Oleh: Reviandi
Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan mengakhiri masa dua periodenya pada 20 Oktober 2024 mendatang. Ada sekitar setahun lagi kekuasaan Jokowi di Indonesia sejak 20 Oktober 2014 lalu. Banyak hal yang telah dilakukan, tapi ada juga yang tidak dilakukan. Baik itu masuk dalam program prioritas, masih ada yang merasa kurang puas. Meski hampir semua lembaga survei menyebut, tingkat kepuasan terhadap Jokowi sangat tinggi, menyentuh 80 persen.
Tapi, yang sekarang santer dibahas adalah, siapa yang akan melanjutkan kekuasaan itu. Berbeda dengan Presiden Indonesia 2004-2014 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Jokowi lebih ‘realistis’ melihat kondisi. Saat SBY ‘gagal’ mengkader anak-anaknya dalam eksekutif, Jokowi setidaknya sudah punya satu. Anak tertuanya Gibran Rakabuming Raka, kini menjabat Wali Kota Solo atau Surakarta, Jawa Tengah (Jateng).
Bahkan, suami dari anaknya Kahiyang Ayu, Bobby Nasution sedang menjabat Wali Kota Medan, Sumatra Utara (Sumut). Bahkan, putra bungsunya Kaesang Pangarep, pekan lalu juga resmi menjadi Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menggantikan Giring Ganesha eks vokalis Band Nidji. Hebohlah negeri, karena Jokowi benar-benar sedang mempersiapkan anak-menantunya dalam kekuasaan.
Jelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024, Jokowi yang menyebut ingin fokus mengurus keluarga, sepertinya tidak begitu saja dipercaya. Banyak yang menyebut, Gibran akan dimajukan menjadi calon wakil Presiden 2024. Menariknya, bukan untuk maju dari PDI Perjuangan, tapi malah mendampingi Prabowo Subianto.
Awalnya, isu itu hanya samar-samar pascaadanya gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK) yang menggugat batas minimal usia Capres-Cawapres 35 tahun. Gugatan dilakukan oleh sejumlah kepala daerah muda, yang beberapa orangnya berasal dari Partai Gerindra. Umur 35 juga sangat cocok dengan usia Gibran yang lahir lahir pada 1 Oktober 1987 atau berusia 36 tahun hari ini.
Sekarang, Partai Gerindra sepertinya sudah terang benderang menyatakan mendukung Gibran sebagai Bacawapres Prabowo. DPC Gerindra Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Provinsi Banten mengusulkan Gibran Rakabuming Raka untuk menjadi Bacawapres Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di Pilpres 2024.
Usulan tersebut diambil usai DPC Gerindra Tangsel melaksanakan Rapat Koordinasi Cabang (Rakorcab) di BSD, Tangsel, Minggu (8/10/2023). Ketua DPC Gerindra Kota Tangerang Selatan Li Claudia Chandra mengatakan, rakorcab ini bertujuan untuk meningkatkan soliditas antara kader dan simpatisan.
“Rakorcab ini dilaksanakan untuk meningkatkan soliditas antara kader dan simpatisan dalam rangka memenangkan Pak Prabowo Presiden dan Gerindra menang di Pemilu 2024 mendatang,” ujar Claudia.
Claudia lantas mengungkapkan, Rakorcab DPC Gerindra Tangsel telah menghasilkan rekomendasi berupa usulan Gibran menjadi bakal cawapres Prabowo. “Dalam rakorcab ini, kami DPC Gerindra Kota Tangerang Selatan memberikan rekomendasi, yaitu mengusulan Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka untuk menjadi cawapres Pak Prabowo di Pilpres 2024 mendatang,” katanya.
Ketua Harian Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad yang hadir langsung di lokasi menyebut bahwa usulan Gibran menjadi cawapres Prabowo tersebut merupakan hasil resmi dari rapat DPC Gerindra Tangsel. Ia kemudian memastikan bahwa Gerindra pusat akan mempertimbangkan usulan yang masuk. “Kami pikir itu adalah aspirasi dari cabang yang nanti menjadi salah satu pertimbangan dari calon presiden Partai Gerindra juga untuk menentukan wakil presiden,” ujar Dasco.
Pegiat media sosial (medsos) Denny Siregar mengunggah video berjudul ‘Surat Cinta untuk Bapak Jokowi’ yang isinya kritik dan pengingat atas langkah politik anak-anak Presiden Joko Widodo (Jokowi). Kader PSI yang juga menggeluti dunia medsos, Ade Armando, heran dengan Denny Siregar.
Dalam video tersebut, Denny Siregar mengungkit gugatan usai capres-cawapres di MK yang dihubung-hubungkan dengan Gibran Rakabuming. Selain itu, dia juga mengomentari soal Kaesang yang menjadi Ketum PSI. Lewat konten tersebut, Denny mengaku menyampaikan rasa khawatirnya terhadap Presiden Jokowi yang dia cintai.
“Banyak yang marah dengan video saya ‘Surat Cinta Untuk Pak Jokowi’. Mereka bilang saya sudah mulai menyerang presiden karena mendukung Prabowo,” kata Denny di akun medsos X.
Akhirnya, politik dinasti yang awalnya tak begitu dikenal, sejak era reformasi dan rezim Pilkada serentak terus mengemuka. Pengertian politik dinasti, di situs mkri.id milik MK dapat diartikan sebagai sebuah kekuasaan politik yang dijalankan oleh sekelompok orang yang masih terkait dalam hubungan keluarga. Dinasti politik lebih identik dengan kerajaan. sebab kekuasaan akan diwariskan secara turun temurun dari ayah kepada anak. Agar kekuasaan akan tetap berada di lingkaran keluarga.
Menilik hal itu, maka peluang terjadinya politik dinasti terbuka lebar saat ini. Apalagi MK telah membatalkan UU Pilkada Nomor 8 Tahun 2015 Pasal 7 huruf r mengatur tentang bagaimana cara menjadi calon kepala daerah melalui Pilkada serentak. Dalam pasal itu, seseorang yang mempunyai hubungan darah atau konflik kepentingan dengan incumbent tidak diperbolehkan maju menjadi calon kepala daerah. Pascadicabut, tentu menjadi lampu hijau kembali. Begitu juga dengan tingkat Pilpres.
Dosen ilmu politik Fisipol UGM, A.G.N. Ari Dwipayana pernah mengatakan, tren politik kekerabatan itu sebagai gejala neopatrimonialistik. Benihnya sudah lama berakar secara tradisional. Yakni berupa sistem patrimonial, yang mengutamakan regenerasi politik berdasarkan ikatan genealogis, ketimbang merit system, dalam menimbang prestasi.
Pada akhirnya, semua akan menjadi “beban” tersendiri bagi Presiden Jokowi. Ada yang menduga, Jokowi tak akan melepas Gibran menjadi calon wakil Presiden. Karena takut akan terpatri pada rakyat Indonesia, Jokowi identik dengan politik dinasti. Yang akan meruntuhkan 10 tahun kekuasaan Jokowi yang dianggap sempurna itu. Tapi hal itu bisa jadi diabaikan Jokowi, karena peluang anaknya menjadi Wapres 2024 terbuka, dan berpeluang menjadi Presiden 2029 saat umurnya 41 tahun.
Pat Riley, seorang pelatih basketball dari Amerika Serikat pernah berujar soal dinasti ini. Apalagi mereka yang datang dari kekurangan, akhirnya mendapatkan kekuasaan. Karena kekuasaan itu candu, maka semua ‘halal’ dilakukan. Dia berujar, “Dari bukan siapa-siapa hingga pemula. Dari pemula hingga pesaing. Dari pesaing menjadi pemenang. Dari pemenang menjadi juara. Dari juara ke Dinasti.” Kita lihat saja, bagaimana akhirnya politik dinasti Jokowi ini. Ada atau tidak. (Wartawan Utama)






