BERITA UTAMA

Terkait Insiden Intimidasi di Masjid Raya, Polda Sumbar Minta Maaf ke Wartawan

0
×

Terkait Insiden Intimidasi di Masjid Raya, Polda Sumbar Minta Maaf ke Wartawan

Sebarkan artikel ini
MINTA MAAF— Kabid Humas Polda Sumbar Kombes Pol Dwi Sulistyawan menyampaikan permintaan maaf kepada wartawan terkait insiden intimidasi di Masjid Raya Sumbar.

PADANG, METRO–Polda Sumbar me­nyam­paikan permohonan maaf terkait insiden yang terjadi antara petugas kepolisian dengan wartawan yang me­lakukan peliputan saat pe­ngamanan pengunjuk rasa selama enam hari di Kantor Gubernur Sumbar maupun saat pemulangan warga Air Bangis di Masjid Raya Sum­bar, pada Sabtu (5/8).

Pemintaan maaf itu di­sam­paikan oleh Kabid­hu­mas Polda Sumbar Kombes Pol Dwi Sulistyawan, saat menggelar kegiatan ke­mitraan dengan awak war­tawan yang posko di Polda Sumbar, Senin (7/8).

“Atas nama Kapolda Sum­bar, kami me­nyam­pai­kan permohonan maaf bila ada anggota yang me­laku­kan kesalahan saat melaku­kan pengamanan tersebut. Kami berharap kemitraan antara Polri de­ngan awak wartawan, khu­susnya Polda Sumbar dan Polres jajaran tetap terjaga dengan baik,” ungkap Kom­­bes Pol Dwi.

Menurut Kombes Pol Dwi, ketika proses pemu­langan paksa masyarakat Air Bangis berlangsung , kondisi di lapangan sempat chaos dan tidak kondusif. Sehingga cukup sulit bagi aparat untuk membedakan an­tara massa aksi yang akan dipulangkan dengan jurnalis yang tengah bertugas.

“Gesekan dan keter­singgungan adalah hal yang biasa. Apalagi situasi saat itu sangat chaos dan sangat memungkinkan ba­gi seseorang untuk berbuat di luar kesadaran karena mengedepankan emosio­nal. Saya mewakili Polda Sumbar, menyampaikan maaf kepada rekan-rekan jurnalis, masyarakat Sum­bar serta seluruh pihak yang merasa tersinggung, tersakiti atau bahkan ter­intimidasi,” ungkapnya.

Baca Juga  Jadi Buronan, Pencuri Motor Diciduk di Kebun Sawit

Diketahui, sejumlah war­ta­wan yang sedang meliput proses pemulangan massa pengunjuk rasa dari Air Bangis di Masjid Raya Sum­bar sempat mendapatkan kekerasan, intimidasi dan penghalangan oleh perso­nel kepolisian.

Saat itu, sedang terjadi kerusuhan dalam proses pemulangan masyarakat Air Bangis Kabupaten Pa­sa­man Barat, yang berta­han di loka­si, setelah meng­gelar de­mon­strasi sejak 31 Juli hingga 4 Agustus 2023 di Kantor Gubernur Su­ma­tera Barat.

Berdasarkan data dari AJI Padang, ada empat orang jurnalis yang menjadi korban. Jurnalis Tribun­news Nandito Putra, dipi­ting oleh polisi berpakaian bebas saat sedang me­rekam kondisi sambil live streaming untuk media­nya. Ia sebelumnya juga dilarang mengambil gam­bar dan ponselnya juga berupaya direnggut.

Nandito menjelaskan, sekitar jam 15.30 WIB, diri­nya sedang melakukan sia­ran langsung di Facebook Tribunpadang.com dan me­re­kam situasi pemulangan warag Jorong Pigogah Pati Bubur di pelataran Masjid Raya Sumbar.

Mulanya kegiatan sia­ran langsung berjalan lan­car tanpa ada gangguan. Setelah dua menit mere­kam kondisi warga, dirinya mengarahkan kamera ke arah aparat polisi yang sedang menarik-narik seo­rang perempuan.

“Saya mengikuti keru­munan itu hingga jarak lebih kurang tiga meter. Namun tiba-tiba saat saya merekam, tiba-tiba datang beberapa orang berpa­kaian preman dan menarik saya. handphone saya sem­pat diambil paksa. Lalu apa­rat tersebut menanya­kan apa tujuan saya dan saya menjelaskan kalau saya sedang liputan,” katanya.

Baca Juga  Pengedar Terciduk Bawa 8 Paket Sabu di Kota Padang

Ketua AJI Padang Aidil Ichlas juga mendapatkan an­caman dari petugas yang sama saat berupaya mele­paskan Nandito. Beberapa menit kemudian, sejumlah perwira dari Polresta Pa­dang menengahi dan me­minta maaf kepada para jurnalis tersebut.

Tidak hanya itu, peri­laku intimidasi juga dialami oleh Dasril Jurnalis Padang TV. Saat itu, Dasril sedang mengambil gambar pe­nangkapan salah satu pen­damping dari LBH Padang.

Tiba-tiba ada salah satu pihak dari kepolisian meng­halangi kamera Dasril un­tuk merekam. “Sudah-su­dah jangan direkam lagi,” kata salah seorang polisi kepada Dasril. Menda­patkan perlakuan tersebut, Dasril tetap melanjutkan.

Selain itu, Zulia Yan­dani, seorang jurnalis pe­rem­puan dari Clasyy FM juga mengalami kekerasan dalam kericuhan itu. Lia saat itu baru selesai salat dan mendengar kericuhan di lantai I Masjid Raya Sumbar. “Saya sedang me­rekam, tiba-tiba didatangi dua orang dan bertanya tentang tanda pengenal saya,” katanya.

“Saya sudah mene­rang­kan kalau wartawan, tetapi mereka tetap me­narik saya dan meng­ang­kat kedua kaki saya. Saya hendak dibawa ke mobil,” katanya. (rgr)