Oleh: Reviandi
Kursi DPR RI dari Dapil Sumbar 1 yang diperebutkan berjumlah 8. Namun, para calon yang memperebutkannya amatlah banyak. Maksimal, 144 orang akan memperebutkannya, meski saat daftar Caleg sementara (DCS) diumumkan, jumlah yang tertera belum 100 persen. Masih ada partai politik yang mendaftarkan Bacalegnya kurang dari jumlah kursi yang tersedia.
Yang menarik, 7 dari 8 incumbent atau yang menjabat saat ini kembali bertarung di 11 Kabupaten dan Kota itu. Satu orang yang tidak maju lagi adalah anggota Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) Asli Chaidir yang kini telah berusia 71 tahun. Asli sudah dua periode menjadi anggota DPR RI, 2014-2019 dan 2019-2024. 2019 lalu, Asli mendapatkan 70.057 suara, berada di urutan dua kursi PAN di bawah Athari Ghauti Ardi dengan 82.982 suara.
Asli tak meninggalkan kursi begitu saja, dia menempatkan anaknya Dean Asli Chaidir sebagai pengganti. Namun, berbeda dengan Asli Chaidir yang dua Pemilu berturut-turut berada di nomor urut 2, Dean hanya mendapatkan nomor urut 4, di bawah Andi Tridesliana, Asnawi Bahar dan Banta Tjut Isya. Dean lebih baik dari Athari yang kebagian nomor urut 5.
Secara hitung-hitungan raihan kursi, PAN 2024 diprediksi tidak akan lagi mendapatkan dua kursi seperti sebelumnya. Karena, berkurangnya nama-nama beken pada susunan Caleg dan banyaknya tokoh di partai lain. Andai PAN hanya mendapatkan satu kursi, maka nama yang akan bersaing diperkirakan hanya 3 saja, yaitu Athari, Dean Asli Chaidir dan mantan Ketua KADIN dan Asita pusat, Asnawi Bahar.
Meski kuatnya partai lain, PAN sejak 1999 konsisten mengirimkan wakilnya ke DPR RI. Bahkan, dua kursi 2019 adalah bukti, PAN masih menjadi partai ‘urang awak,’ sejak era reformasi. Namun, pindahnya Shadiq Pasadigoe ke Partai NasDem sedikit banyaknya akan mengubah suara PAN. 2019, Shadiq mendapatkan suara ketiga di bawah Asli Chaidir, lebih dari 50 ribu suara.
Pilihan Shadiq itu masuk akal. Karena pada 2019, NasDem meloloskan satu kursi ke Senayan atas nama Lisda Hendrajoni ‘hanya’ dengan suara 37.326. Kini, mantan Bupati Tanahdatar dua periode itu begitu pede bisa mengambil satu kursi dari NasDem, meski hanya duduk di nomor urut 4. Suara dari Luak Nan Tuo, Tanahdatar dan Padangpanjang akan menjadi basis utama Shadiq. 2014 istrinya, Betty Shadiq juga sempat lolos ke Senayan dengan suara sekitar 70 ribuan juga.
Tapi, Shadiq tentu harus mengalahkan Lisda Hendrajoni yang ditempatkan partainya di nomor urut 1. Meski sang suami Hendrajoni tak lagi menjadi Bupati Pessel, Lisda sudah belajar banyak sejak dilantik menjadi anggota DPR RI 2019 lalu. Dia tidak hanya mengambil basis kampung halaman suaminya di Pessel, tapi juga bergerak di Dharmasraya dan Kota Padang.
Nomor urut 2 NasDem patut juga diperhitungkan, karena seorang anak muda yang lumayan pekerja keras dan punya logistik yang kuat. Dia adalah Irwan Afriadi yang dikenal dengan Irwan Sangir. Kini menjadi anggota DPRD Sumbar setelah terpilih 2014 dan 2019. Dengan basis Solok Raya (Solsel, Kota Solok dan Kabupaten Solok), Irwan diperkirakan bisa membuat perubahan.
Selain itu, NasDem juga masih diisi oleh Suherman yang begitu banyak baliho dan bilboardnya di Sumbar 1. 2019 Suherman adalah Caleg DPR RI dari PKB dan 2020 sempat ‘hijrah’ ke Partai Golkar jelang Pilkada, meski tak diusung partainya maju Pilgub Sumbar atau Pilbup Dharmasraya.
Nama lain yang juga kuat di NasDem adalah Fauzi Bahar di nomor urut 6 yang pastinya tidak ada yang tahu. Wali Kota Padang dua periode yang pernah maju dua kali Pilgub Sumbar dan alumni Caleg DPR 2019 dari partai yang sama. Masih ada nama mantan pelatih Timnas Nilmaizar yang sudah dua Pemilu kalah di Dapil Sumbar 2, membawa perhitungan di Dapil 1. Ada juga nama Marlis, mantan anggota DPRD Sumbar.
Sebagai partai terkuat hari ini, Gerindra disebut masih akan menempatkan dua kadernya di Senayan 2024. Meski ada lembaga survei yang memperdiksi, Gerindra bisa mendapatkan tiga kursi. Nama incumbent Andre Rosiade yang kini berada di nomor urut 1 itu disebut-sebut akan melenggang mulus, bahkan membawa suara signifikan. 2019, Andre duduk dengan suara 133.994 yang tertinggi di Sumbar 1. Kini, diperkirakan suaranya akan lebih lagi.
Kursi lain yang bisa diisi oleh Gerindra diperkirakan masih ditempati pemilik nomor urut 4 Suir Syam yang Pemilu sebelumnya mendapatkan 51.556 suara. Mantan wali kota Padangpanjang 2 periode itu bisa saja ditempel ketat oleh Wakil Ketua DPRD Solsel Armen Syahjohan di nomor urut 7. Juga ada nama mantan calon Bupati Solok Nofi Candra di nomor urut 7 dan Edriana yang 2019 mendapatkan 35 ribu suara di nomor urut 2.
Partai Golkar, meski tidak terlalu bersinar, diperkirakan masih akan mengunci satu kursi di DPR. Nama Darul Siska di nomor urut 1 bisa saja kalah dengan calon yang sedang mengejarnya. Maklum, 2019 lalu, dia hanya mendapatkan 26.920 suara dari 122.473 total suara partai. Suara itu kalau tidak hati-hati, Darul Siska bisa disalip nomor urut dua Zigo Rolanda, Ketua DPRD Solsel, Ketua Golkar Solsel dan anak dari Ketua DPD Golkar Sumbar Khairunas.
Diperkirakan, Darul dan Zigo akan bersaing ketat dan meninggalkan nama-nama lain seperti nomor urut 3 Evelinda, 4 Weno Aulia, 5 Febri Hendri Antoni Arief, 6 Hirni Sudarti, 7 Yuherman dan 8 Teddy Alfonso. Bukan mendistreditkan calon lain, namun dua nama teratas memang sudah masif bergerak dengan tandem-tandemnya.
Sementara partai yang kini berkuasa di Sumbar, PKS masih memungkinkan akan mendapatkan satu kursi DPR RI. Tapi, nama Hermanto kini agak tersaingi oleh pendatang baru. Hermanto yang 2019 meraih 50.146 dari 167.103 total suara partai ditempatkan partainya di nomor urut 2. Sementara nomor urut 1 diisi kader muda PKS Rahmat Saleh yang sudah dua periode menjadi anggota DPRD Sumbar. Rahmat begitu masif memasang baliho besarnya di Sumbar 1.
Nama lain yang bisa membahayakan Hermanto adalah istri dari Gubernur Sumbar Mahyeldi, yaitu Harneli Bahar Mahyeldi. Berada di nomor urut 3, Harneli bisa membuat ‘perang’ segi tiga terjadi di Dapil Sumbar 1. Karena nama-nama lain diperkirakan kurang bersinar di Dapil, seperti nomor urut 4 Hendri Susanto, 5 Muhammad Zuhrizul, 6 Sri Handayani, 7 Fardi Nizar dan 8 Ibrahim Irwan Prayitno. Meski yang terakhir adalah putra Irwan Prayitno, tapi namanya belum setenar orang tuanya dan baru memulai hari.
Langganan kursi DPR RI lainnya adalah Partai Demokrat yang masih menempatkan Darizal Basir di nomor urut 1. Darizal 2019 lalu mendapatkan 65.877 suara dari 172.224 total suara partainya. Suara itu diperkirakan masih akan langgeng dan sanagt susah dilawan oleh kader-kader lain. Mungkin yang akan mencoba melawannya adalah Wakil Ketua DPRD Sumbar Suwirpen Suib yang asli orang Solok dan berbasis suara di Kota Padang.
Nama-nama lain seperti nomor urut 2 Imelda Sari, 4 Yandri Sudarso, 5 Syafrizal Bahar, 6 Iva Dewi Permata, 7 Ichwan Ruslan dan 8 Hasanuddin As harus berjuang lebih keras lagi. Minimal, mereka memanfaatkan momen Pemilu ini untuk langkah awal dan mencoba menatap Pilkada Kabupaten dan Kota 2024. Seperti halnya Bupati Tanahdatar Eka Putra yang kalah di Pileg 2019, menang Pilkada 2020.
Selain partai-partai itu, partai lain juga masih bisa mendapatkan peluang kursi. Apalagi jika PAN tidak mampu mempertahankan kursi keduanya. Partai itu bisa saja PDIP yang masih diisi nomor 1 Alex Indra Lukman, nomor 2 mantan Kapolda dan mantan caln Gubernur Fakhrizal, 3 Leli Arni, 4 Zahra Mardiah, 5 Nurhamin, 6 Edi Yosepson, 7 Ariani dan 8 Ashelfine.
Partai Persatuan Pembangunan (PPP) juga bisa meraih kursi terakhir, 7 atau 8 jika serius menggarap Dapil 1. Karena ada nama mantan bupati Solok dua periode Gusmal di nomor urut 1 dan mantan Bendahara Golkar Sumbar Erick Hariyona di nomor urut 8. Erick adalah putra dari Emma Yohanna, anggota DPD RI dan Hariadi, Ketua DPW PPP Sumbar. Sayang, nama-nama lain PPP juga belum memberikan jaminan suara, seperti nomor urut 2 Denisriyatul, 3 Dasrizal, 4 Nanda Yura Putra, 5 Yuspar, 6 Sri Liza Novia dan 7 Iyo Hadi Sista.
Partai lain seperti PKB, Partai Buruh, Partai Gelora, PKN, Hanura, Partai Garuda, PBB, PSI, Perindo dan Partai Umat diperkirakan masih akan sulit mendapatkan kursi di Dapil Sumbar 1. Kecuali PKB, partai lainnya malah diperkirakan masih belum lolos parliamentary threshold (PT) oleh sejumlah lembaga survei. Bagi yang masih ragu-ragu, baiknya dengar pesan Ali Bin Abi Thalib, “Sisihkan gelombang-gelombang kerisauan dengan kekuatan kesabaran dan keyakinan.” Selamat berjuang yang masih di anggap anak bawang, jangan sombong yang katanya sudah terbang melayang. (Wartawan Utama)






