PADANG, METRO–Polda Sumbar menyampaikan permohonan maaf terkait insiden yang terjadi antara petugas kepolisian dengan wartawan yang melakukan peliputan saat pengamanan pengunjuk rasa selama enam hari di Kantor Gubernur Sumbar maupun saat pemulangan warga Air Bangis di Masjid Raya Sumbar, pada Sabtu (5/8).
Pemintaan maaf itu disampaikan oleh Kabidhumas Polda Sumbar Kombes Pol Dwi Sulistyawan, saat menggelar kegiatan kemitraan dengan awak wartawan yang posko di Polda Sumbar, Senin (7/8).
“Atas nama Kapolda Sumbar, kami menyampaikan permohonan maaf bila ada anggota yang melakukan kesalahan saat melakukan pengamanan tersebut. Kami berharap kemitraan antara Polri dengan awak wartawan, khususnya Polda Sumbar dan Polres jajaran tetap terjaga dengan baik,” ungkap Kombes Pol Dwi.
Menurut Kombes Pol Dwi, ketika proses pemulangan paksa masyarakat Air Bangis berlangsung , kondisi di lapangan sempat chaos dan tidak kondusif. Sehingga cukup sulit bagi aparat untuk membedakan antara massa aksi yang akan dipulangkan dengan jurnalis yang tengah bertugas.
“Gesekan dan ketersinggungan adalah hal yang biasa. Apalagi situasi saat itu sangat chaos dan sangat memungkinkan bagi seseorang untuk berbuat di luar kesadaran karena mengedepankan emosional. Saya mewakili Polda Sumbar, menyampaikan maaf kepada rekan-rekan jurnalis, masyarakat Sumbar serta seluruh pihak yang merasa tersinggung, tersakiti atau bahkan terintimidasi,” ungkapnya.
Diketahui, sejumlah wartawan yang sedang meliput proses pemulangan massa pengunjuk rasa dari Air Bangis di Masjid Raya Sumbar sempat mendapatkan kekerasan, intimidasi dan penghalangan oleh personel kepolisian.
Saat itu, sedang terjadi kerusuhan dalam proses pemulangan masyarakat Air Bangis Kabupaten Pasaman Barat, yang bertahan di lokasi, setelah menggelar demonstrasi sejak 31 Juli hingga 4 Agustus 2023 di Kantor Gubernur Sumatera Barat.
Berdasarkan data dari AJI Padang, ada empat orang jurnalis yang menjadi korban. Jurnalis Tribunnews Nandito Putra, dipiting oleh polisi berpakaian bebas saat sedang merekam kondisi sambil live streaming untuk medianya. Ia sebelumnya juga dilarang mengambil gambar dan ponselnya juga berupaya direnggut.
Nandito menjelaskan, sekitar jam 15.30 WIB, dirinya sedang melakukan siaran langsung di Facebook Tribunpadang.com dan merekam situasi pemulangan warag Jorong Pigogah Pati Bubur di pelataran Masjid Raya Sumbar.
Mulanya kegiatan siaran langsung berjalan lancar tanpa ada gangguan. Setelah dua menit merekam kondisi warga, dirinya mengarahkan kamera ke arah aparat polisi yang sedang menarik-narik seorang perempuan.
“Saya mengikuti kerumunan itu hingga jarak lebih kurang tiga meter. Namun tiba-tiba saat saya merekam, tiba-tiba datang beberapa orang berpakaian preman dan menarik saya. handphone saya sempat diambil paksa. Lalu aparat tersebut menanyakan apa tujuan saya dan saya menjelaskan kalau saya sedang liputan,” katanya.
Ketua AJI Padang Aidil Ichlas juga mendapatkan ancaman dari petugas yang sama saat berupaya melepaskan Nandito. Beberapa menit kemudian, sejumlah perwira dari Polresta Padang menengahi dan meminta maaf kepada para jurnalis tersebut.
Tidak hanya itu, perilaku intimidasi juga dialami oleh Dasril Jurnalis Padang TV. Saat itu, Dasril sedang mengambil gambar penangkapan salah satu pendamping dari LBH Padang.
Tiba-tiba ada salah satu pihak dari kepolisian menghalangi kamera Dasril untuk merekam. “Sudah-sudah jangan direkam lagi,” kata salah seorang polisi kepada Dasril. Mendapatkan perlakuan tersebut, Dasril tetap melanjutkan.
Selain itu, Zulia Yandani, seorang jurnalis perempuan dari Clasyy FM juga mengalami kekerasan dalam kericuhan itu. Lia saat itu baru selesai salat dan mendengar kericuhan di lantai I Masjid Raya Sumbar. “Saya sedang merekam, tiba-tiba didatangi dua orang dan bertanya tentang tanda pengenal saya,” katanya.
“Saya sudah menerangkan kalau wartawan, tetapi mereka tetap menarik saya dan mengangkat kedua kaki saya. Saya hendak dibawa ke mobil,” katanya. (rgr)





