi warisan dunia.

“Indarung I ini aset penting dan Semen Padang dalam pengelolaannya tidak bisa sendiri. Harus ada keter­libatan Pemerintah Kota, Pemerintah Provinsi dan Nasional,” ungkap alumni Magister Humaniora Ar­keo­logi Universitas Indonesia (UI) asal Bukittinggi itu.

Menurut Lutfi, keterlibatan pemerintah daerah hingga pusat sangat dibutuhkan, karena butuh dana yang besar, terutama da­lam hal revitalisasi dan merekontruksi penge­ta­huan­nya atau militerasi ten­tang sejarah dari Pabrik Indarung I yang nantinya bisa menjadi sumber pe­nge­tahuan. Karena, rekonstruksi pengetahuan itu sejalan dengan bukti fisik.

“Revitalisasi ini butuh dana besar. Dan, walaupun sulit Pabrik Indarung I ini dihidupkan kembali, minimal kita bisa membuat video atau film animasinya yang bisa menggambarkan pabrik ini beroperasi pada zamannya, sehingga mudah dicerna generasi sekarang ini. Dengan demi­kian keberadaan Pabrik Indarung I ini nantinya tidak hanya cerita,” ujar Lutfi.

Hal yang sama juga disampaikan Pamong Budaya Ahli Utama Bidang Pemusiuman Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemendikbudristek Siswanto. Secara pribadi dia menilai potensi Pabrik Indarung I luar biasa untuk dimanfaatkan, terutama sebagai museum situs ataupun museum industri.

Baca Juga  Andre : Tak ada Penolakan Kampanye Sandi

Untuk itu, siapa pun pengelolanya nanti, dia berharap keberadaan Pa­brik Indarung I menjadi tempat edukasi ilmu pe­nge­tahuan, sehingga generasi sekarang mengetahui bagaimana sejarah dari berdirinya Pabrik Indarung I.

“Indarung I ini pabrik semen pertama di Asia Tenggara dan sangat potensial dikembangkan sebagai museum industri atau museum situs, sehingga orang yang datang ber­kunjung ke Pabrik Indarung I ini bisa berinteraksi langsung kepada bendanya, koleksinya, dan situsnya, sehingga edukasi ilmu pe­nge­tahuan ada di situ. Apalagi, di Indonesia belum ada museum situs,” katanya.

Kemudian, terkait kunjungan lapangan ke Pabrik Indarung I, Siswanto menyampaikan bahwa kunjungan ini bertujuan untuk merancang rencana induk kelestarian cagar budaya nasional. Dan, dari kunjungan ini pihaknya akan men­cari praktik baik dan praktik buruk, sekaligus bagaimana pengelolaan cagar budaya Nasional Pabrik Indarung I.

“Kemarin, kami sudah mengimpun bagaimana pengelolaan-pengelolaannya, mulai dari regulasi, tata kelola, masyarakat, dan pemerintah daerahnya, termasuk Semen Pa­dang, bagaimana pengelolaan rencananya dan sebagainya. karena yang kami susun nanti adalah, bagaimana dalam pelestarian cagar budaya nasional itu memperhatikan rekomendasi-rekomendasi dari TACBN. Namun, yang penting adalah kelestarian dari cagar budaya itu sendiri,” katanya.

Selain itu, katanya me­la­njutkan, yang lebih penting lagi bagaimana dampak pelestarian dan pemanfaatan cagar budaya tersebut, dan dampaknya terhadap masyarakat seperti apa, serta dampak terhadap cagar budaya itu sendiri juga seperti apa. “Tapi yang jelas, bagaimana Semen Padang dan pemerintah daerah memperhatikan rekomendasi dari TACBN. Karena, kami sepakat ini untuk diperhatikan,” ujarnya.

Kepala Unit Humas & Kesekretariatan PT Semen Padang Nur Anita Rahmawati menyampaikan bahwa Pabrik Indarung I telah ditetapkan sebagai kawasan Cagar Budaya Nasional pada Februari 2023. Dan, di dalam kawasan Cagar Budaya Nasional ini, juga terdapat PLTA Rasak Bungo yang didirikan 1908. Pada era Pemerintahan Hindia Belanda, pabrik semen ini bernama NV Nederlandsch Indische Portland Cement Maatschappij (NIPCM).

Baca Juga  Andre Rosiade Minta Calon Ketum KONI Sumbar Jualan Program

Anita menyebut Pabrik Indarung I memulai sejarahnya pada tahun 1906, saat seorang perwira Belanda berkebangsaan Jerman bernama Carl Christophus Lau, mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk dapat mendirikan pabrik semen di Indarung, Padang. Begitu dibangun pada 18 Maret 1910, Pabrik Indarung I mulai beroperasi di tahun 1913 dengan kapasitas produksi sebesar 22,9 ribu ton semen per tahun.

Pabrik semen ini memiliki 5 Kiln. Untuk Klin pertama yang selesai dibangun pada 1911, kapasitas pro­duksi sebesar 76,5 ton semen per hari, sama dengan Klin kedua yang dibangun pada 1912. Pada tahun 1939, Pabrik Indarung I meningkatkan kapasitas produksinya menjadi 170 ribu ton semen per tahun. Peningkatan produksi semen ini pun dilakukan dengan menambah jumlah Kiln ­dari 2 menjadi 5.

Menurut Anita, Pabrik Indarung I ini merupakan satu kesatuan dengan Tam­bang Batubara di Sa­wah­lunto dan Emma Haven atau Pelabuhan Teluk Ba­yur Padang. “Kenapa kami sebut sebagai satu kesatuan? Karena, Batubara untuk memproduksi semen berasal dari Tambang Batubara Sawahlunto dan untuk pendistribusian semennya ke berbagai negara di dunia, melalui Pelabuhan Em­ma Haven,” kata Anita.

Observasi Lapangan ke Pabrik Indarung I itu turut dihadiri Pamong Budaya Ahli Madya dari Di­rek­torat Jenderal Kebudayaan Kemendikbudris­tek, Vera Imelda, beserta Analis Budaya Muhammad Ikli, dan juga Anggota Tim Ker­ja Warisan Budaya yang Dilindungi. Kemudian, juga hadir Tim Ahli Cagar Budaya Nasional (TAC­BN) R. Widiati, Dosen Arkeologi Universitas Indonesia Ghilman Assilmi, dan Kabid Kebudayaan Dinas Pen­d­idikan dan Kebuda­yaan Pemerintah Kota Pa­dang Syamdani. (ren/rel)