PASBAR,METRO–Puluhan warga Nagari Kajai, Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat (Pasbar), melakukan aksi unjuk rasa di Kantor Bupati Pasbar, Selasa (5/9). Aksi itu merupakan bentuk kekecewaan mereka lantaran belum mendapatkan bantuan untuk perbaikan rumah yang rusak akibat gempa.
“Kedatangan kami ini, sudah yang kesekian kalinya, kami mengelar demo di depan kantor Bupati Pasbar ini, kami mendatangi kantor bupati ingin menanyakan kenapa hak korban gempa belum juga diterima,” kata salah seorang korban gempa Mas Hendy.
Mas Hendy menilai Pemkab Pasbar sangat lamban dalam menangani permasalahan bantuan gempa. Padahal, sudah satu tahun lebih nasib masyarakat yang menjadi korban gempa masih terkatung-katung.
“Hak warga korban gempa hingga saat ini belum disalurkan sudah lebih dari satu tahun gempa yang terjadi 25 Februari 2022 lalu,” ujarnya.
Menurutnya, ada sekitar 300 warga korban gempa tahun 2022 di Pasbar yang belum menerima bantuan. “Bupati harus segera merekomendasikan dana pusat Rp 50 juta per orang bagi rumah rusak berat agar segera dicairkan,” tegasnya.
Salain itu, bagi rumah rusak berat, sedang dan ringan yang sudah didata ulang segera dibuatkan surat keputusannya. Jika tuntutan mereka belum dikabulkan maka mereka akan tetap bertahan di kantor bupati.
“Kami sudah mempersiapkan bekal selama aksi berlangsung satu bulan ini sampai 30 September 2023,” ujarnya.
Mereka mendatangi kantor bupati mempertanyakan terkait bantuan korban gempa karena dari janji Pemkab Pasbar. Dari hasil pertemuan terakhir akan diselesaikan pada 1 Agustus 2023. Namun, kenyataannya hingga saat ini belum selesai.
Kepala Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Pasbar, Defi Irawan saat menyambut warga korban gempa mengatakan tim teknis dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sata ini sedang melakukan pendataan korban gempa di Kecamatan Talamau.
“Seluruh tim verifikasi sedang di lapangan saat ini. Mudah-mudahan segera selesai. Jjika masyarakat ingin bertemu dan berdiskusi dengan bupati maka ditunggu pada Rabu sore (6/9). Mari berdiskusi nanti bagaimana solusinya agar persoalan ini dapat cepat selesai,” ujarnya.
Pantauan di lapangan, massa yang menggelar aksi terlihat didominasi oleh kaum ibu dan juga kaum bapak dan anak-anak. Setelah aksi tersebut selesai, maka para warga korban gempa tersebut menginap di sebuah bangunan milik warga di Jalan Jalur 32 Pasaman Baru. Mereka enggan pulang sebelum Bupati mengabulkan permintaan nya. (end)






